Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Aku Belum Menerima Permintaan Maafmu


__ADS_3

"Jadi kapan pelaksanaan acara pertunangan Haryo dan Sinta, Jeng?" tanya Mariana antusias kepada Ratri.


"Beraninya kau menanyakan itu, sedangkan aku belum menerima permintaan maafmu," jawab Ratri sambil mendengus kesal. Mariana hanya bisa terdiam, dia sadar akan kesalahannya kemarin.


"Sambil menunggu Haryo dan Bayu, kita makan malam saja dulu," ucap Dewo berusaha mengurai ketegangan, dipanggilnya waitress dan segera mereka memesan makanan untuk makan malam.


Gina dan James lebih banyak berdiam diri, karena mereka memang tidak menyukai Suwito beserta anak istrinya, saat mengetahui Ratri dan Dewo menyetujui pertukaran calon yang akan dijodohkan dengan Haryo, mereka berdua menentang keras seperti halnya Cokro dan Haryo, begitupun Bayu. Entak apa yang menjadi pertimbangan kakaknya dan sang istri sampai mau menerima Sinta sebagai pengganti Diandra.


Namun dua hari yang lalu Gina mendapat kabar dari sang ayah, Cokro, kalau kemungkinan besar perjodohan ini akan dibatalkan karena Mariana mengatakan sesuatu yang membuat Ratri murka, dan perjodohan akan dilanjutkan kembali saat Diandra sudah ditemukan. Dalam hati Gina sedikit cemas, karena dia tahu kalau Diandra sudah berhasil Bayu dan Haryo temukan, tapi masalahnya, Diandra mencintai Bayu dan sedang menjalin hubungan, jika perjodohan tetap dilanjutkan, maka putranya dan Diandra harus dipaksa berpisah dan itu akan sangat melukai hati dan perasaan keduanya.


Setelah memesan makanan, suasana di meja itu kembali hening, tak ada yang mengeluarkan suara, sampai akhirnya Dewo membuka suara dengan mengajak Suwito berbincang mengenai perkembangan perusahaannya.


Sinta berulang kali melongokkan kepalanya ke arah pintu masuk restaurant, berharap Haryo segera datang dan bisa segera memulai pembahasan masalah perjodohan mereka berdua, namun yang ditunggu tak kunjung datang.


Tiba-tiba ponsel Gina berbunyi, dilihatnya ada panggilan masuk dari putra semata wayangnya, Gina bergegas berdiri dan pamit meninggalkan meja untuk menerima panggilan dari Bayu.


'Halo, ma,' sapa Bayu datar.


'Halo, Bay.... Sudah sampai mana kalian berdua? Cepatlah datang, mama sudah muak melihat wajah mereka bertiga,' keluh Gina, dia memang sudah tak tahan dengan Suwito dan keluarganya.


'Haryo baru dalam perjalanan ma, maaf Bayu tidak bisa datang, Rara tadi pingsan di kantor karena lututnya yang cedera bermasalah, ini barusan selesai operasi, jadi Bayu temani Rara di rumah sakit,' jelas Bayu.


'Mantu mama kenapa Bay? Sekarang kondisinya gimana? Mama akan segera ke rumah sakit sama papa,' seru Gina panik.


'Ma, Rara sekarang sedang beristirahat, mama sama papa kemari setelah acara selesai saja, ini Bayu sama Danu kok,' sahut Bayu menenangkan Gina.


'Gitu ya? Ya sudah nanti mama kesana sama papa sehabis makan malam, kamu dan Danu jangan lupa makan malam, kalau ada apa-apa cepat kabari mama ya,' pesan Gina.

__ADS_1


'Iya ma, ini sudah minta tolong Ari buat belikan makan malam, mama tenang saja. Tapi Bayu mohon, masalah Rara sudah ketemu jangan dibahas di depan Suwito ya ma, belum saatnya mereka tau, takutnya malah membahayakan Rara,' pinta Bayu.


'Iya, mama tau, bahkan kakek, pakde dan budemu juga belum ada yang tau,' jawab Gina memastikan.


'Ya sudah ma, Bayu tutup dulu,' sahut Bayu.


'Iya, sun sayang buat calon mantu kesayangan mama, ya,' balas Gina yang disambut kekehan Bayu sebelum memutus pembicaraan mereka.


Gina segera kembali ke meja tempat keluarganya makan malam, tepat saat pesanan mereka dihidangkan.


