
"Kenapa resign?" "Kenapa minta Danu jemput?" tanya Haryo dan Bayu bersamaan.
"Karena Rara ingin," jawab Diandra sambil menghindari tatapan mata Bayu yang terlihat marah.
"Ari, batalkan taksi atas pesanan Rara di depan, bayar ongkosnya dua kali lipat," perintah Bayu pada Ari, tapi matanya tak lepas dari Diandra.
"Dira, jelaskan kenapa resign?" desak Haryo.
"Karena saya ingin resign," jawab Diandra acuh tak acuh dan mulai berkeringat dingin, lututnya terasa nyeri lagi.
"Dira, jawab yang benar, kenapa resign?" tanya Haryo sekali lagi tapi tanpa tekanan pada setiap katanya, dia bertanya dengan halus.
"Saya hanya tidak ingin merepotkan orang lain dan menghambat kerja mereka, seperti yang bapak katakan tadi siang, saya sudah membuat Kak Bayu terlambat kembali ke ruangannya padahal banyak pekerjaan menunggu untuk diselesaikan, untuk kejadian tadi siang, saya minta maaf, dan untuk menghindari kejadian tadi terulang, lebih baik saya resign, karena proses penyembuhan lutut saya akan memakan waktu sebulan," jelas Diandra dengan suara yang tegas.
"Dira, aku mengatakan itu karena emosi," ucap Haryo.
"Tak ada yang merasa direpotkan, Ra," tambah Bayu.
"Tapi Rara merasa merepotkan," sahut Diandra, tiba-tiba tubuh Diandra oleng setelak terdengar bunyi 'KLUK' yang cukup jelas terdengar dari lutut Diandra.
Diandra terhuyun ke samping dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Bayu menangkapnya.
"Ra, kita ke klinik sekarang!" seru Bayu yang segera mengangkat tubuh Diandra dalam gendongannya.
"Aku antar," Haryo segera berlari menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya.
Semua karyawan yang melihat kejadian itu terbengong-bengong, dua orang boss tampan mereka terlihat panik dan cemas karena seorang karyawan magang yang baru beberapa hari bekerja.
Bayu melangkah lebar dan segera mendudukkan Diandra di bangku belakang mobil Bentley S680 milik Haryo, setelah seorang security membantu membukakan pintu. Sebelum Bayu naik dia berpesan kepada Ari untuk segera menyusul ke klinik Dimas dengan membawa mobilnya, setelah itu barulah Bayu melompat naik ke dalam mobil Haryo yang dengan segera melaju menuju klinik Dimas.
Bayu mengirim pesan kepada Danu, untuk membatalkan menjemput Diandra karena Diandra harus melakukan terapi rutin seperti rencana sebelumnya.
Danu mengiyakan dengan catatan jika terjadi sesuatu orang pertama yang harus Bayu beri tahu adalah dirinya, dan Danu juga bilang kalau dia akan langsung ke klinik begitu pekerjaannya selesai.
Wajah Diandra memucat, keringat dingin sebesar butiran jagung mulai bermunculan di keningnya, menandakan betapa Diandra menahan sakit.
__ADS_1
Bayu sedikit mengangkat dress Diandra untuk melihat kondisi lututnya, Bayu kaget saat melihat lutut Diandra bengkak dengan bentuk yang aneh.
"How is this actually happen," gumam Bayu, diusapnya lutut Diandra dengan lembut, dengan harapan mengurangi sakitnya, Haryo melihatnya dari rear view mirror dengan tatapan cemburu.
"Kak.... Sakit...." rintih Diandra lemah, dia meradakan sakit yang teramat sangat, bahkan lebih sakit daripada saat dia terjatuh beberapa hari yang lalu.
"Sabar ya Cutie, sebentar lagi sampai," hibur Bayu, berusaha membuat Diandra tenang.
Haryo menyadari sesuatu yang janggal, lalu dia bertanya, "Cutie?"
"Not now, Yo, cepatlah sedikit," jawab Bayu gusar, dia bukan mencemaskan pertanyaan Haryo, tapi dia lebih mencemaskan Diandra yang semakin pucat.
Haryo dengan tanggap menambah kecepatan laju mobilnya di jalanan yang lumayan padat. Sementara Bayu mengambil ponsel dari sakunya lalu menghubungi Jim.
'Ya Boss, ada perintah?' tanya Jim yang tengah duduk di ruang ganti training camp milik keluarga Senoaji.
'Temukan bekas karyawan PT. Wicaksono World yang bernama Vera Andriani, bereskan kakinya,' perintah Bayu dengan wajah seram.
