
Dalam ruang rawat inap VVIP nampak Diandra sedang duduk bersandar di atas ranjang perawatan dan ada seorang pemuda dengan usia yangmungkin sepanyatan dengan Jim sedang berdiri tegak di depannpintu dengan canggung.
"Duduklah, Mas Bayu sedang ke ruangan Kak Dimas, tunggulah sebentar," ucap Diandra mempersilakan duduk sang pemuda.
"I-iya Lady Boss, terima kasih," sahut Sangaji gugup, dia begitu terpana melihat kecantikan wajah Diandra, dan sekarang dia mendengar suara merdu Diandra mengalun manja.
"Lady Boss?" tanya Diandra mengernyit tak suka.
"I-iya, Lady Boss, karena anda adalah calon istri Boss Bayu," jawab Sangaji takut-takut.
"Diandra saja, saya nggak suka panggilan terlalu kaku dan formal seperti itu, lagi pula sepertinya usia kita tak berselisih banyak," sahut Diandra sambil tersenyum.
'Darn it, her smile is so pretty,' pekik Sangaji dalam hati.
"Ta-tapi, nanti Boss Bayu...." tolak Sangaji cemas.
"It's fine with him, siapa namamu?" tanya Diandra ramah.
"Sa-Sangaji," jawab Sangaji gugup, berusaha mengontrol detak jantungnya yang berdebum seolah ingin meloncat keluar.
"Sangaji ya, boleh kupanggil Aji? Aku rrasa kamu dan Jim sama usianya," ucap Diandra, tak lupa dia tersenyum pada Sangaji.
"Ah, saya 2 tahun lebih muda, Lady Boss," jawab Sangaji.
"Ck.... Sudah kubilang panggil nama, aku tak suka dipanggil dengan sebutan itu, dan lagi kalau kau lebih muda 2 tahun dari Jim berarti usia kita sama, rasanya geli dipanggil dengan sebutan itu sama orang yang usianya sama," gerutu Diandra, wajahnya berubah cemberut dan masam, namun malah terlihat imut dan menggemaskan, Sangaji mati-matian menahan diri karena ingin rasanya dia mencubit pipi sang Lady Boss.
"Tapi nanti Boss Bayu...." tolak Sangaji panik.
"Aku kenapa?" tanya Bayu yang tiba-tiba sudah berada di belakang Sangaji.
"A-anu... Itu... Lady Boss..." jawab Sangaji gugup.
Bayu memicingkan matanya lalu menatap Diandra.
__ADS_1
"Aku nggak suka dipanggil Lady Boss, geli, jadi aku minta dipanggil nama aja sama Aji," ucap Diandra saat melihat tatapan Bayu yang penuh tanda tanya.
"Aji?" Bayu mengernyit.
"Namanya Sangaji, jadi kupanggil aja dia dengan sebutan Aji, nggak boleh?" sahut Diandra sambil menatap Bayu.
"Hah.... Boleh, dan kau Sangaji, panggil Rara dengan nama saja, aku nggak mau Rara ngambek," perintah Bayu pada Sangaji dan membuat Sangaji memandang tak percaya, karena saat mengatakan kalimat tersebut, Bayu menatap Diandra dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.
Sangaji bergidik, benar kata Jim dan Ari, Sang Boss sedang bucin tingkat dewa.
"Ada apa kesini?" tanya Bayu sambil menunjuk sofa tanda memerintah Sangaji untuk duduk.
"Ah, ini Boss, Jim meminta saya untuk mengantar ini, dia tidak bisa kemari karena sedang diawasi," jawab Sangaji sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berukuran 6cm x 6cm x 6cm.
"Oh," Bayu menerima kotak itu dan meletakkannya ke dalam laci nakas di samping ranjang Diandra.
"Kalau begitu, saya pamit dulu Boss," ucap Sangaji sambil membungkukkan badannya.
"Hmmm...." sahut Bayu pendek.
Namun apa yang ditakutkan Sangaji tak terbukti, malah Sangaji harus rela matanya ternoda oleh public display affection antara Bayu dan Diandra.
"Apa sih, Cutie?" gerutu Bayu sambil mencubit pipi Diandra yang terlihat kesal dengan muka cemberutnya.
"Mas ini kebangetan sama subordinate, mbok ya bilang makasih atau apa lah gitu, sudah dibela-belain antar barang sampai sini di hari libur, nggak kasihan?" omel Diandra tanpa henti.
