Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Keisengan Ari


__ADS_3

Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu mengejutkan Bayu, segera dia meminta si pengetuk pintu masuk.


Dan tampaklah perawat yang tadi pagi memergoki mereka berciuman, masuk membawa basin baru berisi air hangat.


"Maaf, saya bawa air hangat baru untuk Nona Diandra, kata Dokter Dimas airnya sudah dingin," ucap perawat itu sambil meletakkan basin air hangat baru dan mengambil air yang sudah dingin tadi.


"Terima kasih," ucap Bayu datar, sebelum perawat itu keluar ruangan.


"Cutie, kakak bantu lap badan Cutie ya?" tanya Bayu sambil membelai pipi Diandra.


Diandra hanya diam saja tak menjawab, entah mengapa walau Bayu sudah menjelaskan tapi masih ada sedikit rasa kecewa, karena ternyata Bayu banyak didekati perempuan-perempuan yang tertarik padanya.


"Cutie masih marah?" tanya Bayu lembut, entah kenapa kalau dengan Diandra dia punya kesabaran tak berujung.


"Cutie, kakak berani bersumpah, kalau kakak tak pernah punya hubungan dengan perempuan manapun, bahkan kakak nggak pernah mengahadiri pertemuan klirn jika klien itu perempuan, pasti Ari yang datang mewakili kakak," bujuk Bayu meyakinkan Diandra.


"Sungguh?" tanya Diandra lirih sambil menyembulkan kepalanya keluar dari selimut.


"Sungguh, sayang.... Kakak pernah bohong sama Rara?" jawab Bayu sambil mensejajarkan wajahnya dengan wajah Diandra.


Diandra menggeleng perlahan, Bayu tersenyum melihat jawaban Diandra, lalu Bayu mendaratkan kecupan di kening Diandra.


"Nah, bangun, kakah bantu lap badan Rara," seru Bayu sambil membantu Diandra duduk.


"Cuci muka saja kak, malu kalau lap badan," gumam Diandra lirih," sahut Diandra sambil tertunduk malu.


"Kakak nggak akan macam-macam, punggung saja yang kakak bantu lap, depan Rara sendiri yang basuh, gimana? Sebelum Ari datang bawa sarapan," bujuk Bayu.


Diandra diam dan berpikir beberapa saat, dan akhirnya mengangguk setuju.


"Kakak siapkan baju ya, Cutie bisa lepas baju dulu lalu tutup pakai selimut," ucap Bayu, Diandra mengangguk malu-malu.


Bayu membalikkan badannya dan segera mengambil pakaian Diandra dari dalam tas yang dibawakan Ari kemarin. Sementara Diandra melepas baju yang dikenakannya sekarang.


"Kak Bay, sudah," seru Diandra lirih.


Bayu membalikkan badannya dan seketika dia merasa jantungnya berhenti berdetak.


Diandra sudah melepas kemeja rumah sakit yang dipakainya semalam, dia hanya menutupi bagian depan tubuhnya menggunakan selimut tipis rumah sakit, rambutnya digelung ke atas menampakkan leher putih jenjangnya yang menawan, punggung Diandra terekspos sempurna, tampak halus dan lembut. Bayu susah payah menelan ludahnya.


'Ya Tuhan.... Teguhkan imanku' gumam Bayu dalam hati.


Perlahan dia mendekati Diandra dengan membawa basin berisi air hangat dan juga handuk kecil untuk membasuh tubuh Diandra.


"Kakak basuh wajah Rara dulu ya, banyak beleknya tuh," gurau Bayu berusaha menyamarkan kegugupannya.

__ADS_1


"Masa Rara belekan, Kak?" tanya Diandra seraya meraba matanya, mengecek ada tidaknya belek di sana. Karena pergerakan Rara yang tiba-tiba, selimut yang menutupi dadanya sedikit merosot.


Bayu memalingkan wajahnya yang memerah saat tanpa sengaja melihat belahan dada Diandra.


"Cutie, pegang yang benar selimutnya, biar kakak nggak grogi basuh wajah Cutie," ucap Bayu dengan suara serak.


Diandra menunduk dan melihat kalau selimut yang menutupi dadanya melorot turun, buru-buru dia membetulkannya dan memegangnya dengan benar.


"Su-sudah kak," sahut Diandra gugup.


Bayu menatapnya sesaat, lalu membasahi handuk kecil dengan air hangat dan mulai membersihkan wajah Diandra.


"Kulitmu halus dan licin sekali, honey," gumam Bayu saat tangannya tak sengaja menyentuh kulit wajah Diandra.


"Makasih kak," sahut Diandra tersipu malu.


"Cantik," gumam Bayu lagi, dan wajah Diandra makin tersipu.


"Jangan buat ekspresi seperti itu, kakak jadi gemas," Bayu menghentikan gerakannya, lalu perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Diandra dengan gemas.


Diandra yang terkejut hanya bisa pasrah mendapat serangan mendadak dari Bayu. Beruntung Bayu hanya menciumnya sesaat.


"Jangan lagi buat ekspresi seperti itu kalau sedang kakak basuh, bisa gawat nanti," gumam Bayu sambil meneruskan kegiatannya membasuh wajah Diandra.


"Ma-maaf," sahut Diamdra lirih, wajahnya sudah benar-benar memerah.


"Nanti dada dan perut Rara basuh sendiri ya, Cutie," ucap Bayu sambil berjalan memutari ranjang untuk membasuh punggung Diandra.