Ratri menatap Gina dan bertanya, "Siapa, Gin?"


"Bayu, mba... Dia nggak bisa datang, temannya ada yang cedera, dan harus menemani di rumah sakit," jawab Gina sambil kembali duduk di kursinya.


"Oh gitu.... Sama Haryo?" tanya Ratri lagi.


"Syukurlah," gumam Ratri, dia sebenarnya sudah tidak sabar untuk segera mengakhiri semuanya, dia sudah tidak mau lagi berhubungan dengan para manusia bermuka dua seperti Suwito, Mariana dan Sinta.


Mereka mulai makan malam dalam hening, hanya suara dentingan alat makan yang terdengar.


"Maaf, terlambat datang," tiba-tiba terdengar suara berat Haryo yang muncul tepat di samping meja tempat keluarganya dan Suwito berkumpul.


"Mas Haryo, lama banget nyampenya mas, aku sudah nunggu dari tadi," seru Sinta dengan tak tahu malu langsung berdiri dan hendak menghampiri Haryo.


Namun Haryo dengan elegant, menarik kursi yang berada di antara sang mama dan Gina, tantenya.


Sinta kecewa tapi lebih memilih diam, lalu dia bertanya kepada Haryo dengan suara yang dibuat-buat, "Mas Haryo mau makan apa, biar Sinta pesankan?"

__ADS_1


"Not hungry," jawab Haryo tanpa menatap Sinta, matanya tertuju pada ponselnya karena sedang bertukar pesan dengan Bayu, Danu dan Dimas di dalam grup chat yang mereka buat tempo hari. Haryo menanyakan keadaan Diandra dan apa yang membuat Diandra tiba-tiba pingsan dengan kondisi cedera yang semakin parah sehingga membuatnya harus menerima tindakan operasi.


Dimas menjelaskan semua yang ditanyakan Haryo, setelah membaca penjelasan Dimas, wajah Haryo terlihat buruk dan frustasi.


Ratri yang melihat perubahan ekspresi putranya mengerutkan keningnya.


"Ada apa Yo?" tanya Ratri.


"Nggak ada apa-apa, ma. Kalian selesaikan makan malam dulu, lalu segera kita bahas permasalahan intinya," jawab Haryo datar, lalu beranjak meninggalkan meja dengan membawa ponselnya menuju keluar restaurant.


Di luar, Haryo menelepon Danu dan meminta maaf karena sudah menyebabkan Diandra menderita. Namun Danu tidak menyalahkannya, Danu menganggap itu musibah yang tidak bisa dihindari, Dimas juga tadi sudah mengatakan itu walau hal itu bisa dicegah tapi karena sudah terjadi, lebih baik mereka fokus pada proses penyembuhan Diandra.


Haryo menghela nafas panjang, dia menyalahkan dirinya karena sikap arrogant dan kasarnya sudah membuat Diandra menderita, bahkan sekarang dia terpaksa harus memakai kursi roda selama sebulan atau lebih, yang tentu saja akan semakin menghambat pergerakannya.


Belum lagi di departement tempat Diandra bekerja seluruh staffnya lelaki, tentu akan membuat Diandra tidak nyaman bekerja.


Haryo mengusap kasar wajahnya dan merutuki perbuatan dan sifat buruknya. Sampai dia tak sadar kalau ada seorang staff restaurant berulang kali memanggil namanya.


"Pak Haryo.... Pak Haryo," panggil staff itu, entah yang keberapa kali, tapi sekarang Haryo berhasil menoleh ke arahnya.


"Ya?" sahut Haryo agak sedikit kaget.


"Makan malam keluarga sudah selesai, anda dipanggil oleh Tuan Cokro agar segera membicarakan masalah inti," jawab staff restaurant tersebut dengan hati-hati.


Haryo menghela nafas, dia memang harus membereskan perjodohannya dengan Sinta terlebih dahulu sebelum dia memikirkan bagaimana cara meminta maaf pada Diandra dan bagaimana mengatasi masalah Diandra pasca dia keluar dari rumah sakit.


"Baik, saya akan segera ke sana, terima kasih banyak," sahut Haryo dan tak lupa dia mengucap terima kasih sebelum melangkah masuk kembali menghampiri meja tempat keluarga besarnya dan juga keluarga Suwito menunggu.

__ADS_1


__ADS_2