Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Haryo Yang Merepotkan


__ADS_3

Bayu melangkahkan kakinya memasuki ruang CEO, dilihatnya Haryo terduduk lesu di sofa.


"Kenapa?" tanya Bayu sambil mendudukkan dirinya di depan Haryo.


"Mama kesini tadi," jawab Hary lesu.


"Mau membicarakan masalah acara pertunanganmu besok Sabtu?" tanya Bayu.


"Hm... Sinta juga datang tadi, tapi dia tak bisa masuk karena laranganku kemarin," jawab Haryo, "Kakek juga barusan telepon, malam ini akan ada pertemuan dua keluarga di rumah untuk membicarakan acara pertunangan, aku malas betul pulang ke rumah," sambung Haryo kesal.


"Hadapi saja, seolah kau menerimanya, lagi pula saat hari H kau akan menghancurkannya," usul Bayu sambil memainkan pulpennya.


"Aku jijik melihat wajahnya," gumam Haryo setengah bergidik.


"Tahan saja untuk malam ini, tak usah banyak bicara saat pertemuan nanti. Jika diminta menemaninya mencari gaun atau apapun bilang saja kau keluar kota, akan ku urus nanti keberangkatanmu," sahut Bayu.


"Atur keberangkatanku malam ini ke Pontianak, tak perlu menunggu besok, atur kepulanganku Sabtu pagi atau sore, tapi aku minta tolong kau pastilan semua video dan bukti tentang kelakuan Sinta sudah di tanganmu saat aku kembali," perintah Haryo tak bisa ditawar lagi.


Bayu mendengus kesal karena kelakuan seenaknya dari sahabat dekatnya ini.


"Kau memang merepotkan!" gerutu Bayu sembari tangannya sibuk membooking hotel dan juga tiket pesawat untuk Haryo.


"Terima sajalah, kau disini kan Sekretaris Pribadiku, wajar kalau kurepotkan," sahut Haryo sambil menyeringai licik.


"Huh, awas saja, tahun depan kau tak akan bisa merepotkanku lagi," gumam Bayu lirih.


"Itu juga kalau permohonan resignmu adu setujui," ancam Haryo.


"Ha.... Kau lupa kalau aku masuk perusahaan ini atas permintaan kakek Cokro? Jadi aku bisa keluar kapanpun tanpa harus minta persetujuanmu," ejek Bayu sambil tesenyum senang.


"Kau tak boleh keluar, siapa yang akan menjaga Dira di sini?" bujuk Haryo.


"Kamu! Tapi kalau kamu tak sanggup, aku bisa membawanya pergi bersamaku," sahut Bayu tegas, membuat Haryo terbeliak dan menatap marah ke arah Bayu, namun Bayu tak mempedulikan tatapan Haryo.


"Booked, flight 18:45, kau berangkat sama Indra, aku sudah info Indra barusan, kurasa dia sedang kalang kabut sekarang," sambung Bayu.

__ADS_1


Haryo tak menanggapinya, dia tak peduli dengan siapa dia pergi, yang penting dia tak pulang hari ini sampai hari Sabtu.


"Aku balik ke ruangan dulu, aku siapkan berkas project Pontianak sebelum kau berangkat," Bayu bangkit dan melangkah keluar ruangan Haryo, di luar dia disambut Indra yang kebingungan.


"Pak Bayu, saya harus ikut perjalanan dinas ke Pontianak sore ini?" tanya Indra dengan wajah memelas.


"Iya, pulanglah awal, persiapkan semua keperluan pribadimu, aku yang akan menyiapkan berkas yang harus dibawa, tak perlu khawatir," jawab Bayu menenangkan Indra yang panik. Indra mengangguk dan segera berpamitan pulang untuk mengemas baju dan juga perlengkapan pribadi yang diperlukan untuk perjalanan dinas selama empat hari.


Tepat pukul 16:20, berkas yang diperlukan Haryo sudah siap, Bayu segera membawanya ke ruangan Haryo. Tampak Haryo sedang bersiap pulang untuk mengambil keperluan pribadinya.


"Indra sudah siap, dia sedang meluncur ke bandara, dia menunggumu di sana," ucap Bayu sambil menyerahkan tas berisi berkas project yang dibutuhkan Haryo.


"Aku pergi, titip perusahaan dan juga Dira," sahut Haryo sambil melangkahkan kaki keluar ruangannya.


Bayu memutar bola matanya jengah, lalu dia menyusul Haryo keluar.


"Kau pulang sekarang?" tanya Haryo saat melihat Bayu mengikutinya menuju lift.


