Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Mama Gina


__ADS_3

Esok harinya, Bayu terbangun karena mendengar gelak tawa renyah dari luar kamarnya. Setelah merenggangkan otot-otot tubuhnya, Bayu bergerak turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar.


Saat keluar dari kamar dia melihat Bi Tami tengah mencuci beberapa peralatan masak, sedangkan Diandra tengah mengaduk sesuatu di sebuah panci keramik di atas kompor yang menyala kecil. Harum aroma masakan menguar dan menggelitik indra penciuman Bayu.


Bayu melangkah ke arah dapur dan berdiri di depan counter table dan memperhatikan Diandra yang belum menyadari keberadaan Bayu, sedangkan Bi Tami hanya mesam mesem melihat Tuan mudanya menatap Diandra dengan tatapan penuh hasih sayang dan mendamba.


Setelah dirasa cukup matang, Diandra mematikan kompor kemudian mulai memotong ham choi ( sayur asin ) dan fish cake, tak lupa Diandra juga membumbui daging sapi cincang dengan garam, lada, gula, saus tiram, minyak wijen dan kecap asin, lalu ditambahkannya sedikit daun olive yang diawetkan dalam minyak dan garam. Setelah itu Diandra mulai sibuk menumis ham choi dan fish cake, dilanjutkan dengan masakan ketiganya sapi cincang daun olive dan buncis.


Setelah semua matang, Diandra menuangkan masakannya ke dalam piring-piring saji, tak lupa juga dia menyiapkan stinky tofu kesukaan Bayu yang wajib ada jika menu makannya adalah bubur.


Setelah semua siap, Diandra berniat menyusunnya di meja, dan saat dia berbalik dia terkejut saat melihat Bayu sudah ada di dekat counter table dan memandanginya.


"Ah, kaget.... Kapan kakak bangun?" tanya Diandra yang berjalan tertatih menuju meja makan.


"Sejak Rara aduk bubur di panci keramik tadi," jawab Bayu, diraihnya piring berisi tumis ham choi dan tumis buncis daging sapi, lalu diletakkannya di meja makan, kemudian Bayu kembali berjalan ke arah Diandra dan dengan sekali gerakan ringan, dia mengangkat Diandra dan menggendongnya menuju meja makan dan mendudukkannya di kursi tepat di sebelah kursi yang biasa Bayu duduki.


Bi Tami yang menyaksikan sikap Bayu kepada Diandra jadi deg-degan dan juga bahagia, berharap keduanya segera menikah dan bisa selamanya bersama.


"Bi Tami, ayo kita sarapan sama-sama sekalian ajak Pak Bi dan Toyo ," ajak Bayu yang keluar dari dapur membawa panci keramik berisi bubur panas.


"Kami nanti saja, tuan. Silakan Tuan Bayu dan Non Diandra sarapan duluan saja, takut kami mengganggu," tolak Bi Tami setengah menggoda Bayu dan Diandra.


"Nggak ganggu, kita kan keluarga, cepat-cepat keburu masakan Rara dingin," desak Bayu sambil tersenyum sumringah.


"Iya bi, lama kita nggak ketemu kan, kita bisa ngobrol-ngobrol, dulu kan Bi Tami sering ajak Rara main kalau Rara ke rumah Kak Bayu," paksa Diandra sambil memperlihatkan puppy eyes pada Bi Tami, dan akhirnya wanita paruh baya itu luluh dan segera memanggil suaminya, Pak Bi dan juga driver Bayu, Mas Toyo.


Akhirnya mereka berlima duduk di meja makan minimalis dan Diandra dengan sigap mengambilkan bubur untuk Bayu, Bi Tami, Pak Bi dan Toyo.


Setelah seluruh mangkuk terisi mereka duduk tenang dan berdoa bersama sebelum menyantap hidangan di hadapan mereka. Usai berdoa, mereka mulai menyuapkan makanan ke mulut mereka masing-masing. Bayu, Bi Tami, Pak Bi dan Toyo takjub dengan rasa masakan Diandra.


"Cutie.... Enak bangeeeet," puji Bayu yang langsung makan dengan lahap bahkan tambah sampai tiga kali. Bi Tami dan Pak Bi tak henti-hentinya memuji Diandra, Toyo yang pada dasarnya pendiampun berkali-kali mengacungkan ibu jarinya ke arah Diandra.


Mendapat perlakuan yang luar biasa seperti itu Diandra jadi tersipu malu dan kikuk.


Selesai makan, Diandra ingin membantu Bi Tami membereskan meja dan mencuci piring dan mangkuk kotor bekas mereka makan, tapi Bi Tami dengan tegas melarangnya dan meminta Diandra duduk dan beristirahat saja mengingat lutut Diandra masih cidera. Akhirnya Diandra menurut setelah mendapat omelan bertubi-tubi dari Bi Tami, Diandra memilih mandi dan segera berganti pakaian, karena harus ke rumah sakit memeriksakan lututnya.

__ADS_1


Selesai mandi, Diandra keluar dari kamar dengan langkah tertatih, Bayu masih berada di dalam kamar, karena setelah sarapan dia harus menghandel beberapa pekerjaan dari rumah sebelum diserahkan pada Ari karena hari ini Bayu akan ijin seharian.


Diandra duduk di sofa ruang keluarga sambil memainkan ponselnya dan membalas pesan dari Danu yang memberitahunya kalau akan tiba di rumah sakit tepat pukul 10:00.