'Kakinya, Boss?' tanya Jim meyakinkan.
"Kak.... Jangan...." gumam Diandra lirih sebelum akhirnya benar-benar pingsan di pelukan Bayu.
"Cutie.... Ra.... Rara..." panggil Bayu panik, Haryo yang melihat Diandra pingsan, semakin menambah laju mobilbya membelah ramainya lalu lintas Jogja di sore itu.
Sesampainya di klinik Dimas, Bayu segera menggendong tubuh Diandra masuk ruang pemeriksaan. Dimas sudah menunggu mereka di sana, saat melihat Diandra yang pingsan, keningnya berkerut.
Dimas meminta Bayu membaringkan tubuh Diandra ke atas ranjang periksa, lalu meminta Bayu menepi dan menunggu di luar bersama Haryo.
Dimas memeriksa lutut Diandra yang bengkak dengan bentuk aneh. Wajahnya seketika terlihat buruk, kemudian dia meminta perawat menyiapkan ambulance dan segera menelepon rumah sakit tempat dia bekerja untuk segera menyiapkan ruang operasi karena dia akan membawa pasien yang harus segera ditangani.
Setelah ambulance siap, Diandra segera dipindahkan ke brankar untuk dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulance.
Bayu dan Haryo yang menunggu di luar ruang periksa terkejut saat Diandra didorong menggunakan brankar keluar dari ruang periksa.
"Dim, Rara kenapa?" tanya Bayu panik.
__ADS_1
"Talk later, we need to rush to the hospital, she need a surgery," jawab Dimas yang melangkah lebar menyusul Diandra.
Bayu dan Haryo mematung karena terkejut, apa yang terjadi, kenapa harus operasi? Tapi mereka segera tersadar lalu buru-buru menyusul Dimas dan bergegas menuju rumah sakit memakai mobil Haryo karena Ari belum tiba, Bayu tak lupa menghubungi Danu dan tanpa menunggu jam kerjanya berakhir, Danu segera melesat mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit Dimas.
Sesampainya di rumah sakit, Danu segera bergegas ke ruang operasi, di sana sudah menunggu Bayu dan Haryo.
"Sebetulnya apa yang terjadi? Kenapa Rara harus dioperasi? Katanya hanya dislokasi?" Danu memborbardi Bayu dengan pertanyaan yang tak bisa Bayu jawab.
"Aku juga tidak tahu, Dimas tak mengatakan apapun. Tapi tadi di kantor, Rara sempat oleng dan hampir terjatuh dua kali dan yang terakhir tadi saat pulang kerja dan Rara pingsan saat perjalanan ke klinik," jelas Bayu, raut wajah Danu memburuk.
"Bukannya aku memintamu menjaganya?" bentak Danu pada Bayu.
"Maafkan aku," sesal Bayu, hatinya teriris, wajahnya memancarkan kecemasan dan juga ketakutan.
"Itu semua salahku, bukan Bayu, kalau saja aku tidak bersikap kekanakan tadi," gumam Haryo lirih.
"Talk properly," geram Danu.
"Sorry, Dan... Semua salahku," jelas Haryo.
"HAH!!!" dengus Danu kesal, lalu dia mendudukkan dirinya di bangku tunggu.
"Bukannya kamu ada janji dengan Kak Tora?" tanya Bayu yang menghampiri Danu dan duduk di sebelahnya.
"Adikku pingsan dan harus segera dioperasi, kau kira aku bisa meninggalkannya?" dengus Danu, dia tampak gusar karena cemas tapi tak bisa melakukan apapun.
"Sorry," gumam Bayu.
"Aku sudah hubungi Kak Tora, dia akan kemari bersama Kak Miko," sahut Danu.
Haryo menghampiri mereka berdua dan duduk di samping Bayu.
"Kamu nggak jadi makan malam buat beresin masalah Sinta?" tanya Bayu sambil menatap Haryo yang sama cemasnya dengan dirinya dan Danu.
"Still have 2 more hours, a little late won't give me any problem," jawab Haryo yang sebetulnya malas bertemu dengan Sinta dan kedua orang tuanya, tapi demi membereskan masalah perjodohan yang makin hari terasa memuakkan, mau tak mau Haryo harus menemui mereka.
__ADS_1
Mereka bertiga menunggu di bangku tunggu dalam diam, mereka bertiga cemas dan gelisah, sudah hampir 90 menit, tapi lampu tanda operasi masih berjalan masih menyala. Mereka ingin segera tahu sebenarnya apa yang membuat Diandra harus menjalani tindakan operasi dan bagaimana keadaannya saat ini.