Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
MUTLAK


__ADS_3

"Aku akan menyusul Tora," ucap Miko, lalu dia memanggil Danu, "Dan, ini kunci apartment Danu, sudah dibersihkan, segala kebutuhan sudah disiapkan, tinggallah di sana sampai semua terkendali," sambung Miko seraya melempar kunci ke arah Danu.


"Terima kasih kak, tapi aku kesana besok, belum pamit Om James dan Tante Gina soalnya," sahut Danu.


"Ok lah, take your time. Aku pergi dulu, besok pagi aku kesini lagi," pamit Miko seraya melenggang pergi meninggalkan ruang rawat inap Diandra.


"Tsk... Manusia itu memang seenaknya, datang nggak dijemput, pulang nggak diantar, macam jalangkung," gerutu Dimas yang mendapat pelototan tajam dari sang istri.


"Aku dengar bego, lain kali kalau mau ngatain orang lihat dulu orangnya sudah beneran pergi apa belum," seru Miko dari luar, membuat Dimas pucat pasi.


"Sial masih di depan pintu," umpat Dimas.


"Masih dengaaaar, tambah seminggu gantikan shift dan praktik poly," sahut Miko yang masih berada di depan pintu, dia sedang memesan taxi untuk pergi ke villa Kentaro.


"Hey kak, yang bener aja dong...." protes Dimas sambil melangkah menghampiri pintu.


"Dua minggu, ok?! Aku pergi," seru Miko seraya melangkahkan kakinya meninggalkan lorong bangsal VVIP.


Dimas hanya bisa mengumpat dan mengucapkan sumpah serapahnya. Menyebalkan.


"Kau tahu kalau kau tak akan pernah menang melawan Kak Miko, tapi kamu selalu ngajak ribut, makanya jangan cari gara-gara kenapa sih, yah?" ucap Tiana yang sedikit kesal dengan tingkah Dimas.


"Kok kamu sewot sih, bund?" protes Dimas tidak terima.


"Habisnya dibilangin nggak nurut, sebel jadinya," omel Tiana.


"Kalian kalau mau ribut pulang deh sana, berisik," gerutu Bayu.


"Kakak apa-apaan sih, nggak sopan," omel Diandra sambil menepuk lengan Bayu.


"Kesel aja sama Dimas, kalau ada Tiana langsung kelakuannya nyebelin kaya bocah," sindir Bayu.


"Eh, kaya kamu engga aja," protes Dimas.


"Sudah, berisik yah, kita pulang," seru Tiana sambil menarik telinga Dimas.


Dimas hanya meringis kesakitan tanpa mengeluh.


"De, kakak pamit dulu ya, maaf bayi tuanya rewel ini," ucap Tiana sambil tersenyum.

__ADS_1


"Nggak papa sih kak di sini dulu biar rame," jawab Diandra.


"Nggak lah, ntar ni bayi makin malam makin menjadi, yang ada kamu nggak bisa istirahat," Tiana memeluk Diandra dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menarik telinga Dimas yang menangis dalam diam.


"Fiby ikut pulang sekalian?" tanya Tiana.


"Aku...." jawab Fiby ragu sambil menatap Danu.


"Pulanglah bersama mereka, aku juga akan kembali ke rumah Om James, besok harus kesini lagi sesuai perintah Kak Miko," sahut Danu sambil mengusap kepala Fiby.


"Ka-kalau gitu barengan sampai tempat parkir?" ajak Fiby.


"Ok, aku pamit ke ade dulu," Danu bangkit dari duduknya dan menghampiri Diandra.


"Kakak balik ke rumah Mama Gina?" tanya Diandra sambil memeluk pinggang Danu.


"Iya untuk malam ini, besok kakak akan tinggal di apartment Kak Tora," jawab Danu sambil mengecup kepala Diandra.


"Kenapa kita jadi kaya buronan lagi kak?" tanya Diandra pilu membuat Danu mengeratkan pelukannya, sementara Bayu hanya bisa menahan kegeraman karena melihat Diandra bersedih. Dimas, Tiana dan Fiby hanya bisa terdiam merasakan kesedihan yang Diandra rasakan.


"Kakak berjanji, kali ini tidak akan lama, sabar ya de...." janji Danu walau dia sendiri pun ragu.


"Rara percaya kakak," sahut Diandra lirih, Danu kembali mengecup kening Diandra dan juga kedua pipinya.


"Iya kak," sahut Diandra, sedangkan Bayu hanya diam saja dan Danu melotot ke arahnya.


