
Bayu menatap Ari setelah mendengar pertanyaan konyol Ari.
"Aku yang memanggilmu kemari, jadi apakah pertanyaanmu barusan masuk akal?" tanya Bayu datar.
"Oh, hehehe... Maafkan saya, Pak Bayu," jawab Ari.
"Mana berkas yang harus saya periksa?" tanya Bayu sambil mengulurkan tangannya meminta berkas-berkas kerja dari Ari.
Ari segera menyerahkan beberapa berkas kerja sama dan proposal permintaan anggaran dari beberapa departemen yang ada di PT. WICAKSONO WORLD.
Bayu menerima berkas yang diserahkan padanya, kemudian dia mulai memeriksanya.
"Kau sudah makan siang?" tanya Bayu tetap dengan nada datarnya.
"Puji Tuhan, sudah Pak Bayu," jawab Ari yang masih duduk tegak di hadapan Bayu.
"Bagaimana kantor hari ini?" tanya Bayu lagi.
"Uhm, tadi Nyonya Besar Wicaksono datang ke perusahaan bersama Nona Sinta dan Nyonya Mariana, mereka ingin menemui Pak Haryo," jawab Ari dengan nada lelah.
"Hah.... Apa ada keributan?" tanya Bayu setengah terkejut, pasalnya Ratri tak pernah datang ke kantor mencari Haryo jika Haryo sedang dinas luar.
"Keributan kecil antara Nyonya Ratri dan Nyonya Mariana," jawab Ari sambil mendesah ringan.
"Huh?" Bayu mengernyit heran.
"Nyonya Mariana menuduh Pak Haryo calon menantu yang tidak menghargai calon mertuanya karena setiap ada pertemuan keluarga beliau selalu menghindar tidak mau hadir, dan Nyonya Mariana bilang kalau itu disebabkan didikan orang tua yang selalu memanjakan Pak Haryo," jelas Ari.
"Dan Tante Ratri tidak terima lalu marah?" sela Bayu.
"Iya, benar pak, sampai Nyonya Ratri bilang akan memikir ulang perjodohan antara Pak Haryo dan Nona Sinta, lalu beliau pergi begitu saja meninggalkan Nyonya Mariana yang mengumpat tak ada habisnya dan juga Nona Sinta yang menangis dan merengek agar Nyonya Mariana meminta maaf pada Nyonya Ratri," sambung Ari sambil memijat pelipisnya.
"Lalu apa yang kau pusingkan?" tanya Bayu heran.
"Nyonya Mariana dan Nona Sinta bertengkar di depan pintu lobby perusahaan dan kebetulan hari ini adalah hari di mana para supplier datang mengantar barang, dan mereka terpaksa menyaksikan keributan ibu dan anak itu, karena pintu masuk terhalang oleh mereka berdua, terpaksa saya harus menyuruh security wanita untuk menyeret mereka pergi," jelas Ari.
"Haish, troublesome!" gerutu Bayu.
__ADS_1
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruang kerja Bayu.
"Tuan, saya bawakan teh untuk den Ari," seru Bi Tami dari luar.
"Masuk saja, Bi Tami," sahut Bayu, dan Bi Tami pun segera masuk dan menyajikan dua cangkir teh dan juga beberapa camilan.
"Silakan dinikmati Den Ari," ucap Bi Tami ramah.
"Terima kasih, Bi Tami," sahut Ari.
"Sama-sama Den Ari, saya permisi dulu," balas Bi Tami yang lalu pamit undur diri.
Ari mengambil cangkir teh di hadapannya dan mulai meminumnya.
"Ri, bisa tidak kau menyusun makan malam romantis?" tanya Bayu dengan mimik wajah serius.
"Ya? Untuk siapa dan kapan, pak?" Ari balik bertanya.
"Setelah acara pertunangan Haryo, hari Senin, sepulang kerja," jawab Bayu.
"Aku ingin melamar Diandra," jawab Bayu lirih, sorot matanya menghangat, membuat Ari bergidik ngeri.
'Gila nih Boss, bucinnya gini amat sih?' jerit hati Ari.
"Apa makanan kesukaan Nona Diandra dan bunga kesukaannya?" tanya Ari sambil mengeluarkan buku catatan bonnya.... eh, catatan kecilnya.
"Rara suka Chinese food, terutama roasted duck tongue, book restoran yang menyediakan menu itu," perintah Bayu, "Untuk bunga, Rara suka mawar ungu," sambungnya.
