
"Ada apa Dan?" tanya Bayu saat sudah berada di luar kamar Diandra, mereka duduk di bangku panjang yang disediakan di lorong bangsal, mereka memutuskan tidak ke ruangan Dimas karena dirasa tidak etis memasuki ruang kerja seseorang sementara pemiliknya sedang tidak berada disana.
"Kapan?" tanya Danu ambigu.
"What kapan?" Bayu balik bertanya karena bingung dengan maksud pertanyaan Danu.
"Kapan kau akan menikahi Rara?" Danu mengulang pertanyaannya dengan lebih jelas.
"A week after discharge," ( Seminggu setelah keluar dari rumah sakit ), jawab Bayu.
"Katakan pada keluarga Wicaksono kalau kau akan menikahi Rara, aku akan datang bersamamu," pinta Danu.
"Pasti, aku juga harus mengatakan kepada Haryo tentang hubunganku dan Rara," sahut Bayu.
"Apa kau tak apa, menikahi Rara yang dalam keadaan seperti ini?" tanya Danu cemas karena Diandra baru saja operasi dan membutuhkan perawatan dan perhatian khusus karena kakinya belum bisa bergerak bebas.
"Dan, kau tahu betapa aku mencintai Rara, tidak masalah seperti apapun kondisi Rara, yang penting aku bisa selalu bersamanya dan menjaganya," jawab Bayu tegas, menepis keraguan dan kecemasan Danu.
"Terima kasih, aku benar-benar mempercayakan Diandra padamu, Bay. Aku mohon, jaga dia baik-baik dan bahagiakanlah dia," pinta Danu dengan sangat, ada gurat kesedihan di wajahnya.
"Aku berjanji Dan, Rara afalah segalany untukku," Bayu merangkul bahu Danu dan menepuknya.
Sejenak keduanya terdiam, lalu Bayu tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Dan, bagaimana lamaranku pada Diandra? Rumah Kakek Broto sedang dalam pengawasan ketat Furainoduragon, akan berbahaya jika aku datang atau bahkan kakek dan nenek kemari," ucap Bayu bingung.
"Aku yang akan mewakili kakek dan nenek, untuk pernikahan kalian, lakukan pemberkatan saja, walau aku menginginkan adikku bisa melakukan grand wedding, tapi untuk saat ini aku rasa tidak memungkinkan," jawab Danu, ada sedikit kekecewaan di nada bicaranya, tapi keadaan memaksa mereka menahan segala keinginan, jadi Danu hanya bisa pasrah.
"Jangan khawatir, pemberkatan akan dilaksanakan satu minggu setelah Rara keluar dari rumah sakit, dan untuk resepsi, aku akan memberikan yang terbaik dua bulan lagi setelah Rara lepas dari kursi roda. Dan aku akan memberikan grand wedding untuk merayakan pernikahan kami," janji Bayu.
__ADS_1
Danu menatap sahabatnya dengan tatapan tak percaya.
"Kau gila? Dengan kau mengadakan grand wedding, artinya kau memberitahu seluruh dunia kalau Rara adalah istrimu dan aku adalah kakak iparmu, saat itulah keberadaan dan keselamatan Rara terancam," seru Danu, baginya tak masalah jika dia ketahuan oleh Suwito ataupun Furainoduragon, tapi tidak dengan Diandra.
"Private island, jangan khawatir," jelas Bayu singkat.
"Apakah bisa menjamin keselamatan Rara?" tanya Danu cemas.
"Hey, trust me okay?!" ( Hey, percayalah padaku, ok?! ), jawab Bayu, ditepuknya bahu Danu.
"Okay!" sahut Danu.
Tiba-tiba dari ujung koridor, terdengar pintu lift terbuka dan nampak dua orang wanita cantik berjalan berdampingan menuju arah di mana Danu dan Bayu duduk.
Danu membelalakkan matanya saat dia melihat salah seorang wanita yang berjalan ke arah mereka duduk.
"Fi-Fiby...." gumam Danu, matanya berkabut menahan air mata yang mulai menggenang.
Kedua wanita itu berjalan semakin mendekat, Danu dan Bayu bangkit dari bangku.
"Hi Tiana, Fiby, apa kabar?" sapa Bayu sambil menjabat tangan kedua wanita itu.