Namun Bayu malah mengumpat dalam hati saat melihat punggung Diandra, karena langsung membangkitkan sesuatu yang tertidur.


'Darn it, why'd you suddenly wake up,' umpat Bayu dalam hati.


Setelah membasahi kembali handuk kecil yang dipakai membasuh muka Diandra tadi, Bayu mulai membasuh leher jenjang Diandra dengan tangan bergetar. Beberapa kali jarinya tak sengaja menyentuh kulit Diandra dan sengaja atau tidak, Diandra mengeluarkan ******* lirih yang membuat Bayu semakin kacau.


"Cutie...." bisik Bayu yang entah sejak kapan wajahnya sudah berada di dekat leher Diandra.


"Kaak?" desah Diandra lirih saat Bayu mulai menyentuhkan bibirnya ke leher Diandra.


"So sweet, honey," Bayu terus menjelajahi leher Diandra dengan bibirnya dan meninggalkan beberapa jejak kemerahan di leher dan punggung Diandra.


Diandra yang merasakan getaran aneh di setiap sentuhan bibir Bayu hanya bisa mendesah tertahan dan tangannya mencengkeram erat selimut yang menutupi tubuh bagian depannya.


Tiba-tiba suara ketukan pintu menyadarkan Bayu yang langsung menghentikan kegiatannya.


"Cutie, maafkan kakak...." gumam Bayu sambil memeluk Diandra dari belakang.


"Nggak apa-apa, kak... Rara bukannya nggak suka, tapi rasanya aneh," gumamDiandra lirih, wajahnya memerah dan matanya berkabut, getaran aneg masih bersarang di dada dan perutnya, berputar membuat sensasi yang belum pernah dia rasakan.

__ADS_1


"Cutieeee.... Jangan bilang gitu, bikin kakak ingin berbuat lebih nanti...." erang Bayu, dieratkannya pelukan di tubuh Diandra.


"Me-memang itu yang Rara rasakan kak," sahut Diandra gugup.


"Aaah.... My Cutie Pie...." gumam Bayu yang mulai mengecup leher Diandra lagi.


Namun lagi-lagi suara ketukan pintu menghentikannya, Bayu hanya bisa mendengus kesal menatap ke arah pintu yang tertutup rapat.


"Kakak tanya dulu siapa itu, Rara mau pakai baju dulu," seru Diandra yang tersenyum geli karena kekesalan Bayu.


"Ck.... Mengganggu saja," gerutu Bayu sambil beranjak mendekati pintu dan suara ketukan pintu pun terdengar lagi.


"Iya, sebentar!" seru Bayu sambil menoleh ke arah Diandra yang sedang memakai atasan piyama yang tadi sudah Bayu siapkan.


"Siapa?" tanya Bayu sedikit ketus.


"Saya, Pak Bayu," jawab seseorang dari luar ruangan yang ternyata adalah Ari.


"Ngapain datang pagi-pagi?" tanya Bayu kesal, asistennya mengganggu kemesraannya bersama Diandra.


"Pak Bayu tadi minta saya membelikan sarapan untuk Nona Diandra di Summer Palace, ini saya sudah belikan," jawab Ari, dalam hati dia tertawa geli karena berhasil menggagalkan kegiatan mesum bosnya.


Tadi Ari sempat melihat Bayu sedang menciumi leher Diandra dari celah kaca yang ada di daun pintu. Ada sedikit rasa tidak rela melihat Bayu menciumi lehrr dan punggung Diandra yang terlihat sangat halus dan lembut, jujur saja, Ari masih ada sedikit rasa suka pada Diandra, tapi karena tahu bagaimana perasaan Diandra kepada Bayu, mau tak mau, Ari harus mengubur perasaannya. Tapi tetap saja, saat dia melihat Bayu dan Diandra bermesraan, ada rasa tidak rela menyerangnya dan membuatnya ingin berbuat usil pada bosnya, seperti sekarang ini.


Bayu membuka pintu saat Diandra sudah selesai memakai baju, dan meminta Ari masuk.


Bayu segera melangkah mendekati ranjang Diandra dan membantunya menyisir rambut panjang bergelombangnya.


"Selamat pagi, nona, bagaimana keadaan anda?" sapa Ari dengan bahasa formalnya.


"Selamat pagi Kak Ari, Rara baik kak, terima kasih," sahut Diandra, Bayu mengernyit tak suka.


"Nona bisa panggil saya Ari saja, tanpa sebutan 'Kak', saya hanya asisten Pak Bayu," ucap Ari setelah mendapat pelototan dari Bayu.


'Duh bosku ini, masa ya cemburu hanya karena sebutan kak, nggak mutu banget,' gerutu Ari dalam hati.


"Nggak sopan namanya, Kak Ari dan Kak Bayu kan seumuran, masa panggil nama aja ke Kak Ari? Lagian kan yang atasan Kak Ari itu Kak Bayu, buka Rara," sahut Diandra.


"Tapi itu perintah dari Pak Bayu," helah Ari.


"Kalau Rara nggak suka? Mau maksa?"protes Diandra kesal.


Bayu memijat pelipisnya, lalu menatap jengkel ke arah Ari.


"Turuti apa yang Rara mau, yang penting dia nyaman," ucap Bayu mengalah.


"Baik, Pak Bayu," sahut Ari yang terkekeh di dalam hati, akhirnya tiba juga hati di mana seorang Bayu yang dominan bisa dikontrol emosinya oleh seorang gadis.

__ADS_1


__ADS_2