Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Pengen Pegang Dada Rara ( L.O.L )


__ADS_3

Saat sampai di Lee Djong, Diandra tampak sangat bahagia, dia meminta Bayu untuk membawanya ke meja di sudut ruangan, karena tempat itu adalah tempat favorit keluarganya dulu.


Setelah mereka berdua duduk, mata Diandra menerawang jauh, tiba-tiba air matanya menitik perlahan di pipinya. Bayu terkejut melihatnya, buru-buru direngkuhnya bahu Diandra.


"Kenapa, Cutie?" tanya Bayu sambil menghapus air mata dari pipi Diandra.


"Ingat papa mama, kak... Rara kangen..." isak Diandra.


"Doakan mama papa agar mereka bahagia di sisi Tuhan, akhir minggu kita kunjungi mereka ya, sekalian kakak mau ijin, untuk menggantikan papa mama menjaga dan membahagiakan Rara," bujuk Bayu.


Diandra mengangguk lemah, dia benar-benar merindukan kedua orang tuanya, sejak hari pemakaman kedua orang tuanya, Diandra dan Danu baru mengunjungi makam orang tua mereka sebanyak 7 kali dalam 10 tahun ini. Mereka terpaksa jarang mengunjungi makam kedua orang tua mereka karena masih selalu dicari dan diincar oleh suruhan Suwito.


"Sekarang makan dulu, ya?! Cutie Pie mau pesan apa?" tanya Bayu sambil menyodorkan buku menu pada Diandra.


"Kwetiau seafood sama udang telur asin," jawab Diandra.


"Itu aja?" tanya Bayu meyakinkan.


"Memang Rara boleh makan banyak kak?" Diandra balik bertanya.


"Asal dihabiskan, nggak masalah," jawab Bayu.


Diandra tersenyum gembira.


"Sweekie, mapho tofu, bubur sama bei tan, capcay seafood, sama nasi putih," pesan Diandra yang membuat Bayu melongo.


"Sudah itu aja?" tanya Bayu masih heran.


"Sudah, kakak pesan apa?" tanya Diandra.


"Hah? Rara bisa makan habis semua itu?" tanya Bayu tak percaya.


"Hmm... Bisa, Rara kan memang kalau makan banyak," jawab Diandra sambil menyeringai senang.


"Oh, ok... Kakak pesan bihun seafood aja," Bayu menulis pesanannya lalu menyerahkan kepada waitress yang sudah menunggu di sebelah meja mereka.


Tak menunggu sampai 20 menit pesanan mereka sudah siap. Bayu melongo melihat meja yang penuh makanan, kwetiau seafood, capcay sefood, udang telur asin, sweekie, mapho tofu, bubur dan bei tan ( telur hitam ) serta bihun seafood.


Bayu tak masalah memesan banyak makanan, dia hanya tak suka membuang makanam karena tak habis dimakan.

__ADS_1


Namun kecemasan Bayu rupanya sia-sia, dalam sekejap makanan pesanan Diandra sudah berpindah tempat, dari atas piring saji menuju perut Diandra yang lebarnya mungkin selapangan bola, karena saat pesanannya habis Diandra masih memesan satu porsi hainanse chicken rice dan juga dhong soy ( semacam minuman manis dari berbagai macam jenis rempah kering / buah kering ), padahal Bayu masih belum menyuapkan makanannya karena terlalu takjub dengan selera makan Diandra yang benar-benar besar.


"Honey, makan sebanyak itu nggak sakit perut?" tanya Bayu cemas.


"Enggak, Rara kalau hati lagi nggak enak memang begini kak, makannya banyak," jawab Diandra sambil mengunyah nasi yang baru saja dia suapkan ke mulutnya.


Bayu hanya manggut-manggut sambil menatap Diandra, tubuhnya langsing dengan tinggi 168cm, tapi bisa makan sebanyak itu? Kemana larinya lemak Diandra? Sedangkan dada dan pantatnya tumbuh dengan ukuran yang pas dengan tinggi dan berat badannya. Apakah ada terlalu banyak cacing di perutnya? Bayu bergidik, pulang nanti harus mampir apotek dan beli obat cacing buat Diandra.


"Big Bun, kenapa lihatin dada Rara kaya gitu?" tanya Diandra saat tau kalau Bayu tengah menatap intens dadanya.


"Pengen pegang dada Rara," jawab Bayu tak sadar.


"Huh? Ah, ok... Ini!" seru Diandra sambil membusungkan dadanya ke arah Bayu.


Ngek Ngok Ngik Ngek.....


Keduanya terdiam, membatu saat menyadari bahwa masing-masing dari mulut mereka mengeluarkan kata-kata tanpa dipikir terlebih dahulu.


