Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Gossip Bermula


__ADS_3

Kantin sudah dalam keadaan sepi, tak ada seorang karyawan pun yang berada di sana kecuali Bayu dan Diandra, padahal waktu istirahat siang masih ada 30 menit lagi.


Diandra sudah berhenti menangis, tapi masih sesekali terdengar isakan lirih dari mulutnya. Sedangkan Bayu dengan sabar menenangkannya.


"Maafkan aku ya, Ra.... Seandainya aku tahu kejadian yang menimpamu seperti itu, aku tak akan bertanya dan mengungkit luka lama." Bayu memberikan sebotol air mineral yang sudah dibukanya untuk Diandra minum. Diandra meneguk sedikit air tersebut lalu meletakkannya di meja.


"Kamu istirahat dulu saja di ruang klinik, sampai perasaanmu tenang, aku temani, nanti aku bilang sama Pak Fahri." saran Bayu.


"Rara ga apa-apa kok, kak... Kalau kakak mau, Rara bisa lanjut ceritanya." Diandra berusaha mengulas segaris senyum di bibirnya, berusaha untuk tegar.


"Sudah... Nanti kakak tanya sama kakakmu saja. Tenangkan hatimu dulu. Kalau mau langsung kerja juga tidak apa-apa, sekarang tenangkan dulu hatimu." Bayu mengusap lembut kepala Diandra.


"Apa keluarga pakde mu masih mengganggu kehidupan kalian?" tanya Bayu sembari menggeser bangkunya sedikit menjauh dari Diandra.


"Lima tahun ini mereka nggak berbuat apa-apa kak, tapi sebelumnya ada saja yang mereka perbuat, sepertinya mereka belum tahu rumah kakek yang sekarang." jawab Diandra.


"Memangnya kalian berpindah-pindah?" tanya Bayu.


"Sepuluh tahun ini kami pindah 4 kali kak, karena selalu saja ada masalah, entah itu usaha kakek yang tiba-tiba merugi besar sampai yang terakhir kemarin kebakaran. Beruntung tidak ada korban, karena pada saat itu aku kuliah, kak Danu kerja sementara kakek mengantar nenek ke rumah sakit." jawab Diandra sedih.


"Kebakaran? Penyebabnya apa?" tanya Bayu kaget.


"Kata tim forensik karena korsleting listrik." jawab Diandra. "Padahal rumah itu dibeli dari uang tabungan kakek selama bertahun-tahun demi bisa kasih kami tempat tinggal yang lebih baik. Kakek dan nenek merasa bersalah karena tidak bisa memberikan tempat tinggal sebagus rumah ayah dulu. Padahal buat Kak Danu dan Rara asal ada tempat berteduh dan berkumpul bersama mereka berdua itu sudah lebih dari cukup." sambung Diandra sambil meremas jari jemarinya yang salong bertautan.


"Lalu kalian pindah ke rumah yang sekarang?" tanya Bayu.


"Iya kak, kita ngontrak, karena uang tabungan Kak Danu belum cukup untuk membeli rumah. Sedangkan uang hasil penjualan tanah dari rumah yang terbakar itu digunakan kakek untuk menyewa ruko dan membeli sembako untuk dijual. Beruntung aku sekolah selalu dapat beasiswa, jadi bisa sedikit meringankan beban kakek nenek dan juga Kak Danu." jawab Diandra panjang lebar, "Dan lebih bersyukur lagi posisi kakak sekarang lumayan tinggi di kantornya, dan juga usaha sembako kakek semakin berkembang." sambung Diandra.


"Syukurlah.... Apakah kalian tidak terpikir untuk merebut kembali hak kalian berdua?" tanya Bayu lagi.


"Yang kami inginkan hanya satu kak.... Mengungkap siapa dalang dibalik kematian ayah dan ibu, walau kami yakin itu adalah pakde Suwito dan pakde Bagyo, tapi kami sama sekali tidak ada bukti." jawab Diandra geram, matanya memancarkan amarah dan juga dendam.


