
"Yo... Lama nggak ketemu, apa kabar?" Danu bangkit dari duduknya, menyapa Haryo sambil tersenyum walau matanya sudah berkabut.
Haryo menghabur mendekati Danu dan memeluknya erat.
"Akhirnya.... Akhirnya.... Sepuluh tahun aku mencari, akhirnya...." Haryo memeluk Danu dengan erat, mereka sama-sama menitikkan air mata. Tak beda halnya dengan Bayu dan Diandra.
Melihat Diandra meneteskan air mata, Bayu segera mengambil sapu tangan dari sakunya dan menghapus air mata Diandra dengan lembut. Diandra menatap bola mata Bayu.
"Makasih Kak Bayu..." gumam Diandra lirih.
"Kau kemana saja Dan?" tanya Haryo saat melepas pelukannya dari Danu.
"Nanti aku cerita." jawab Danu.
"Diandra... Dira, apa kabarnya?" tanya Haryo yang masih belum menyadari keberadaan Diandra di sana.
"Rara? Tuh... tanya sendiri!" Danu menjawab sambil menunjuk ke arah sang adik yang masih duduk di samping Bayu.
"Kamu.... Kok....?" gagap Haryo saking kagetnya.
"Ya itu Rara!" jawab Danu.
"Iya, ini Rara kita!" timpal Bayu sambil mengusap kepala Diandra, lalu membantunya berdiri.
Diandra menatap Haryo dengan tatapan dingin, lalu buru-buru menundukkan pandangannya, saat itulah Diandra melihat tangan kanan Bayu penuh plaster.
"Kak.... Tangan kakak ke...." ucapan Diandra terputus karena Haryo yang tiba-tiba memeluknya.
"Dira.... Dira...!" bisik Haryo
Karena tubuh Haryo yang tinggi dan berat, Diandra terdorong ke belakang, dan kaki kanannya menumpu berat tubuhnya dan juga Haryo, membuat lututnya berdenyut nyeri tak tertahan dan membuatnya hampir menangis.
Tangan kirinya yang masih memegang tangan Bayu menegang, dan membuat Bayu sadar kalau Diandra kesakitan.
"Yo, Bro... lepasin, Rara kesakitan, tadi habis jatuh, lututnya cidera!" Bayu berusaha melepaskan pelukan Haryo.
"Hah? Jatuh? Lututnya? Coba kakak tengok!" Haryo buru-buru berlutut dan berniat mengangkat celana panjang Diandra.
Melihat sikap Haryo, Diandra membelalakkan matanya dan menatap horor ke arah Haryo. Beruntung, sebelum Haryo menyentuh celana Diandra, Bayu dan Danu bersamaan mencegahnya.
"Rara nggak apa-apa, tadi sudah diobati Dimas!" cegah Bayu dengan nada datar. Rasa tidak suka saat melihat ketakutan di wajah Diandra membuatnya geram.
__ADS_1
"Aku hanya mau memastikan..." sahut Haryo.
"Stop bro, jangan menambah trauma Rara!" bisik Danu.
Akhirnya Haryo mengalah, dia bangkit dan duduk di sebelah kanan Diandra. Kemudian Diandra, duduk dengan bantuan Bayu.
Saat Bayu akan menarik tangannya, Diandra menahan tangan Bayu.
"Kakak... Ini kenapa?" tanya Diandra sambil mengusap lembut luka di buku tangan dan jari Bayu.
Danu mengangkat sebelah alisnya, 'fix, Rara memang suka sama Bayu!' . Danu tersenyum simpul.
Haryo meraih tangan kanan Diandra yang membelai punggung tangan Bayu.
"Ngapain kamu pegang-pegang tangan Bayu?" tanya Haryo menahan emosi, matanya menatap marah ke arah Diandra.
"Bukan urusan Pak Haryo!" bentak Diandra tak suka lalu menarik lepas tangannya dari genggaman Haryo.
Haryo mengerutkan keningnya, dia tak suka Diandra memanggilnya dengan sebutan 'PAK'.
'Oh.... Haryo suka Rara?' batin Danu, tapi matanya membola saat melihat kilatan tidak suka di mata adiknya.
"Dira!" seru Haryo tak suka dengan perlakuan Diandra padanya.
"Nggak usah banyak gerak, sudah di situ aja, ya?!" bujuk Bayu seraya membelai rambut panjang Diandra.
Diandra menurut, dia duduk lagi di kursinya, tapi tangan kirinya tak mau melepas tangan kanan Bayu.
Haryo menatap tajam ke arah Bayu, dan Bayu segera menyadarinya.