Diandra buru-buru menutup dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, sementara Bayu memalingkan wajahnya dan berpura-pura serak dan terganggu tenggorokannya.


"Kak Bayu pervert," gumam Diandra malu-malu.


"Habisnya kakak yang mau, kan?" sanggah Diandra.


"Jadi kalau kakak mau, Rara langsung mau kasih?" tanya Bayu.


"Iya," jawab Diandra tegas.


"Apapun?" tanya Bayu lagi.


"Hm... Apapun," jawab Diandra yakin.


"Hahaha.... Harusnya yang bilang gitu kakak, bukan Rara," sahut Bayu sambil mengusap kepala Diandra dengan lembut.


"Ya saling memberi dan menerima kan lebih baik kak dalam suatu hubungan," ucap Diandra tak mau kalah.


"Hmmmm.... Pintar, my sensible Cutie Pie," sahut Bayu yang kembali melanjutkan makan bihun goreng seafood yang sudah dingin.


"Kak, habis ini langsung antar Rara ke rumah kan?" tanya Diandra sambil mengaduk dhong soi nya.

__ADS_1


"Ke rumah kakak dulu ya?! Kakak masih pengen sama Rara dulu, sampai jam empat sore nanti," jawab Bayu setengah membujuk.


"Hmmmm.... Kira-kira Kak Danu jadi cari kontrakan nggak ya, kalau iya, Rara mau tinggal di kontrakan aja terus biar dekat kalau ke kantor," gumam Diandra sambil menerawang jauh ke depan.


"Kenapa kontrak?" tanya Bayu.


"Kan Rara harus terapi pagi, kalau dari rumah kakek nenek kan jauh?" jawab Diandra.


"Kan kakak sudah bilang, tinggal di rumah kakak saja," sahut Bayu.


"Kan Rara ingin tinggal di kontrakan aja walau terapinya sudah selesai," tolak Diandra.


"Ya tinggal sama kakak terus aja kan nggak apa-apa," bujuk Bayu.


"Nggak enak, Rara kan bukan istri Kak Bayu," tolak Diandra halus.


"Kalau Rara jadi istri kakak berarti mau tinggal sama kakak kan?" Bayu tersenyum menggoda.


"I-istri Kak Bayu? Trus nanti kita.... Itu.... Anu..." sahut Diandra gugup, wajahnya memerah, membayangkan apa yang dilakukan suami istri di malam pertama.


"Itu anu apa coba?" goda Bayu yang semakin membuat wajah Diandra memerah.


"Nggak tau," jawab Diandra cemberut tapi wajahnya sudah sangat merah.


"Hahahaha.... Cutie Pie bisa mesum juga ternyata," gelak Bayu lirih, membuat Diandra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Rara takut kak, nanti kakak maksa Rara kaya orang yang dulu maksa Rara," gumam Diandra lirih, ada rasa ketakutan dan sedih di nadanya.


"Honey, mana mungkin kakak maksa Rara? Kesayanganku satu-satunya. Kalau Rara belum siap, kakak nggak akan maksa," jawab Bayu sambil mengusap kepala Diandra dengan lembut lalu mengecup keningnya lama.


"Big Bun tau nggak kalau sekarang Rara bahagia banget?" tanya Diandra sambil mengerjapkan matanya, membuat Bayu gemas.


"Bahagia kenapa, honey?" sahut Bayu.


"Bahagia karena bisa bersama dengan pria yang Rara cintai sejak dulu, dan pria itu juga mencintai Rara dengan tulus, bahagia banget rasanya, sampai seandainya kalau Rara mati sekarang, Rara nggak akan menyesal," jawab Diandra sambil menatap Bayu dengan penuh damba dan cinta.


Perasaan Bayu melambung mendapat penyataan seperti itu dari Diandra, jika tidak ingat sekarang mereka sedang berada di tempat umum, Bayu pasti sudah memeluk dan menciumi Diandra dengan penuh kasih. Ditambah Bayu gemas melihat ekspresi wajah Diandra saat mengucapkan kata-kata itu, rasanya ingin menerkam dan mengungkung Diandra dan tak melepaskannya lagi.


Bayu menahan dirinya agar tak lepas kendali dengan menarik nafas dalam-dalam, lalu segera bangkit dan mengajak Diandra pulang, mereka harus segera pulang ke rumah Bayu, sebelum Bayu benar-benar lepas kendali di tempat umum.

__ADS_1


Setelah membayar, Bayu membantu Diandra masuk ke dalam mobil dan menyusl masuk ke belakang kemudi lalu melesatkan mobilnya menuju rumahnya.


__ADS_2