
Setelah absen, Bayu memapah Diandra berjalan menuju lobby perusahaan. Bayu melihat Haryo masih menunggu di sana dengan sabar.
Diandra belum menyadari kalau Haryo berdiri di lobby karena dia masih berkonsentrasi untuk berjalan. Bayu memapahnya menuju sofa yang ada di lobby perusahaan dan mendudukkan Diandra di sana.
"Rara di sini dulu ya, kakak ambil mobil dulu, kasihan ade kalau harus jalan ke mobil, sebentar saja kok ya," pinta Bayu sambil mengusap kepala Diandra dengan penuh kasih sayang. Haryo yang tak sengaja menoleh dan melihat kejadian itu sedikit meradang, dia menatap ke arah Bayu dan Diandra dengan pandangan yang sulit diartikan.
Haryo berjalan mendekati mereka berdua. Bayu yang melihat Haryo datang langsung tersenyum.
"Yo, titip Rara dulu, aku ambil mobil di parkiran, kasihan kalau Rara harus jalan sampai sana," ucap Bayu yang langsung melangkahkan kakinya keluar lobby menuju tempat parkir mobil.
Haryo menatap Diandra dengan tatapan sendu, karena Diandra sama sekali tak mau melihatnya.
Merasa risih ditatap intens oleh Haryo, Diandra mendengus kemudian menyapanya.
"Selamat sore Pak Haryo," sapanya.
"Bukankah terlambat kalau kamu baru menyapa saya sekarang? Padahal kamu sudah tahu saya di sini sedari tadi," sahut Haryo sedikit sarkas, tapi Haryo langsung tertegun, tak seharusnya dia membalas Diandra dengan perkataan seperti itu, karena hanya akan lebih membuat Diandra membencinya.
"Oh, kalau gitu saya tarik kembali sapaan saya," balas Diandra sengit. Haryo mencelos mendengarnya.
"Dira, maafkan kakak! Kakak mohon jangan perlakukan kakak seperti ini, Dira tau kan, betapa sayangnya kakak ke Dira?" Haryo duduk di samping Diandra dan memohon padanya, beberapa karyawan yang lewat takut-takut melirik mereka.
"Kak Haryo yang Rara kenal bukan Pak Haryo yang ada di depan Rara sekarang," sahut Diandra ketus.
"Dira, kasih kesempatan buat kakak merubah sifat keras kakak," pinta Haryo sambil memegang lengan Diandra.
Diandra meringis kesakitan karena Haryo memakai sedikit kekuatan untuk memegang lengannya.
Tapi Diandra diam saja tak mengaduh, hanya wajahnya sedikit memucat menahan sakit.
"Dira, kakak mohon," ucap Haryo lagi, tangannya semakin erat mencengkeram lengan Diandra, tapi Diandra tetap diam tak meresponse, hanya wajahnya semakin pucat dan keringat dingin mulai bergulir.
Bayu datang setelah memarkirkan mobilnya di depan pintu lobby, saat memasuki lobby dia melihat Hary mencengkeram lengan Diandra, sedangkan Diandra hanya diam menahan sakit dengan wajah memucat dan keringat dingin yang mengalir di keningnya.
Bayu buru-buru menghampiri Diandra, lalu dengan menahan emosi dia mencekal pergelangan tangan Haryo.
"Lepas, kau menyakiti Rara!!!" gertak Bayu yang membuat Haryo segera melepas cekalannya dari lengan Diandra.
__ADS_1
Sesaat setelah lengannya terbebas dari cekalan Haryo, Diandra meringis dan mengusap kedua lengannya dengan tangan gemetar. Haryo yang melihat Diandra gemetaran merasa bersalah.
"Dira, maafkan kakak, tadi kakak nggak sengaja," ucap Haryo penuh penyesalan, tangannya terulur dan hendak menyentuh lengan Diandra, tapi dengan cepat Diandra menepisnya.
"Rara nggak suka lelaki kasar," sahut Diandra dengan suara bergetar, "Pak Haryo sama saja dengan dua lelaki kasar yang hampir merusak hidup Rara, menjijikkan!" sambung Diandra sengit.
Haryo tertegun dan menatap Diandra penuh penyesalan.
"Bay, segera antar Dira ke Dimas lalu pulang, aku berangkat dulu ke Pontianak," ucap Haryo sambil bangkit dari sofa dan melangkah keluar menuju mobilnya. Bayu menatap punggung Haryo yang terlihat sedih.
"Rara, kamu nggak papa sayang?" tanya Bayu lembut.
"Rara nggak apa-apa kak," jawab Diandra sambil menatap sayu ke arah Bayu.
"Yuk, sudah ditunggu Dimas," ajak Bayu sambil meraih tangan Diandra dan membantunya berdiri, lalu dengan sabar memapahnya sampai mobil.
Setelah Diandra masuk dan duduk dengan nyaman di mobil, Bayu segera masuk dan duduk di driver seat. Dipasangkannya seatbelt untuk Diandra, lalu dengan curang dia mencuri cium sebelum memasang seatbeltnya sendiri.
Diandra tersipu mendapat serangan mendadak dari Bayu, Diandra tak menduga kalau Bayu yang dia kenal cool dan minim ekspresi bisa berubah jadi romantis dan sedikit jahil.