"Ra, tangan kanan kakak perih nih!" ucap Bayu sambil berusaha melepas tangannya dari genggaman Diandra. "Lagian kita kan mau makan, kalau dipegang gini, Kak Bayu gimana makannya?" sambung Bayu.
"Ah... Maaf kak." dengan berat hati, Diandra melepas tangan Bayu.
"Makan dulu, keburu dingin makanannya!" Bayu mengambil piring Diandra, mengisinya dengan nasi dan mengambilkan lauk kesukaan Diandra.
"Masih hafal kamu ya makanan kesukaan Rara?" goda Danu.
"Masih lah, Rara kan adik manisku juga!" jawab Bayu sambil tersenyum dan mengusap kepala Diandra.
"Oh..." Danu merespons singkat saat melihat reaksi Diandra, matanya tampak terluka.
__ADS_1
"Makan Ra!" Bayu menepuk bahu Diandra.
Haryo menatap tak suka pada Bayu, bukankah interaksi mereka terlampau intim? Sedangkan Diandra adalah tunangannya.
"Iya, kak!" sahut Diandra mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Dan, kalian kemana saja selama ini?" Haryo mengambil nasi dan beberapa lauk di meja.
"Kami di Kulon Progo. Selama 10 tahun ini kami pindah 4 kali dan selalu ditemukan sama anak buah pakde, dan akhirnya sekarang kami memilih tinggal di desa yang masih bisa dibilang pelosok." jawab Danu.
"Kenapa keluar dari rumah Om Suryo?" tanya Haryo.
"Ya karena pakde bilang kalau itu bukan rumah ayah. Saat kami diusir itu tepat saat pemakaman ayah dan ibu baru selesai. Lagi pula aku dulu tidak begitu paham dengan masalah seperti itu. Kakek dan Nenek akhirnya membawa kami tinggal di rumah mereka." jawab Danu.
Haryo melirik ke arah Bayu yang diam saja.
"Kamu nggak tanya keadaan mereka Bay?" tanya Haryo.
"Tadi istirahat Rara sudah sedikit cerita, aku mau tanya sesuatu, tapi besok aja, kasihan kalau Rara harus ingat kejadian yang nggak ingin diingat." jawab Bayu datar.
"Jadi kamu..."
"Baru tahu tadi pagi, nggak sengaja ketemu di depan pas Danu antar Rara!" jawab Bayu tanpa menatap Haryo.
"Kenapa nggak bilang tadi di kantor?" bentak Haryo sambil menggebrak meja.
Diandra yang duduk di sebelah Haryo kaget sendoknya terjatuh ke lantai.
"Dira... Maaf, Kak Haryo kelewatan ya? Dira kaget ya? Maaf..." Haryo meraih tangan Diandra dan meminta maaf, tapi Dengan cepat Diandra menepisnya.
"Saya nggak apa-apa pak!" sahut Diandra.
Haryo mencelos mendapat perlakuan dingin dari Diandra.
"Yo, kamu kenapa sih? Bayu niatnya kasih surprise ke kamu, gratitude mu mana? Lagian kamu kenapa sih, bukannya dulu kamu nggak gini?" tanya Danu yang tak suka dengan kelakuan kasar Haryo.
"Aku cuma ingin kasih kejutan ke kamu Yo, sekalian kumpul makan malam sama-sama, lagi pula suasana hatimu tadi pagi baru ruwet. Sorry." Bayu meminta maaf kepada Haryo.
Diandra yang kesal pada kelakuan Haryo, menghentikan makannya.
"Ngapain Kak Bay minta maaf ke orang kaya dia, sudah kasar, seenaknya sendiri, juga nggak tau terima kasih. Padahal selama ini kak Bay bantu dia di perusahaannya sepenuh hati, padahal kakak ada perusahaan sendiri yang perlu kakak kelola. Apa ada dia bilang terima kasih ke Kak Bay? Nggak ada kan? Seenaknya nyuruh ini itu, kalau nggak sesuai hatinya marah nggak jelas, bentak-bentak, dan nggak pernah minta maaf sesudahnya. Heran, kenapa Kak Danu dan Kak Bayu punya teman dengan kelakuan minus kaya dia ini!" omel Diandra panjang lebar.
__ADS_1
Haryo menatap tajam ke arah Diandra, merasa tertampar oleh kritikan Diandra. Sedangkan Bayu dan Danu tercengang. Nggak percaya, Diandra segitu nggak sukanya pada Haryo, padahal dulu semasa kecilnya, Diandra sangat lengket dengan Haryo. Memang tak bisa dipungkiri kalau sifat Haryo yang sekarang berbalik 180°.