Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Wajah Lempeng Dengan Gombalan Maut


__ADS_3

Ari meletakkan sarapan yang dibelinya dari Summer Palace di atas coffee table.


"Pak Bayu, ini sarapannya, silakan dinikmati, saya pamit dulu," pamit Ari.


"Kak Ari sudah sarapan?" tanya Diandra.


"Sudah, nona.... Eh... Di," jawab Ari gagap.


"Oh, kalau belum sarapan sama-sama saja," ajak Diandra, Bayu bersungut-sungut mendengarnya.


"Sudah sarapan tadi, Di, makasih tawarannya, saya pamit dulu, ya," Ari buru-buru keluar dari ruang rawat inap Diandra sebelum Bayu membabatnya habis.


Diandra mengerutkan keningnya, lalu dia menoleh ke arah Bayu yang terlihat sedang tersenyum puas saat orang yang dia anggap mengganggu akhirnya pergi.


"Kakak jangan galak-galak sama karyawan kakak, jangan kaya si Muka Batu, Rara ngga suka," gerutu Diandra.


"Kakak nggak galak, Cutie.... Kakak nggak suka aja kalau ada yang genit-genit sama Rara," Bayu membela diri.


"Genit gimana sih kak?" tanya Diandra bingung.


"Suatu saat nanti Cutie bakalan ngerti, sekarang sarapan dulu, tadi kakak minta Ari beliin bubur scallops sama side dish kesukaan Cutie," jawab Bayu sambil menata rapi makanan yang Ari beli di atas meja sorong yang biasa digunakan pasien untuk makan.


Aroma harum scallops dan minyak wijen menguar saat Bayu membuka satu persatu penutup kotak makan yang sudah tersusun rapi di meja.


Diandra menelan ludah dan tiba-tiba perurnya berbunyi dengan keras, tanda dia kelaparan.


"Ehehehe.... Rara lapar," kekeh Diandra saat Bayu menatapnya geli.


"Kakak suapi, ya," ucap Bayu yang segera duduk di samping ranjang Diandra dan mengambil sendok untuk menyuapi Diandra.


"Rara makan sendiri saja, kak, biar Kak Bayu bisa makan bareng Rara," tolak Diandra, tangannya hendak meraih sendok yang dipegang Bayu.


"Kita bisa makan sama-sama, sayang," Bayu sedikit mengaduk bubur di dalam mangkuk, meniupnya perlahan, lalu mulai menyuapkannya bergantian ke mulut Diandra lalu ke mulutnya sendiri.


"Enak?" tanya Bayu.


"Enak, karena disuapi Kak Bayu," jawab Diandra malu-malu.


Bayu yang gemas melihat ekspresi Diandra, langsung mencuri cium di bibir Diandra.


"Big Bun, ah," gerutu Diandra sambil menutup wajahnya.


"Hehehe...." Bayu hanya terkekeh dan melanjutkan menyuapi Diandra sambil sesekali mengusapkan ibu jarinya ke sudut bibir Diandra untuk menghapus ceceran bubur atau bekas minyak yang tak sengaja melekat di sana.


Setelah selesai sarapan, Bayu membereskan alat makan bekas pakai dan membuangnya ke tempat sampah, lalu dia mengambil handuk basah untuk membersihkan mulut dan tangan Diandra, lalu membantunya menggosok gigi.


"Cutie, kakak mandi dulu ya, kalau Ari datang bawa baju ganti suruh taruh di meja saja, langsung suruh dia pulang," ucap Bayu.


"Iya kak iya.... Cepat mandi sana," sahut Diandra.


Bayu segera masuk ke kamar mandi sambil terkekeh lirih.


Tak berapa lama, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

__ADS_1


"Masuk," seru Diandra mempersilakan masuk si pengetuk pintu.


Perlahan pintu terbuka, terlihat Jim berjalan masuk dan menyapa Diandra.


"Hi Di, gimana keadaanmu?" sapa Jim sambil tersenyum memperlihatkan sederet gigi jagungnya.


"Hi Jim, Puji Tuhan baik, terima kasih," balas Diandra.


