
Sementara itu di dalam toilet, Bayu meninju tembok berkali-kali, melampiaskan emosi dan perasaannya yang tertahan.
'What am I supposed to do.... Aku bisa gila, harus gimana lagi aku menahan perasaanku? Kenapa harus ada perjanjian perjodohan itu? Kenapa bukan aku, kenapa harus Haryo?' rutuk Bayu dalam hati.
"AAAAARGHHH" jerit Bayu dari dalam toilet.
Ari yang menunggu di luar toilet, segera masuk karena terkejut. Lebih terkejut lagi saat ini bosnya terlihat sangat kacau. terlihat bekas darah di dinding, dan dari tangan kanannya mengalir darah segar.
"Pak Bayu..." Ari buru-buru meminta first aid kit kepada pihak rumah makan, lalu segera mengobati luka Bayu.
"Pak Bayu... Anda baik-baik saja?" tanya Ari hati-hati setelah selesai mengobati luka di tangan Bayu.
Bayu hanya berdiri diam mematung menatap pantulan wajahnya di cermin.
Ari membantu merapikan rambut dan baju Bayu.
"Ari... Apakah begini rasanya saat kau tak boleh meraih apa yang kau inginkan?" tanya Bayu dengan tatapan sedih.
"Maksud Pak Bayu?" tanya Ari kebingungan.
"Sakit rasanya Ri, apalagi melihat apa yang kita inginkan dimiliki orang lain, hanya karena kita tidak boleh meraihnya..." setitik air mata bergulir di pipi Bayu.
"How could I stand??" isak Bayu.
Ari hanya terdiam, tak tahu harus berbuat apa, selama 10 tahun mengikuti Bayu, baru kali ini dia melihat Bayu mental breakdown seperti ini. Ari hanya menepuk-nepuk punggung Bayu, mencoba menenangkannya.
Bayu terisak dalam diam, mencoba menenangkan hatinya. Setelah 10 menit berlalu, Bayu membasuh wajahnya, lalu melangkah keluar setelah mengeringkannya.
Begit keluar dari toilet, Bayu melihat Diandra berjalan tertatih ke arahnya. Cepat-cepat Bayu berjalan menghampiri Diandra.
"Kak!" wajah Diandra pucat pasi menahan sakit dan juga khawatir.
"Rara kenapa kesini? Kakak bilang tunggu kan, kalau jalan trus jatuh lagi, gimana?" Bayu memapah Diandra perlahan.
"Kak Bay lama, Rara khawatir juga takut, jadi Rara nyusul Kak Bay ke sini. Trus tadi dari jauh Rara lihat...." Diandra menunduk dan terlihat gelisah.
"Lihat siapa?" tanya Bayu sambil mengernyitkan dahinya.
"Mba Sin-Sinta..." jawab Diandra lirih, terlihat sekali ketakutan menyerangnya.
Jadi itu sebabnya Diandra berjalan setengah berlari walau lututnya cidera? Setakut inikah Diandra dengan keluarga pakdenya?
Berjuta pertanyaan melintas di kepala Bayu.
"Ari, pindahkan ke private room!" perintah Bayu.
"Ya pak!" Ari bergegas mencari pihak rumah makan untuk memindahkan meja mereka ke private room.
"Pegangan kakak ya, Ra. Maaf, kakak gendong Rara, kakak nggak mau lutut Rara makin sakit!" perlahan Bayu mengangkat tubuh Diandra dan menggendonya ala pengantin, dan membawanya ke meja pesanan mereka.
Diandra memeluk leher Bayu. Wajahnya tersipu saat menatap wajah Bayu yang berjarak sangat dekat.
"Kak, Rara takut ketemu Sinta." Diandra menyembunyilan wajahnya di lekukan leher Bayu.
__ADS_1
Bayu mendesah panjang merasakan hembusan nafas Diandra di lehernya.
"We won't, jangan khawatir ya Ra! Ada aku, kakak akan lindungi Rara, oke?!" Bayu menenangkan Diandra.
Sesampainya di private room, Bayu menurunkan Diandra dan membantunya duduk dengan nyaman, lalu dia memerintahkan Ari untuk menutup pintu dan makan malam sebelum menunggu di mobil.
Bayu menuangkan air hangat ke dalam gelas dan memberikannya pada Diandra, tetapi Diandra tak mampu menerimanya, tangan Diandra bergetar hebat, bibirnya mengatup rapat, dan wajahnya seputih kertas.
Hati Bayu terasa tecabik-cabik melihat Diandra yang ketakutan tak berujung. Ditariknya kursi di sebelah Diandra, lalu perlahan Bayu duduk di samping Diandra, merengkuh bahunya kemudian memeluknya erat.
"Tenang ya Ra, ada Kak Bayu, sebentar lagi Danu dan Haryo juga datang, you'll gonna be alright!" Bayu mengusap lembut punggung Diandra.
"Takut... Rara takut... Tempat itu gelap, Rara nggak suka, Rara takut.... Laki-laki itu selalu coba sentuh badan Rara.... Jijik... Jijik.... Kotor..." racau Diandra, air mata mengalir deras di pipinya walau tanpa isakan.
Hati Bayu semakin hancur.... Apa sebenarnya yang dialami Diandra sampai menyisakan trauma mendalam seperti ini.
Tiba-tiba pintu terbuka.
"Maaf Bay, aku...." Danu masuk ruangan tergesa-gesa, belum lagi selesai kalimatnya, dia melihat adik kesayangannya tengah dipeluk Bayu.