"Hm, aku buat janji dengan Dimas buat check lutut Rara," jawab Bayu sambil menekan tombol lift saat mereka tiba di depan lift.


"Apa yang buat kau iri? Aku cuma bawahanmu," gurau Bayu.


Haryo melotot ke arah Bayu, memang benar di perusahaan ini, Bayu adalah subordinate Haryo, tapi sesungguhnya tingkatan Bayu sama dengan Haryo, sama -sama penerus keluarga besar mereka yang statusnya sebanding.


Pintu lift terbuka, Haryo dan Bayu segera masuk ke dalam, Bayu menekan tombol 2 dan 1.


"Aku ingin melihat Dira," gumam Haryo sendu.


"Ikut aku ke ruangan HSE," ajak Bayu.


"Tapi aku masih takut menemuinya, aku takut menerima tatapan penuh kebencian darinya," sahut Haryo yang tak mampu menyembunyikan kesedihan di kalimatnya.


"Kau memang merepotkan! Tunggu aku keluar bersama Rara sebelum kau pulang!" gerutu Bayu yang segera melangkahkan kakinya keluar dari lift saat lift berhenti dan pintunya terbuka di lantai 2.


Haryo tersenyum senang mendengar ucapan Bayu. Diapun segera menutup pintu lift dan lift pun bergerak turun.

__ADS_1


Bayu berjalan santai ke arah ruang HSE, setibanya di depan ruangan, Bayu perlahan membuka pintu dan segera disambut Pak Fahri.


"Selamat sore Pak Bayu, jemput Diandra?" sapa Pak Fahri.


"Iya pak, saya tunggu di pantry karena waktu off masih 5 menit lagi," sahut Bayu sambil melangkahkan kakinya menuju pantry, saat melewati Diandra, tangan Bayu dengan sengaja menyentuh dan membelai kepala Diandra dengan lembut.


Diandra tersipu malu mendapat perlakuan manis tapi sembunyi-sembunyi dari Bayu, detak jantungnya terasa berdetak 100 kali lebih cepat.


Tepat pukul 16:30, para staff departemen HSE satu persatu meninggalkan ruangan untuk absen pulang. Sementara Diandra masih tinggal di ruangan, setelah semua temannya pulang, Bayu keluar dari pantry sambil membawa kotak dessert yang dibelinya tadi.


"Pulang sekarang?" tanya Bayu yang sudah berlutut di hadapan Diandra.


"Iya kak, Rara sudah bilang kak Danu kalau hari ini Rara pulang sama Kak Bayu," jawab Diandra malu-malu.


"Kenapa malu-malu gitu sama kakak?" goda Bayu sambil mengangkat dagu Diandra menggunakan telunjuknya.


"Ha-habisnya kak Bayu lihatin Rara kaya gitu," sahut Diandra gugup, wajahnya semakin memerah.


"Kamu cantik, jadi kakak nggak bosan lihatnya," goda Bayu semakin menjadi dan membuat wajah Diandra semakin memanas.


"Hehehehe.... Maaf, kakak udah keterlaluan godain Rara, habis kakak gemes lihat ekspresi Rara yang malu-malu gini," kekeh Bayu sambil mengecup kening Diandra.


"Kak Bayu jahat, ih," gerutu Diandra kesal.


"Nah kan bikin gemes lagi," ucap Bayu sambil mencondongkan tubuhnya ke depan dan segera bibirnya mengecup bibir peach Diandra.


"Kak!" pekik Diandra kaget, tapi Bayu hanya terkekeh geli.


"Udah yuk, keburu kemalaman sampai rumah, kita juga sudah ditunggu Dimas di kliniknya," ajak Bayu di sela kekehannya.


Bayu membantu Diandra berdiri, lalu memapahnya perlahan.


"Sebetulnya kakak ingin kamu istirahat saja di rumah sampai lututmu pulih, tapi kakak jadi nggak bisa ketemu kamu di kantor," ucap Bayu dilema, "Kakak egois ya Ra?" tanya Bayu.


"Enggak, Rara juga nggak ingin di rumah, karena kalau di rumah, Rara nggak bisa ketemu kak Bayu," jawab Diandra lirih, membuat Bayu gemas, ingin Bayu mencium Diandra, namun di tempat umum dan banyak karyawan yang bepapasan dengan mereka, mau tak mau Bayu menahan diri. Apalagi mengingat Diandra pernah mengalami trauma berkepanjangan, Bayu tak ingin terlalu mengumbar keinginannya untuk selalu bermesraan dengan Diandra.

__ADS_1


__ADS_2