
Kesal karena dipermalukan di hadapan semua karyawan PT. WICAKSONO WORLD, Sinta buru-buru menelepon mama Haryo, Ratri.
"Halo tante, selamat pagi...." sapa Sinta dengan suara dibuat melas dan terisak.
"Sinta kenapa? Kok nangis?" tanya Ratri cemas.
"Sinta diusir sama Mas Haryo, Tante. Maksud Sinta mau ajak Mas Haryo sarapan bareng, tapi sampainya di kantor malah mas Haryo langsung minta security seret Sinta keluar." Sinta mengadu sambil mengeluarkan suara seolah baru saja mengalami penganiayaan.
"Astaga... Bisa-bisanya Haryo seperti itu ke kamu?! Sebentar, Tante telepon Haryo dulu!" balas Ratri, lalu mengambil ponselnya yang lain untuk menelepon Haryo.
Sementara itu, Haryo yang baru saja masuk ke ruangannya, merasakan getaran di saku bajunya. Haryo mendengus kesal, karena ini pasti mamanya menelepon karena masalah Sinta.
"Ya?" tanya Haryo tanpa salam.
"Mana sopan santunmu?" bentak Ratri.
"Kalau hanya untuk mendengarkan omelan, buat apa sopan santun?" balas Haryo datar.
"Haryo, mama nggak pernah ngajarin kamu nggak sopan pada orang tua ya!" bentak Ratri lagi.
"Oh, setauku memang mama nggak pernah ngajari aku apa-apa, karena aku dirawat sama kakek, sementara mama sibuk kesana kemari ngikutin papa!" jawab Haryo ketus.
Jantung Ratri terasa tertusuk ribuan jarum. Ratri memang tak pernah merawat Haryo, bahkan sejak Haryo lahir, Haryo langsung diasuh oleh baby sitter karena dia sibuk mengikuti Dewo kemanapun dia pergi. Ratri khawatir kalau Dewo akan selingkuh, karena kebanyakan suami teman Ratri yang pengusaha sukses mempunyai simpanan di luar. Ratri merasa bersalah pada Haryo, anak semata wayangnya.
"Tepat sasaran ya? Heh!" dengus Haryo.
"Kalau nggak ada apa-apa, kututup, ada meeting!" sambung Haryo to the point.
"Sebentar, kenapa kamu mengusir Sinta yang datang ke kantor buat ajak kamu sarapan?" tanya Ratri mengesampingkan rasa bersalahnya.
"Kenapa? Mama lucu ya, ini kantor, area kerja, bukan area buat kencan atau ketemuan. Ditambah kelakuan arogan dia, yang notabene tidak ada hubungan sama keluarga Wicaksono, seenak perutnya bentak-bentak karyawan Haryo, dia pikir dia siapa? Seenaknya saja bilang tunangan Haryo, sejak kapan Haryo mau ditunangkan sama dia? Lihat muka dia sama keluarganya saja jijik! Tunangan dan calon istri Haryo hanya satu, Diandra Ayu Perwita!" tegas Haryo.
"Kamu jangan sembarangan ngomong Yo, Diandra sudah hampir 11 tahun menghilang dan kamu belum menemukan informasinya dan kenapa dia dan Danu menghilang!" omel Ratri.
__ADS_1
"Kalau Haryo berhasil menemuka Dira, Haryo akan tagih janji papa dan mama, ditambah kakek juga tidak suka dengan anak si Suwito itu! Untuk alasan kenapa Danu dan Dira menghilang, sebaiknya mama tanyakan langsung ke orang yang baru kuusir dari sini atau mama bisa tanya ke bapaknya! Kenapa mereka mengusir Danu dan Dira tepat setelah acara pemakaman selesai!" jawab Haryo sembari menggeretakkan giginya, menahan emosi yang sudah hampir meluap.
"A... Apa kau bilang Yo?" tanya Ratri terkejut seperti halnya Sinta yang wajahnya memucat. Ratri sengaja meloud speaker pembicaraannya dengan Haryo, maksudnya agar Sinta tahu kalau dia benar-benar memarahi Haryo, tetapi di luar dugaan, Haryo malah mengatakan apa yang terjadi 10 tahun lalu.
"Mama tidak salah dengar, karena setahuku pendengaran mama masih sangat bagus." jawab Haryo yang tanpa basa basi langsung memutuskan sambungan telepon.
Ratri tertegun, menghilangnya Danu dan Diandra karena diusir Suwito setelah upacara pemakaman Suryo dan Rianti?
"Halo Sinta, apa benar semua yang dikatakan Haryo barusan?" tanya Ratri setelah tersadar dari lamunannya.