Bayu menjalankan mobilnya perlahan keluar dari lingkungan perusahaan, jalanan Jogja terlihat padat karena bertepatan dengan waktu pulang kerja.
"Ya kak?" sahut Diandra sambil menoleh ke arah Bayu.
"Kakak boleh minta sesuatu nggak ke Rara?" tanya Bayu.
"Minta apa kak?" Diandra balik bertanya, matanya menatap Bayu penuh selidik.
"Kakak minta Rara berbaikan sama Haryo, dia sayang sekali sama Rara, kasihan dia 10 tahun ini cari Rara dan Danu tanpa kenal lelah," ucap Bayu hati-hati.
"Rara nggak suka orang kasar, bikin Rara ingat sama orang yang hampir merusak hidup Rara, mereka berdua kasar dan suka main tangan," gumam Diandra lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
Melihat Diandra yang hampir menangis, Bayu menghentikan mobilnya tepat di saat lampu merah menyala.
Diusapnya kepala Diandra, kemudian Bayu mencondongkan tubuhnya ke arah Diandra dan mengecup keningnya.
"Rara sayang, maafkan kakak, bukan maksud kakak mengingatkan Rara tenta kejadian itu, kakak hanya ingin hubungan Rara sama Haryo kembali seperti dulu lagi," ucap Bayu sambil membelai kepala Diandra.
__ADS_1
"Rara nggak suka Kak Haryo yang sekarang," gumam Diandra.
"Kasih kesempatan dia buat berubah, dia seperti itu sejak dia merasa kehilangan kalian 10 tahun lalu," jelas Bayu, diusapnya air mata Diandra yang mulai menetes di pipinya.
"Sayang jangan nangis, cutie pie kakak kalau nangis bikin kakak sedih," Bayu mengecup kelopak mata Diandra dengan penuh kasih sayang.
"Rara sayang Kak Bayu," gumam Diandra saat Bayu mengecup kedua matanya.
"I love you Rara," balas Bayu, dikecupnya bibir Diandra sekilas, ingin rasanya dia memagut bibir Diandra, namun lampu hijau sudah menyala, Bayu harus segera menjalankan mobilnya.
Diandra tertunduk malu, wajahnya memerah, tangisnya seketika berhenti. Bayu melirik ke arah Diandra dan merasa gemas melihat tingkahnya yang malu-malu, mirip ketika dulu dia malu-malu merengek minta disuapi atau digendong olehnya.
Tangan kiri Bayu, tiba-tiba meraih tangan kanan Diandra dan membawanya ke pangkuan Bayu, sementara tangan kanan Bayu sibuk menyetir.
Mereka menikmati perjalanan dalam diam, sesekali Bayu meremas lembut tangan Diandra yang menyebabkan seluruh tubuh Diandra merinding merasakan getaran aneh di seluruh tubuhnya.
Tak berapa lama, mereka tiba di klinik Dimas yang terlihat ramai pasien.
Bayu membantu Diandra turun dan memapahnya masuk ke dalam klinik. Bayu menuju meja pendaftaran dan mengatakan kalau dia sudah membuat janji dengan Dimas. Perawat segera memberitahukan kepada Dimas, dan tak berapa lama Dimas keluar dari ruangan praktiknya.
"Tunggu sebentar di ruanganku ya, kalian telat datang, sudah jam praktik dan lumayan banyak pasien, kalian tunggu sebentar nggak apa-apa kan?" tanya Dimas setengah memohon.
"Oke, nggak apa-apa, santai aja Bro," jawab Bayu.
"Sus, tolong antar ke ruangan pribadi saya ya, siapkan teh dan beberapa camilan kalau ada, terima kasih," pesan Dimas kepada perawat yang tadi memanggilnya, perawat itu mengangguk mengiyakan, lalu segera dia mengantar Bayu dan Diandra meniju ruangan pribadi Dimas, tak lupa dia menyediakan dua cangkir teh dan beberapa jenis kue kering untuk Bayu dan Diandra. Perawat itu pergi setelah Diandra mengucap terima kasih padanya.
Bayu duduk di samping Diandra, mereka duduk di sofa kulit berwarna putih yang lembut.
"Rara ngantuk?" tanya Bayu saat melihat Diandra menguap tertahan.
"Sedikit kak, semalam nggak nyaman tidurnya," jawab Diandra.
"Tidur di sini, Dimas kemungkinan selesainya lama, tidurlah dulu," seru Bayu, diraihnya kepala Diandra dan meminta Diandra merebahkan kepalanya di atas paha Bayu.
"Tapi kak, nanti kakak cape," protes Diandra, Bayu hanya diam saja dan menatap Diandra dengan tatapan mesra. Perlahan Bayu membungkukkan badannya, mendekatkan bibirnya ke bibir Diandra, dan dengan perlahan Bayu mulai mencium bibir Diandra yang setengah terbuka.
Diandra yang tadinya terkejut dengan ciuman tiba-tiba Bayu, perlahan memejamkan mata dan menikmati buaian bibir Bayu. Beberapa saat kemudian, Bayu melepaskan ciumannya, lalu dibelainya kepala Diandra dengan lembut.
__ADS_1
"Tidurlah, Cutie Pie," bisik Bayu, Diandra pun perlahan memejamkan matanya sambil menikmati usapan lembut tangan Bayu di kepalanya.