"Jangan khawatir, aku dan Haryo pasti bantu. Cuci mukamu dulu sebelum kembali ke ruanganmu, kuantar. Tapi kalau ingin istirahat dulu juga nggak apa-apa, nanti aku bilang Pak Fahri." ucap Bayu sembari membantu merapikan kotak makan Diandra, karena waktu istirahat sudah berakhir.


"Aku sendirian aja ga apa-apa kok, kak. Kak Bay ngga usah khawatir." sahut Diandra sambil tersenyum.


"Big no, aku sudah bikin kamu sedih, jadi harus tanggung jawab!" tegas Bayu.

__ADS_1


"Whuidih.... Tanggung jawab katanya, kaya aku lagi hamil anak Kak BayBay aja, hehehehehe.... " sahut Diandra sambil terkekeh geli.


"Emang mau hamil anakku?" tanya Bayu serius yang spontan membuat wajah Diandra merah karena malu.


"Dih... Nggak lah!" sahut Diandra cepat sambil bergegas berdiri dan berjalan meninggalkan Bayu yang tersenyum geli melihat wajah Diandra yang memerah, lalu buru-buru dia berlari menyusul Diandra.


"Ra.... Rara... Raraku... Tunggu ah!" Bayu meraih tangan Diandra, "Makanya ngomong dipikir, kan malu sendiri. Lagian mana berani aku aneh-aneh ke kamu, yang ada nanti bisa dibunuh Danu sama Haryo, hahahaha...." gelak Bayu.


"Nggak ada hubungannya sama Si Muka Batu lah!" gerutu Diandra.


"Ada... Jelas ada..." jawab Bayu getir. Seandainya tak ada perjodohan antara Haryo dan Diandra, tentu Bayu akan senang hati meminang Diandra.


"Buat Rara sih, selain Kak Danu, Rara lebih sayang Kak BayBay daripada Si Muka Batu." Diandra tersenyum manis menampakkan sederet gigi putih yang tersusun rapi.


"Hmmmm... Kakak juga sayang Rara." Bayu mengusap lembut kepala Diandra.


Sesampainya di toilet mereka berpisah, Diandra masuk ke toilet wanita sedangkan Bayu masuk toilet pria.


Dalam toilet wanita, Diandra berpapasan dengan tiga orang karyawati yang baru selesai menggunakan toilet dan sekarang sedang mencuci tangan.


"Eh, itu karyawan baru yang nempelin pak Bayu kan?" tanya salah satu dari mereka yang berwajah tirus dan berbibir tebal.


"Biarkan saja lah, bukan urusan kita. Lagi pula, siapa tahu kalau mereka saling kenal atau mungkin mereka bersaudara, kita kan nggak tahu. Lagipun tadi kelihatannya Pak Bayu juga ngobrol serius dengannya, bukannya ngobrol yang aneh-aneh." sahut karyawan berkacamata berpenampilan sederhana.


"Hana, kau ini terlalu polos, jadi menganggap semua orang itu baik!" bentak si tirus.


"Bukan begitu, kita kan nggak tahu gimana sebenarnya, jadi lebih baik jangan berasumsi, nanti jatuhnya kalau nggak benar itu jadi fitnah. Kalian tahu kan, konsekuensi menyebar fitnah di perusahaan ini?" sahut Hana tenang.


Di dalam cubicle toilet, Diandra hanya menghela nafas panjang.


"Nggak akan jadi fitnah juga kalau itu benar, dan aku yakin kalau si anak baru itu memang tipe perempuan kegatelan!" seru si ikal sambil menarik si tirus keluar dari toilet.


Diandra membuka pintu cubicle dan melangkah ke arah wastafel untuk mencuci tangan.


"Hai, aku Hana... Maafkan teman-temanku tadi ya, mereka memang hobby bergossip." sapa Hana begitu melihat Diandra berdiri di sampingnya.


"Hai, aku Diandra.... Nggak apa-apa, mereka kan hanya menebak saja, nggak masalah." balas Diandra sambil tersenyum dan membasuh tangannya.