"Dan, kenalin, ini istri Dimas, Tiana," Bayu memperkenalkan Tiana pada Danu.
"Halo, salam kenal Danu, saya banyak dengar cerita tentangmu dan Diandra dari Mas Dim," sapa Tiana sembari mengulurkan tangannya, Danu menyambutnya, "Salam," balasnya singkat, matanya masih menatap lekat pada Fiby yang juga menatapnya dengan tatapan penuh rindu.
"Aku ajak Tiana masuk, kalian bicaralah, selesaikan masalah yang sudah 10 tahun tertunda," Bayu mempersilakan Tiana masuk ke dalam ruang rawat inap Diandra meninggalkan Danu dan Fiby yang saling tatap dalam diam.
Setelah beberapa saat tenggelam dalam kesunyian, Danu berusaha memecah kesunyian.
__ADS_1
"A-apa kabar, Iby?" tanya Danu dengan menyebut panggilan sayang darinya untuk Fiby, panggilan yang sudah 10 tahun Fiby rindukan.
"A-aku.... Aku merindukanmu, Dan," jawab Fiby, air mata yang sedari tadi ditahannya mengalir deras tanpa terbendung, dan tanpa mempedulikan apapun, Fiby menghambur memeluk Danu yang segera menangkap tubuh Fiby dan membalas pelukannya.
Mereka melepas rindu setelah 10 tahun berpisah tanpa pamit, 10 tahun tanpa saling tahu kabar, 10 tahun memendam kerinduan yang menyiksa dan perasaan terpendam yang belum terungkap.
"Iby.... Iby...." bisik Danu berulang kali menyebutkan nama Fiby.
Fiby semakin terisak, dia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh pria yang dia cintai sejak belasan tahun lalu, pria yang dia kagumi dalam diam.
Danu pun mengeratkan pelukannya, seolah jika pelukannya terlepas Fiby akan menghilang dari hadapannya.
"Iby.... I love you, Iby....." bisik Danu yang akhirnya mengungkapkan isi hatinya yang telah lama dia simpan kepada Fiby.
"I love you too Dan, please.... Jangan pernah pergi tanpa pamit, apapun yang terjadi," jawab Fiby di antara isakannya.
Danu melonggarkan pelukannya, dihapusnya air mata Fiby dari pipi Fiby, lalu perlahan dan lembut, Danu mengecup bibir Fiby, "I'll never leave you," ( Aku tidak akan pernah meninggalkanmu ), janji Danu.
"Aku mencemaskanmu, kau dan Rara menghilang tanpa jejak dan tak pernah memberi kabar, kau anggap apa aku ini?" gerutu Fiby setelah sedikit tenang.
"Maafkan aku, semua terpaksa kulakukan karena aku tidak ingin membahayakan kalian semua, hidupku dan Rara tidak mudah, jadi aku tak ingin membebani kalian semua," jawab Danu.
"Aku dengar dari Tiana, tapi tetap saja kamu keterlaluan," Fiby memukul dada Danu perlahan.
"Iby.... Karena aku terlalu mencintaimu, maka aku tak ingin kau terluka karena terlibat, mereka orang kejam, kau tak akan pernah ingin mengalami apa yang pernah Rara alami dan bagaimana kami melaluinya, cukup aku melihat penderitaan Rara, itu sudah sangat membuatku hancur," sahut Danu dengan suara bergetar.
Fiby yang hanya tahu garis besar permasalahannya dari Tiana dan Dimas hanya bisa terdiam dan kembali memeluk Danu untuk menenangkan hati kekasihnya.
"Dan, mulai hari ini berjanjilah, apapun yang terjadi, sebahaya apapun, ceritakanlah padaku, jangan pergi meninggalkanku lagi, aku tak takut dengan apapun, aku hanya takut kehilanganmu, aku takut kau pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun kau ucapkan, aku takut...." pinta Fiby sambil mempererat pelukannya pada tubuh Danu.
__ADS_1
"Aku berjanji, aku tak ingin lagi berpisah darimu, Iby.... Aku.... Aku sangat merindukanmu selama ini," janji Danu, dikecupnya kening dan kedua pipi Fiby, lalu dengan lembut, kembali Danu mencium bibir Fiby, kali ini Danu menciumnya lebih dalam dan mesra, meluapkan dan menuntaskan kerinduan yang selama 10 tahun dia simpan dalam diam.