"Tentu saja enggak, tante, masa kita tega ngusir saudara sendiri, hahaha... Mas Haryo bercandanya nggak lucu!" Sinta tertawa sumbang.
"Oh iya ya..." sahut Ratri ragu.
"Ya sudah tante, kelihatannya mas Haryo nggak ingin aku ke sana, jadi kapan-kapan saja lah Sinta ke sananya." ucap Sinta yang buru-buru memutuskan sambungan telepon.
Sinta panik, kalau sampai Haryo tahu peristiwa 10 tahun lalu, lebih tepatnya hampir 11 tahun berlalu, dia pasti akan menyelidikinya sampai tuntas. Jika itu terjadi, habislah dia beserta keluarganya.
Di dalam ruang CEO Perwita Corps, tampak sang CEO, Suwito tengah menggoyang salah satu pegawai wanitanya. Seluruh penjuru ruangan dipenuhi suara ******* dan erangan mereka. Tampak pakaian berceceran di lantai.
Tiba-tiba suara dering telepon menyela kegiatan mereka berdua, tapi Suwito tak peduli, dia masih terus bergerak sampai akhirnya dia mencapai titik pelepasannya dan mengerang hebat.
Suwito membuang bekas pengaman di tempat sampah, kemudian memerintahkan si pegawai untuk segera berbenah diri dan keluar dari ruangannya.
Ponsel Suwito berbunyi lagi saat dia mengenakan kembali celananya. Sekilas dia melirik ke arah ponselnya untuk melihat ID pemanggil.
"Ada apa? Papa sudah bilang jangan ganggu papa! Papa lagi sibuk!!" bentak Suwito .
"Sibuk? Sibuk menggilir pegawai papa, maksudnya?" jawab Sinta dari seberang.
"Bukan urusanmu, yang kau tahu hanya menuntut ini dan itu, sama seperti mamamu!" bentak Suwito lagi.
"Aku tak peduli dengan apa yang papa lakukan, sekarang ada keadaan yang gawat. Mas Haryo tahu kalau Danu dan Diandra diusir papa dari rumah, dia akan menyelidiki semuanya." balas Sinta panik.
__ADS_1
"Biar saja, semua bukti sudah lenyap, mau menyelidiki pakai cara apapun tak akan membuktikan kalau kita bersalah." sahut Suwito acuh tak acuh.
"Papa harus segera menemui Om Dewo dan Tante Ratri, aku harus segera menikah dengan Haryo, sebelum semuanya terbongkar!" desak Sinta.
"Kau tak berhak memerintahku!" bentak Suwito yang dengan kesal langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Merepotkan saja, anak itu nggak menyerah cari 2 tikus kecil anak si Suryo!" gerutu Suwito. Diambilnya ponsel tua dari dalam laci mejanya, dia menelepon seseorang.
"Hei, apa kau sudah menemukan informasi yang kuminta?" tanya Suwito dengan suara rendah.
"Belum ada kabar dimana keberadaan mereka!" jawab seseorang dari seberang.
"Percepat pencarian, aku ingin mereka segera ditemukan!" perintah Suwito.
"Apa yang akan kau lakukan setelah menemukan mereka?"
"Habisi.... Jangan tinggalkan jejak!" bisik Suwito.
"Haaaaa.... apakah akan menggunakan cara yang sama dengan cara yang kita gunakan pada adikmu?" tanya suara itu dengan nada ceria, seolah menghabisi manusia itu merupakan suatu kesenangan.
"Gunakan cara lain, tanpa jejak barang bukti dan juga mayat!" jawab Suwito.
"Aku mau dalam sebulan ini aku mendengarkan hasilnya!" tegas Suwito yang langsung mematikan sambungan telepon itu.
Di sisi lain, orang yang menerima panggilan dari Suwito, menyeringai.
"Hah... Tua bangka, dia bahkan tak menyebut berapa bayarannya!" gerutu orang itu.
"Bos, apakah ada pekerjaan lagi?" tanya seseorang yang tengah duduk di sofa, dia mengenakan sepatu sneaker lusuh, jeans belel, kaos tanpa lengan dan berambut coklat.
"Hmmm.... Cepat temukan dua orang itu, bawa kemari, aku yang akan menghabisi mereka!" perintah orang yang dipanggil BOS. Pria berwajah tampan dengan rambut ikal dan ada luka goresan di pelipisnya.
"Siap bos!" jawab pria berambut coklat yang segera bangkit dan meninggalkan ruangan gelap dan pengap di sebuah rumah kecil di ujung jalan.
__ADS_1