__ADS_1


"Kamu di Departemen HSE ya? Aku dari Departemen Keuangan, kalau berkenan, maukah kamu berteman denganku? Yah... Walaupun aku cupu begini, tapi kata orang aku itu teman yang enak diajak ngobrol, hehehehehe...." Hana mengulurkan tangannya dan menatap tulus ke arah Diandra.


"Tentu saja.... Aku belum punya kawan di sini selain Kak Bayu dan teman-teman stu departemen!" Diandra menyambut uluran tangan Hana dengan gembira. Karena baru kali ini ada yang menawarkan diri untuk berteman dengannya dengan tulus.


"Besok makan siang sama-sama ya, aku jemput di departemenmu. Boleh tukaran nomor WA?" tanya Hana sumringah.


"Boleh...." Diandra segera memberikan nomor ponselnya kepada Hana, "By the way, Kak Bayu itu sahabat kakakku sejak kecil dulu, jadi ya mau nggak mau aku akrab juga dengan Kak Bayu." ucap Diandra menjelaskan pada Hana.


"Hehehehe.... Nggak perlu menjelaskan padaku, aku sudah merasa kalau hubungan kalian dekat dari dulu, karena kan Pak Bayu itu anti cewek, sama kaya Pak Haryo, CEO kita, makanya 99% karyawan di perusahaan ini adalah lelaki." Hana terkekeh geli. "Eh, aku duluan ya, ada meeting ini, sampai lupa... Nanti WA aku ya Di..." Hana buru-buru pergi keluar dari toilet dan Diandra hanya melambai padanya.


Setelah selesai mencuci muka dan tangannya, Diandra melangkah keluar dan terlihat Bayu sudah menunggunya.


"Kirain kakak sudah balik ke ruangan kakak!" Diandra merasa tidak enak karena Bayu sepertinya menunggu lumayan lama.


"Nggak apa-apa. Yuk!" Bayu merangkul bahu Diandra.


"Kak, di kantor jangan gini-gini amat, jadi gossip nanti, tadi aja udah jadi gossip." Diandra melepaskan tangan Bayu dari bahunya.


"Hmmmm.... Iya deh, payah... Sama ade aja ga boleh rangkulan!" gumam Bayu.


"Ga rangkulan juga kan Rara tetap ade manis Kak BayBay, heheheheh...." Diandra mengedipkan sebelah matanya ke arah Bayu.


"Dih gemesnyaaaa!" Bayu mencubit pipi Diandra lalu mengusap lembut kepalanya.


Mereka berjalan beriringan walau beberapa karyawan menatap mereka dengan pandangan penuh tanya sampai di Departemen HSE.


"Masuk, nanti sore pulang sama Kak Bayu, kita makan malam sama-sama, kakak sudah bilang ke kakakmu tadi." pesan Bayu.


"Enggak ah, Rara sama kak Danu aja. Nanti gossipnya malah kemana-mana." tolak Diandra.


"Rara nggak percaya sama kakak?" tanya Bayu seraya menatap mata Diandra.


"Percaya banget kak, tapi Rara nggak mau jadi omongan orang, apalagi jabatan Kak BayBay di sini jauh di atas Rara, takutnya nanti malah gossip yang beredar menjatuhkan Kak BayBay." jawab Diandra membalas tatapan Bayu.


"Kalau percaya ya nurut kakak aja, pulang kerja langsung ke ruangan kakak di lantai 3 ya!" pinta Bayu.


"Iya deh, nurut. Rara tunggu di lobby depan meeting roo aja ya kak." Sahut Diandra.

__ADS_1


"Iya deh, nanti kakak keluar kalau kamu sudah di lobby. Sudah, masuk sana!" Bayu membelai kepala Diandra, lalu berbalik dan melangkah menuju lift untuk kembali ke ruangannya.


"Kak BayBay memang nggak berubah sifatnya, hanya wajah dan tubuhnya yang berubah... Jadi ganteng dan atletis gitu.... Eh... Apaan sih pikiranku...." gumam Diandra, wajahnya memerah karena malu menyadari pikirannya yang traveling ke mana-mana.


__ADS_2