
"Kurang ajar Suwito itu!" geram Haryo.
"Detail kejadiannya gimana, besok kita tanya Danu pas makan siang." sahut Bayu.
"Yo, tentang Rara, sebaiknya jangan katakan dulu tentang perjodohan kalian, Rara kelihatan nggak suka sama sifatmu. Kalau boleh aku jujur, sifat kamu memang berubah 180°. Aku tau ini adalah ajaran keluargamu agar kamu jadi CEO sukses dan disegani. Tapi demi Rara, tolonglah jangan kau perlihatkan. Kamu sudah bersikap seperti itu sejak awal bertemu lagi dengan Rara, jadi wajar kalau Rara bersikap seperti itu ke kamu!" Bayu berkata panjang lebar kepada Haryo.
"Jadi selama ini kamu juga berpikir kalau aku memperlakukanmu seperti pembantu? Sorry Bay..." Haryo menatap Bayu dengan perasaan bersalah.
"Aku nggak pernah mikir begitu! Kata-kata Rara jangan dimasukin hati, dia memang ceplas ceplos!" sahut Bayu sambil menyeruput kopinya.
"Gimana tanggapan Danu nanti, kalau tahu kami dijodohkan?" tanya Haryo gusar.
"Dia akan terima kamu sebagai adik iparnya dengan senang hati, jangan khawatir!" suara Bayu sedikit bergetar saat mengucapkan kalimat itu, nafasnya sesak, seperti ada yang menekan dadanya.
"Sebaiknga kita mulai bantu Danu buat menyelidiki kasus kecelakaan om Suryo dan Tante Rianti. Sepertinya banyak bukti yang dipalsukan." gumam Bayu.
"Iya, kau benar, kita juga harus menyelidiki tentang pemindahtanganan warisan om Suryo, sepertinya Suwito melakukannya secara ilegal demi menguasai harta om Suryo." sahut Haryo.
"Aku menyesal saat itu kita tidak di sini!" sesal Bayu yang diangguki Haryo.
__ADS_1
"Kau bisa bayangkan gimana perasaan Danu dan Rara, di hari pemakaman orang tua mereka, pakde dan budenya mengusir mereka tanpa memberi uang sepeserpun, bahkan tabungan mereka dibekukan." Bayu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi cafe.
"Kenapa mereka nggak berusaha menghubungi kita?" tanya Haryo sambil mengangkat gelas kopinya dan meminumnya sedikit.
"Kamu tahu Kakek Broto dan Nenek Sundari kan, Yo. Walau Tante Rianti menikah dengan Om Suryo, mereka tidak pernah mau menerima sepeserpun uang yang om dan tante berikan setiap bulannya, mereka lebih memilih hidup dengan hasil kerja mereka berdua? Danu dan Rara memikirkan biaya telepon internasional saat itu, mereka nggak mau menambah beban Kakek dan Nenek, jadi ya.... kamu ngerti lah!" jawab Bayu.
"Dimas tau kalau Danu dan Rara tinggal sama Kakek Broto di Pakualamam, tapi sebulan setelahnya, mereka sudah tidak tinggal di sana, kita juga kesana dan rumah itu sudah dibeli orang lain kan?" sambung Bayu.
"Mereka pindah setelah Rara diculik, peristiwa itu meninggalkan trauma mendalam buat Rara." Bayu menghela nafas panjang, masih bertanya-tanya siapa dalang dari penculikan Rara.
"Hah.... Hanya karena uang, mereka sampai tega berbuat seperti itu pada kerabat mereka sendiri." Haryo menyugar rambutnya dengan jari tangannya.
Tiba-tiba dia melihat sosok yang paling dia benci masuk ke dalam area cafe.
"Apa, Yo? Mukamu kelihatan habis lihat sesuatu yang menjijikkan gitu?" tanya Bayu yang lantas mengikuti arah pandangan mata Haryo.
"Kita balik!" Haryo bangkit dari duduknya diikuti Bayu, cepat-cepat mereka melangkahkan kakinya keluar dari cafe. Namun sayang, Sinta menangkap bayangan Haryo, lalu dengan suara manjanya dia berteriak memanggil Haryo dan berlari menghampirinya.
"Mas Haryoooo, kebetulan kita ketemu di sini, ayo temani aku nongkrong di sini!" Sinta melangkahkan kakinya terburu-buru karena Haryo tak ada niatan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Karena kesal Haryo tidak menggubris panggilannya, Sinta pura-pura terjatuh.
"Aw.... Mas Hary, tolongin Sinta, kayanya kaki Sinta terkilir!" pekiknya dramatis, seolah dia sedang menghadapi sakarotul maut.
Tapi boro-boro menolong Sinta, Haryo bahkan tidak menoleh atau menghentikan langkahnya.
Sinta yang tidak dipedulikan merasa dipermalukan oleh Haryo, akhirnya dia dibantu berdiri oleh teman-temannya. Tetapi sayangnya sebagian besar pengunjung cafe banyak yang mengoloknya sebagai seorang wanita tanpa harga diri.
Dengan kesal, Sinta keluar dari cafer dan bergegas pulang, di perjalanan, dia menelepon papanya, Suwito.
"Halo, pa? Papa sama mama harus secepatnya ke rumah Mas Haryo buat membicarakan tanggal pernikahan kami. Sinta mau segera menikah sama Mas Haryo, dia harus jadi milik Sinta!"
"Iya, minggu depan papa sama mama kesana membahas tanggal pernikahan kalian!" jawab Suwito dari seberang.
"Kelamaan, besok malam.... Harus!" desak Sinta.
"Kau pikir kamu siapa main perintah papa harus ini harus itu??" bentak Suwito yang langsung menciutkan nyali Sinta.
"Maaf Pa..."
__ADS_1
"Minggu depan kita kesana. Sudah, jangan telepon-telepon papa lagi, papa sibuk!" bentak Suwito lagi, langsung diputusnya sambungan telepon dari Sinta.
"Aaaah.... Terus sayang.... Terus.... Aaaah....!!!!" Suwito mendesah panjang saat tubuhnya menggelijang hebat. Ya.... dia memang sibuk dengan kebiasaan barunya beberapa tahun terakhir setelah dia menjadi CEO Perwita Corps., sibuk dengan wanita penjaja kenikmatan dunia. Tiada hari tanpa bergumul dengan wanita-wanita bayaran yang berusia muda, mencari kepuasan dunia yang sudah tak pernah dia dapatkan dari istrinya, yang menurutnya sudah tak mengundang selera karena timbunan lemak berlebih di badannya.