Lalu muncul dua orang kesayangannya di belakang Jim


"Kakek... Nenek...." seru Diandra senang, dia rindu walau baru 2 hari tidak bertemu.


"Ah cucuku.... Kenapa bisa begini, nak?" ratap Nenek Sundari sambil memeluk Diandra, sementara Kakek Broto membelai kepala Diandra dengan lembut.


"Namanya musibah, nek.... Rara sudah nggak apa-apa kok," hibur Diandra.


"Kakek sama nenek akan menginap di sini untuk mengurusmu, setelah diijinkan pulang, Rara pulang ke rumah ya?" bujuk Nenek Sundari.


"Rara akan tinggal di rumah saya, Nek... Dan selama di sini, saya yang akan menjaganya, Kakek dan Nenek tidak perlu khawatir," sahut Bayu yang baru keluar dari kamar mandi, dia terkejut saat mendengar perkataan Nenek Sundari yang akan membawa Diandra pulang, dia tidak mau lagi berpisah dengan Diandra walau hanya sepersekian detik. ( Lebay ).


"Tapi Nak Bayu kan harus kerja, kami nggak enak kalau Nak Bayu sampai repot mengurus Rara," tolak Nenek Sundari.


"Rara kan calon istri saya, nek, jadi tidak ada kata repot kalau berkaitan dengan Rara," sahut Bayu sambil menatap Diandra dengan penuh kasih.


Jim yang mendengar kata-kata Bayu auto tersedak ludahnya sendiri.


'Sialan si Boss ini, wajahnya lempeng gitu tapi gombalannya maut,' pekik hati Jim yang meronta-ronta.


Bayu menoleh ke arah Jim dan menatapnya dengan tatapan setajam pisau.


"Eh, apa Rara sudah setuju mau menikah dengan Nak Bayu?" tanya Nenek Sundari.


"Rara bersedia, Nek," jawab Diandra malu-malu.


"Nanti kalau Rara sudah boleh keluar dari rumah sakit, Bayu akan melamar Rara secara resmi," sambung Bayu.


Kakek Broto dan Nenek Sundari tersenyum bahagia, sementara Jim tersenyum kecut, karena Boss nya ternyata langkahnya gesit juga, baru beberapa hari menjalin hubungan, eh.... Langsung dilamar. Nggak ada kesempatan nikung dong.... Oops....


"Kakek dan Nenek sudah sarapan?" tanya Bayu sopan.


"Sudah tadi di rumah, Jim dan dua temannya juga sudah sarapan, mereka bertiga anak-anak yang manis ya, nurut dan baik sekali," jawab Nenek Sundari seraya membelai kepala Jim.


Jim tersenyum bahagia saat merasakan belaian lembut penuh kasih sayang di kepalanya, Jim dan teman-temannya di training center keluarga Senoaji adalah yatim piatu, mereka di rawat di panti asuhan milik Keluarga Senoaji, dan mereka dipilih karena bakat dan potensi yang mereka miliki.


Jadi seumur hidup Jim, dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah ataupun ibu, walau Tuan dan Nyonya Besar Senoaji memperlakukannya dan teman-temannya sangat baik, tapi belaian dan kasih sayang orang tua tak mereka dapatkan secara utuh.


"Kami hanya melaksanakan perintah dari Boss Bayu, Nyonya," sahut Jim.


"Sudah berapa kali kami bilang, panggil kakek dan nenek saja," omel Nenek Sundari kesal.


"Tapi kan Nyonya...." tolak Jim


"Jim, nurut sama nenek saja, ketimbang harus dengar omelannya seharian, bikin cape jiwa raga, lho," gurau Diandra tapi diucapkan dengan serius membuat Nenek Sundari mendelik marah ke arahnya.

__ADS_1


Semua orang tergelak karenanya kecuali Nenek Sundari yang mencubit pipi Diandra sampai merah karena kesal.


"Aduuuuuh.... Sakit neeeek.... Lihat kan Jim, kalau nggak nurut kamu akan mengalami KDRT.... aaaaaah..... ampun neeeek," pekik Diandra lagi saat Nenek Sundari kembali mencubit pipinya.