"Haish, iya... Iya.... Nggak perlu tiap hari juga kau ingatkan," gerutu Bayu sewot.


"Mukamu mesum, makanya aku khawatir," jawab Danu asal bunyi.


"@%###%@" umpat Bayu yang disambut gelak tawa teman-temannya.


"Hehehehe... Aku pamit dulu ya de, besok aku usahakan kesini setelah praktik," pamit Fiby sambil mencium kedua pipi Diandra.


"Iya kak, terima kasih sudah datang nengok, Kak Tia dan Kak Fiby," sahut Diandra.


"Sama-sama, de," balas Fiby dan Tiana bersamaan.


"Istirahat ya, maaf bayi besar kakak bikin ribut," ucap Tiana sambil tersenyum, tangannya sudah tidak menarik telinga Dimas lagi, tapi sudah melingkar mesra di pinggang suaminya.

__ADS_1


"Nggak kok kak, kalau bukan karena Kak Dimas lutut Rara juga masih sakit," sahut Diandra, "Terima kasih ya Kak Dim," sambung Diandra.


"Sama-sama Ra, jangan lupa minum obatnya ya, besok siang kita mulai fisioterapi ya," ucap Dimas mengingatkan agar Diandra tidak lupa meminum obatnya dan juga mengenai jadwal fisioterapi pertama pasca operasi.


"Iya kak, sebentar lagi minum obat," sahut Diandra sambil mengacungkan jempolnya.


"Kami balik dulu ya," pamit Dimas, Tiana dan Fiby bersamaan, yang segera diangguki Diandra dan Bayu.


"Kakak pergi dulu, istirahat yang cukup ya, love yo my little sister," pamit Danu sambil mengecup kening, kedua pipi dan juga bibir Diandra.


"Love you too kak, hati-hati ya kak," sahut Diandra seraya melambaikan tangannya.


Beberapa saat kemudian ruang rawat inap Diandra terasa sepi. Bayu masuk ke dalam toilet dan mengambil handuk basah, sikat gigi dan juga basin pembuangan untuk membuang bekas kumur Diandra.


"Big Bun.... Rara mau buang air kecil," bisik Diandra lirih.


"Oh, ok.... Mau gosok gigi sekalian di toilet?" tanya Bayu sambil membuka selimut yang menutupi kaki Diandra.


"Iya, boleh?" jawab Diandra yang langsung minta ijin.


"Boleh, nanti kakak topang berdirinya," Bayu mengangkat tubuh Diandra yang ringan dengan sekali gerakan.


Bayu menggendong Diandra ke toilet, setelah membantunya melepaskan celana dan mendudukkannya di kloset duduk ( dengan mata terpejam ), Bayu melangkah keluar dan menutup pintu toilet lalu menunggunya di luar sampai Diandra memanggilnya kalau sudah selesai buang air kecil.


"Kak Bay," panggil Diandra dari dalam toilet.


"Ya, honey, coming..." sahut Bayu yang langsung masuk ke dalam toilet setelah mendengar suara siraman air closet.


"Lho kok berdiri sendiri?" tanya Bayu dengan kening berkerut tak suka. Bukan apa-apa, tapi dia khawatir karena pesan Dimas, lutut Diandra belum boleh bergerak ekstrim ataupun menumpu beban tubuhnya.


"Bi-bisa kok.... Ngga enak kalau kakak bantuin terus," jawab Diandra takut-takut, karena tahu kalau Bayu akan mengamuk.


"...." Bayu hanya diam dan segera menopang tubuh Diandra untuk menggosok gigi.


"Kakak marah?" tanya Diandra saat melihat Bayu hanya diam dan mengulurkan sikat gigi yang sudah diberi pasta gigi padanya.


Lalu Bayu mendekatkan cawan berisi air untuk Diandra berkumur dulu sebelum menggosok gigi.


"Kak..." panggil Diandra sambil menatap bayangan Bayu di cermin di atas wastafel.

__ADS_1


Bayu menghela nafas panjang, "Haaah... Mana pernah sih kakak marah sama Cutie, hm?" sahut Bayu sambil mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir Diandra. Seketika wajah Diandra memerah.


"Besok lagi, jangan buat apa-apa sendiri, aku itu calon suami Cutie, jadi nggak ada itu alasan nggak enak atau bla bla bla, ok?" tegas Bayu, dan Diandra hanya bisa mengangguk karena nada dari ucapan Bayu penuh penekanan dan tidak menerima bantahan, atau kata kerennya MUTLAK.


__ADS_2