Tiba-tiba Nikah SMA (ON GOING)

Tiba-tiba Nikah SMA (ON GOING)
Sekarat


__ADS_3

Dorrr


Semua orang tertuju pada jendela dilantai 2.Dengan mata kepala mereka dari kejauhan melihatnya.


Sedetik sebelumnya Denan langsung menjatuhkan diri ke arah jendela.Tak ada pilihan lain.Mereka akhirnya terjatuh dari lantai 2 dengan Denan jatuh terlebih dahulu.Keduanya tak sadarkan diri bersimbah darah di paving.


Semua orang langsung histeris terutama Sara dan Linna.Mereka nekad berlari ke sana padahal polisi sudah melarang.


Polisi mengambil tindakan dengan mengejar Mira yang langsung kabur dari lokasi.


"LILI!" teriak Sara mendekati Lili.Sedangkan Linna pingsan karena syok.


Willy dengan cepat memanggil ambulans agar segera ke sana.Seketika suasana menjadi panik ketika Toni memeriksa denyut nadi Denan.Sangat lemah,bahkan hampir hilang.Alika sedikit beruntung karena tak separah Denan.


"Lili,kamu harus bertahan sayang," Sara sesenggukan sambil mengelus puncak kepala Alika.


Sedangkan Dehan,Ia menangis ketakutan di samping Toni yang berusaha memberi oksigen pada Denan karena mengalami kejang.Dehan takut.Peristiwa itu terekam jelas di penglihatannya.Saudarinya terjun dari lantai dua.


Dehan memegangi kepalanya kuat.Bagaimana dia tak mau mengantar Alika dan mengharuskan Denan untuk pergi bersama Alika.Dia menyesal.Seharusnya dia yang berada di sana bukan Denan.


"Mereka nggak akan bertahan lebih lama jika menunggu ambulans,tolong pinjam salah satu mobil polisi untuk membawa Lili dan Denan ke rumah sakit," Perintah Toni pada bodyguardnya.Suaranya sedikit meninggi karena polisi malah sibuk mengejar Mira.

__ADS_1


Bodyguard itu langsung berlari untuk menjalankan perintah Toni.Tak lama,datanglah mobil polisi tersebut.


Pake mobil polisi itu biar cepet ya....


Akhirnya mereka menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi.Wajah Willy dan Toni pucat pasi.Memandang anak mereka yang mereka pangku sedang sekarat dengan darah yang tak henti-hentinya mengalir.


Sara menemani Linna dan Dehan dengan menggunakan mobil lain.


"Dimana Denan,Sara?" tanya Sara histeris,ia masih setengah sadar setelah pingsan.


Sara menahan tangis agar tak membuat Linna semakin histeris, " Mereka udah bawa Denan dan Alika ke rumah sakit,Linna.Kita akan ke sana juga," jelas Sara dengan suara bergetar.


"Ja-jadi itu nggak mimpi?" tanya Linna tak percaya.


Linna langsung memeluk Dehan yang masih sesenggukan.


"Nggak papa sayang,Nanti kakak kamu pasti main bereng sama kamu lagi.Denan pasti selamat.Tenang ya,di sini ada bunda," Lina tak henti-hentinya memeluk dan membelai Dehan yang menangis sesenggukan.


Dehan mendongak, "Ini semua gara-gara Dehan kan,Bun?"


"Kalo Dehan yang temenin Lili,pasti Denan di sini dan Dehan yang akan mati," ucap Dehan sambil memukul kepalanya menggunakan kedua tangannya.

__ADS_1


Linna menangkup kedua tangan Dehan,Bagaimana bisa putranya itu malah menyalahkan diri sendiri.Padahal tak ada hubungannya dengan dia.


"Nggak sayang,ini bukan salah kamu.Tatap mata Bunda!" Linna mencoba meyakinkan Dehan yang mulai kehilangan kendali.


"Kamu nggak salah Dehan!"


Mata Lina memerah karena air mata.Tak kuat jika putranya yang satu malah seperti ini.


"Sudah Linna,Dehan masih kecil.Dia belum tau apa yang terjadi.Nanti kita ceritakan pelan-pelan," ucap Sara.


"Nak Dehan.Benar kata Bunda kamu.Kamu nggak salah.Ada orang lain yang salah.Dan itu jelas bukan kamu," nada bicara Sara sedikit bergetar.


.


.


.


.


"Keduanya kritis.Persentase hidup sangat kecil.Apalagi Denan," ucap dokter Arya tak berani menatap Toni dan Willy

__ADS_1


...Hai salam kenal🐔🐔🐔...


__ADS_2