"Awas saja, Nenek nggak akan buatkan kamu Bakchang sama moon cake lagi biarpun kamu merengek sampai bengek," ancam Nenek Sundari.


"Maafkan Rara nek, Rara hanya bercanda," rajuk Diandra sambil memeluk neneknya dengan manja.


"Ck.... Dasar manja, herannya kok ya Bayu mau sama kamu," dumel Nenek Sundari, Bayu tersenyum mendengarnya.


"Soalnya Diandra cantik dan imut, nek," celetuk Jim yang langsung dipelototi Bayu.


'Whoops..... Keceplosan.... Mulut ini nggak berpendidikan banget sih,' rutuk Jim dalam hati.


"Cucu kami memang cantik, kalau bukan karena kakaknya yang overprotective sudah pasti banyak lelaki yang ngerubungin Rara," ucap Kakek Broto sedikit kesal.


Walau dia senang punya cucu yang cantik, tapi dia sangat kesal dengan banyaknya lelaki entah yang masih bujangan ataupun duda yang tak segan-segan datang meminang cucu perempuannya.


"Mulai sekarang Bayu yang akan menjaga Rara, kek," hibur Bayu, dia sudah berada di samping ranjang Diandra, sementara Kakek Broto dan Nenek Sundari sudah duduk di sofa.


"Kakek, Nenek... Saya akan berangkat ke kampus dulu karena ada kuliah pagi, nanti sekitar jam 10 saya akan kembali kesini untuk menjemput Kakek dan Nenek," ucap Jim undur diri saat melihat arlojinya sudah menunjukkan pukul 07:15.


"Iya.... Pergilah, hati-hati di jalan dan belajar yang benar, nggak usah buru-buru jemput kami, selesaikan semua urusanmu dulu," sahut Kakek Broto sambil tersenyum, begitupun dengan Nenek Sundari.


"Baik, Kek, terima kasih..." Jim menyalami dan mencium punggung tangan Kakek Broto dan Nenek Sundari, lalu dia berpamitan pada Bayu dan Diandra.


"Boss... Saya pamit dulu, Di.... Istirahat yang cukup ya, biar cepat pulih," pamit Jim sambil tersenyum kaku ke arah Bayu.


"Hmmm..." sahut Bayu, tapi Diandra mencubit lengannya dengan gemas, mau tak mau Bayu membalas Jim dengan senyuman dan berkata, "Hati-hati, belajar yang serius," dengan nada datar membuat Jim merinding seketika.


"Ba-baik Boss," jawab Jim kaku.


"Makasih ya Jim.... Ah, bisa minta tolong, Jim?" tanya Diandra.


"Apa Di?" Jim balik bertanya, sedangkan Bayu bersungut tak senang.


"Aku ingin makan gado-gado Colombo, bisa tolong belikan?" pinta Diandra malu-malu.


"Bisaaaa.... Nanti ya, pulang kuliah aku bawain," jawab Jim.


"Yes.... Ekstra bakwan dan kerupuk ya," pinta Diandra sambil tersenyum super lebar.


"Beres.... Pergi dulu ya, bye Di," Jim membalas senyuman Diandra dan melambai padanya sebelum berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan Diandra.


"Bye Jim, hati-hati..." balas Diandra yang juga melambaikan tangannya.


Bayu cemberut melihat keakraban Diandra dengan Jim, kesal sekali rasanya.


"Jangan genit-genit sama Jim, kalau mau gado-gado, kalak bisa minta Ari beli," gerutu Bayu.


"Dih, apaan sih, cemburu sama Jim?" goda Diandra.


"Nggak suka aja Cutie akrab sama dia," gerutu Bayu lagi.

__ADS_1


"Hehehe.... Hati Rara sudah Rara kasih buat kak Bayu sejak dulu, sudah nggak bersisa buat orang lain," gombal Diandra sambil tersenyum manis, membuat Bayu gemas, kalau saja dia rak ingat ada kakek dan nenek Diandra di sini, Bayu sudah menerkam Diandra dan menciumnya habis-habisan.


__ADS_2