Bayu keluar dari kamar dengan penampilan casualnya, trouser pant warna kelabu tua dan polo t-shirt berwarna blue grey membuat Bayu terlihat beberapa tahun lebih muda, dengan tatanan rambut yang dibuat messy dan kacamata frame light grey yang membaur sempurna dengan warna kulitnya yang cerah dan bersih, garis rahangnya terbentuk sempurna dengan hidung mancung dan senyuman yang khas di bibir tipisnya yang menggoda.


Bayu menghampiri Diandra dan memeluk bahunya dari belakang, kemudian Bayu membenamkan wajahnya di kepala Diandra dan menghirup aroma Diandra dalam-dalam.


"Cutie Pie, my honey little bee...." bisik Bayu.


"Big Bun apaan sih, ga jelas pagi-pagi gini," omel Diandra pura-pura kesal.


Bayu terkekeh geli, gemas dengan wajah pura-pura kesal Diandra. Bayu melompat ke sofa dan mendarat tepat di samping Diandra.


"Kita berangkat ke rumah sakit nanti jam 09:00, masih ada satu jam, jadi bisa santai dulu," Bayu memeluk bahu Diandra dan mengecup keningnya, Diandra menyandarkan kepalanya di dada Bayu dan tangannya melingkar di pinggang dan memeluknya. Bahagia bisa bermanja-manja dengan lelaki yang dicintainya, ditambah lagi lelaki ini juga mencintainya.


BRUAK!!!!


"Bayuuuuuuuu, mana calon mantu mamaaaaa....." tiba-tiba teriakan lantang menggema mengejutkan dua insan yang sedang memadu kasih, seiring dengan suara pintu yang terbuka dengan kencang.


"Rara.... Rara.... Ini Rara kan? Cutie Pie Rara? Iya kan?" Gina mengusap wajah Diandra beberapa kali meyakinkan bahwa di hadapannya benar-benar Diandra dan dia tidak bermimpi.


"Tante Gina.... Apa kabar, tante...." ucap Diandra terbata menahan tangis.


"Aaaah.... Cutie Pie kesayangan tante...." Gina memeluk erat tubuh Diandra dan menciumi wajah Diandra di sela isakan tangisnya. Rasa rindu, sayang, bahagia dan lega bercampur menjadi satu. Bayu yang melihat betapa sang mama merindukan Diandra ikut berkaca-kaca, dipeluknya kedua orang wanita yang dia sayangi itu.


Beberapa saat kemudian, setelah Gina menenangkan diri, dia melepas pelukannya dari tubuh Diandra, lalu dia memelototi Bayu.


"Anak nggak pengertian, sudah ketemu Rara tapi mama nggak dikabarin," omel Gina sambil memukuli bahu Bayu.


"Aduh... Aduh, ma.... Sakit... Mama apa-apaan sih?" protes Bayu sambil meringis kesakitan.


"Tante, jangan pukuli kak Bayu, kami baru ketemu beberapa hari yang lalu kok, tante," Diandra menghentikan Gina memukuli Bayu.


Gina mengernyit, lalu menyeringai aneh.

__ADS_1


"Mama apaan pasang muka begitu? Serem!" ucap Bayu saat melihat ekspresi mamanya yang menyeringai aneh.


"Jadi calon mantu mama itu Rara? Waaaah, cocok banget.... Eh tapi masalah Haryo itu gimana?" tanya Gina antara bahagia dan juga cemas.


"Danu akan bicara sama Kakek Cokro, ma." jawab Bayu.


Diandra memandang Bayu dan Gina bergantian, tak paham dengan masalah yang mereka bicarakan.


"Nanti kakak cerita ke Rara," ucap Bayu saat melihat kebingungan di tatapan Diandra.


"Iya kak," sahut Diandra sambil tersenyum manis membuat Bayu gemas dan tanpa aba-aba Bayu mengecup bibir Diandra yang terlihat basah dan menggiurkan.


"Kak, ada Tante Gina," protes Diandra sambil membenamkan wajahnya di dada Bayu karena malu dicium Bayu di hadapan mama Bayu.


"Nggak apa-apa, mama juga pernah muda, Ra," sahut Bayu cuek, membuat Gina melongo, anaknya yang selalu berwajah datar, irit kata-kata, dan tak pernah bergaul dengan wanita, bisa juga bertingkah menyebalkan dan memanjakan wanitanya.


"Rara jangan panggil tante lagi dong, panggil mama ya?" bujuk Gina penuh harap.


"Ma-mama?" Diandra mengulang permintaan Gina dengan gugup.


"Iya, kan calon mama mertua, anggap saja tante seperti mama Rianti ya, tapi juga mama mertua, ok?" bujuk Gina setengah memaksa.


"Ma!!!" sela Bayu yang kesal dengan mode memaksa ala sang mama.


"Apa? Kan bener mama mertua? Memangnya kamu nggak ada niatan menikah sama Rara?" tanya Gina kesal.


"Ma.... Bayu bahkan belum meminta ijin ke Danu dan kakek nenek Rara," sahut Bayu jengkel, sementara Diandra semakin membenamkan wajahnya ke dada bidang Bayu.


" Ya buruan minta ijin, dasar lelet!" ejek Gina.


"Iya, nanti habis antar Rara dari rumah sakit," sahut Bayu sambil mengusap kepala Diandra dan memintanya tenang dan tak perlu menuruti permintaan Gina. Diandra mengangguk dan dengan gugup dia menatap Gina.


"Ma-Mama Gina," gumam Diandra lirih karena masih malu dan canggung.


Dipanggil 'Mama' oleh Diandra membuat Gina melambung, lalu Gina memeluk erat Diandra setelah mendorong Bayu menjauh, saking kuatnya dorongan Gina, Bayu sampai jatuh terpental di atas sofa.

__ADS_1


__ADS_2