"What the hell are you..." bentak Danu tapi tertahan oleh gerakan tangan Bayu agar Danu diam dan menutup pintu.
Danu mendekati mereka berdua, seketika Danu menghambur ke adiknya.
"Ade... Ade... tarik nafas de... Rara... Rara.... tarik nafas... Ade aman sama kakak, mereka sudah tidak akan ganggu ade lagi... tenang de, tarik nafas!" Danu mencoba memandu adiknya agar tenang seperti yang biasa dia lakukan jika ketakutan Diandra muncul.
Perlahan Diandra mulai diam, nafasnya mulai teratur dan air matanya sedikit demi sedikit berhenti.
Diandra tak mau Bayu melepas pelukannya, tangannya mencengkeram erat jas Bayu.
"Rara... sama kak Danu ya?" bujuk Danu.
Diandra hanya menggeleng lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Bayu.
"Biar dulu Dan!" Bayu menepuk-nepuk punggung Diandra.
"Sebetulnya ada apa Bay, kenapa Rara jadi begini?" tanya Danu.
"Tadi waktu Rara nyusul aku ke toilet, dia lihat Sinta dari kejauhan." jawab Bayu, dia merasa bersalah, seandainya dia tadi tak terlalu lama meninggalkan Diandra, pasti tidak akan seperti ini .
"Oh.... Sudah kuduga. Tapi Sinta nggak lihat Rara kan?" tanya Danu cemas.
"Kurasa enggak!" jawab Bayu.
"Sebenarnya ada kejadian apa sampai Rara trauma seperti ini?" tanya Bayu penasaran.
Mendengar pertanyaan Bayu, tubuh Diandra kembali menegang dang cengkeraman tangannya menguat.
"Ra....!" Bayu terkejut, refleks dia mempererat pelukannya.
"Maaf.... Maaf.... Kakak nggak akan tanya hal itu, tenang ya Ra.... Sayang!" ucapan lembut Bayu di telinga Diandra perlahan memberikan ketenangan di hati Diandra. Tubuhnya kembali rileks dan nafasnya mulai teratur.
"Aku akan bilang saat kita bertemu tanpa Rara!" jawab Danu, dahinya berkerut melihat interaksi antara Bayu dan Diandra.
__ADS_1
Setelah 10 menit berlalu dan Diandra sudah jauh lebih tenang, Bayu memanggil pelayan dan memesan makanan.
"Haryo telat ini, kok belum datang?" tanya Danu.
"Sebentar lagi, dia baru saja selesai inspeksi!" jawab Bayu.
Diandra duduk menunduk di sebelah Bayu, tangan kirinya menggenggam erat tangan kanan Bayu.
Hal ini tak luput dari pengamatan Danu.
"Kalian berdua.... Apa ada sesuatu di antara kalian?" tanya Danu penuh selidik.
"Uhuk.... Maksudmu apa Dan?" tanya Bayu yang tersedak air karena mendapat pertanyaan dari Danu saat dia minum.
Danu menatap Bayu, lalu dengan dagunya dia menunjuk ke arah genggaman tangan Bayu dan Diandra.
"Oh.... Ini? Nggak ada apa-apa. pegangan tamgan biasa, buat tenangin Rara!" jawab Bayu, tenang.
Danu menatap Bayu tak percaya, lalu pandangannya beralih ke Diandra.
"Ra?" tanya Danu.
Diandra hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah nggak butuh kakak lagi?" tanya Danu lagi.
Diandra kaget, buru-buru dia melepas genggaman tangannya dari tangan Bayu.
Bayu yang kehilangan tangan Diandra dari genggamannya hanya menghela nafas panjang, lalu segera menarik tangannya dari atas meja dan mengepalkannya.
"Kamu terlalu posesif Dan!" ejek Bayu.
"Hah... Kaya kamu enggak aja!" balas Danu
"Kalau kalian ada sesuatu ya nggak apa-apa, kalau nglepas Rara untuk kamu aku rela kok Bay." sambung Danu yang sukses mengejutkan Diandra dan Bayu.
Tetapi Bayu dan Diandra bereaksi lain, yang membuat Daru heran. Danu melihat binar kebahagiaan di mata Diandra yang menandakan kalaj adiknya memang benar mempunyai perasaan pada Bayu. Tetapi saat menatap mata Bayu, di sana hanya ada kesedihan dan luka. Ada apa sebenarnya....
"Tenang aja, Rara pasti kulindungi!" jawab Bayu sambil tersenyum.
"Tapi maaf, tadi aku telat melindungi Rara, di kantor tadi dia jatuh." sambung Bayu.
"Tapi Rara nggak apa-apa kok, Kak Danu. Cuma lutut ade aja agak sakit, besok juga sembuh, tadi sudah diperiksa Mas Dimas di rumah sakit." jelas Diandra yang tak ingin Danu memarahi Bayu, dan Danu paham maksud adiknya, jadi dia hanya mengangguk perlahan.
"Mas Dimas? Apa Dimas Kurnianto?" tanya Danu.
"Hmmm... Dia sekarang jadi spesialis orthopedic." jawab Bayu.
"Kesampaian juga cita-citanya!" Danu tersenyum senang.
Tak lama, datanglah beberapa pelayan yang mengantarkan makanan yang mereka pesan. Bersamaan dengan itu, masuklah sesoaok pria bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan dengan penampilan rapi.
"Sorry, aku telat, ada masalah di ca..... Da-Danu... Bro...." suara lelaki itu tercekat di tenggorokan, memandang tak percaya ke arah Danu, matanya berkaca-kaca menahan haru.
__ADS_1