"Aih? Mawar ungu sangat langka, kita harus memesannya dari luar negeri," protes Ari.
"Just order, I'll pay," sahut Bayu tidak sabar.
"Baik, akan segera saya persiapkan setelah saya selesai dengan pekerjaan kantor," balas Ari.
"Hmmm..." Bayu kembali meneruskan memeriksa file yang tadi Ari bawa ke rumahnya.
__ADS_1
Setelah dua jam berlalu, akhirnya Bayu selesai dengan pekerjaanny, dan Ari pun bergegas kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertinggal.
Tak lupa Ari membooking restoran yang menyediakan menu roasted duck tongue dan juga memesan mawar ungu dari sebuah florist langganan keluarga Senoaji yang merupakan cabang dari sebuah florist yang berpusat di Tokyo, Jepang.
Ari juga menyewa grup musisi orkestra untuk menghangatkan suasana lamaran Bayu pada Diandra besok Senin malam.
Setelah semuanya beres, barulah Ari bisa pulang ke rumah dan mengistirahatkan tubuhnya yang luar biasa penat. Beginilah pekerjaannya, jika Haryo dinas luar, Bayu cuti atau harus mengurus perusahaan papanya, Ari lah yang pontang panting ngalor ngidul ngetan balik ngulon tanpa henti, karena Haryo tidak memiliki asisten pribadi ataupun sekretaris pribadi, karena dia tidak mempercayai siapapun selain Bayu.
Kadang di sinilah Ari merasa sedih, disaat orang tuanya memintanya segera menikah, dia masih terlalu direpotkan dengan utusan pekerjaan, jadi Ari tak punya kesempatan untuk berkencan, jangankan berkencan, kesempatan mengenal wanita saja dia tak punya, maka predikat sebagai jomblo seumur hidup masih melekat padanya.
Di rumah mewah kediaman Bayu, di dalam ruang tidur utama, Diandra tampak menggeliat dan membuka matanya. Diandra langsung tersenyum saat melihat Bayu tengah duduk di tepi ranjang sambil menatap lekat padanya.
"Sudah bangun? Nyenyak tidurnya?" tanya Bayu sambil merapikan rambut Diandra yang menutupi matanya.
"Nyenyak kak, terima kasih ya kak," jawab Diandra.
"Untuk apa?" tanya Bayu.
"Untuk semuanya," jawab Diandra sambil tersenyum manis.
"Sama-sama," sahut Bayu, diusapnya kening Diandra, "Mau mandi dulu sebelum kakak antar pulang?" tanya Bayu sambil membantu Diandra duduk.
"Iya kak, Rara mandi dulu, sebentar saja," jawab Diandra sambil beranjak turun dari ranjang.
"Mandi di sini atau di kamar Rara semalam?" tanya Bayu sambil menuntun Diandra.
"Kamar semalam saja, kak," jawab Diandra, Bayu langsung memapahnya keluar kamarnya dan berjalan menuju kamar yang Diandra tempati semalam.
Bayu memapah Diandra sampai ke dalam kamar mandi, setelah mengambilkan pakaian untuk Diandra dan meletakkannya di atas meja wastafel, Bayu keluar dan menutup pintu perlahan.
Sementara Diandra mandi, Bayu kembali ke kamarnya sendiri untuk mandi dan bersiap mengantar Diandra. Sebelumnya Bayu sudah memesan beberapa supplement dan tonic kesehatan untuk dibawa sebagai buah tangan kepada Kakek Broto dan Nenek Sundari, selain itu Bayu juga memesan selimut lutut untuk Kakek Broto, syal untuk Nenek Sundari dan sebuah dompet kulit brand favorit Danu yang tentunya akan diberikan untuk Danu.
Setelah selesai mandi dan menunggu Diandra yang belum selesai dengan mandinya, Bayu duduk di ruang keluarga. Saat itu Bi Tami masuk ke dalam rumah bersama beberapa orang yang membawa pesanan Bayu.
"Tuan, pesanannya sudah datang, saya taruh mana ya?" tanya Bi Tami.
"Tolong masukkan ke dalam bagasi mobil saya yang putih ya, Bi.... Terima kasih," pinta Bayu yang tak lupa mengucapkan terima kasih pada Bi Tami dan orang-orang yang telah datang mengantar pesanannya tadi, yang segera melaksanakan perintah Bayu.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Diandra keluar dari kamar menggunakan kruknya dan dengan menenteng tas tangannya.