"Kan sudah tugasnya, Cutie. Lagian hitungannya lembur, dibayar kok," sanggah Bayu.
"Tetap aja nggak sopan, mas kok jadi ketularan arrogant sih? Bilang terima kasih dan maaf ke Aji," sungut Diandra.
"Hah?" Bayu dan Sangaji melongo kaget.
'Duh Lady Boss ini, mana mau Boss Bayu bilang terima kasih apa lagi maaf sama bawahan dia' pekik Sangaji dalam hati, dia sudah siap-siap mendengar amukan Bayu.
__ADS_1
"Kok hah sih?" gerutu Diandra.
"Buat apa sih sayang, lagian gaji Sangaji juga sepadan kok sama tugasnya," tolak Bayu.
"Mas, mau gaji sebesar apapun, nggak ada salahnya kita ucap terima kasih pada karyawan atau pekerja yang ada di bawah kita, justru mengucap kata terima kasih pada mereka bisa sedikit mengurangi rasa penat dan juga bisa nambah semangat kerja mereka, dan Mas Bayu perlu meminta maaf juga karena meminta Sangaji bekerja di hari Minggu," jelas Diandra, diam-diam Sangaji merasa terharu mendengar perkataan Diandra.
Lembut hati banget calon Lady Bossnya, beruntung sekali dirinya dan juga kawan-kawannya jika Lady Boss mereka seperti ini.
"....." Bayu diam saja, apa yang Diandra katakan ada benarnya.
"Rara bilang gini karena dulu papa dan mama ngajarin Rara dan Kak Danu untuk selalu berterima kasih pada siapapun yang sudah menolong kami, entah itu karyawan papa dan mama ataupun orang asing," sambung Diandra.
Bayu masih tetap diam, sementara Sangaji merasa bingung antara pergi atau menunggu.
Kesal karena Bayu tetap membisu, akhirnya Diandra membuka suara lagi, "Terima kasih ya Aji, sudah mau repot-repot mengantar barang kemari, dan maaf kalau waktu liburmu jadi terganggu," ucap Diandra tulus.
"Ah, sama-sama Lady Boss, sudah tugas saya melayani Boss Bayu dan keluarga," sahut Sangaji, hatinya tersentuh mendengar ucapan tulus Diandra.
"Diandra, bukan Lady Boss, ok?" ucap Diandra menegaskan kalau dia tak suka dengan julukan Lady Boss.
"Ba-baik Lady... Eh... Diandra," sahut Sangaji gugup, "Kalau begitu saya pamit dulu, Boss... Diandra," sekali lagi Sangaji pamit mohon diri, lalu setelah mendapat tanggapan berupa senyuman dari Diandra, Sangaji segera berbalik, namun saat dia hendak memutar knob pintu, suara Bayu menghentikan gerakannya.
"Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini, besok ambillah cuti sebagai ganti lembur hari ini," ucap Bayu datar namun mampu membuat bulu kuduk Sangaji meremang.
Diandra tersenyum senang.
"Te-terima kasih Boss.... Saya pamit dulu," ucap Sangaji buru-buru, takut bakal terjadi sesuatu karena perubahan sikap Bayu yang tiba-tiba.
Saat sudah berada di luar ruang rawat inap yang ditempati Diandra, Sangaji berulang kali mencubit lengannya dan juga memukul pipinya sendiri untuk memastikan apakah dia bermimpi atau memang kejadian tadi nyata.
Setelah merasakan sakit dan memar di lengan dan pipinya, barulah Sangaji yakin kalau dia tidak sedang bermimpi. Sangaji bersorak riang dalam hati, calon Lady Boss mereka benar-benar berhati malaikat dan mampu menaklukan Bayu dengan mudah bahkan mengontrol emosinya semudah membalik telapak tangan.
'Akhirnya nggak cuma Jim yang bisa sombong kalau sudah diperlakukan dengan baik sama Lady Boss, aku juga bisa nyombong sekarang, hahahahaha,' gelak Sangaji dalam hati.
__ADS_1
Buru-buru dia mengeluarkan ponselnya lalu mengunggah status update di wall social media miliknya.
"First time meeting with Lady Boss, she's indeed a beautiful and angelic lady, we're lucky to have her as our Future Lady Boss,' ( Pertama kali bertemu dengan Lady Boss, memang wanita yang sangat cantik dan berhati malaikat, kita sungguh beruntung memilikinya sebagai Lady Boss kita ), unggahnya, dan langsung saja terjadi keriuhan di kolom komentar seperti pada social media Ari tadi pagi.