
Dehan segera beranjak munuju ruang BK.Mungkin kali ini Ia akan mendapat skors karena perkelahian itu.Memasuki ruang BK,Ia mendapati Rega yang duduk di bangku,tepat didepan Bu Sita, berbatas meja.Dehan yang mengingat kejadian beberapa waktu lalu merapatkan giginya,kemudian mendudukkan diri di samping Rega.
"Kalian harus berikan surat ini kepada orangtua kalian!," ujar Bu Sita memberi masing-masing satu surat.
"Baik Bu," jawab Dehan.Sedangkan Rega terlihat santai tak menjawab perkataan Bu Sita.
"Rega,kamu seharusnya belajar dari kesalahan,bukan malah ngulang mulu!," Bu Sita menasehati Rega yang memang tak bisa diatur.
Bukannya mendengarkan,Rega malah beranjak membawa surat yang ada di atas meja tanpa mengatakan satu patah katapun.Ia sudah tau apa yang akan ia lakukan ketika dalam keadaan seperti ini.Dia terbiasa mendapat masalah yang ujungnya pasti diskors.Ia tak merasa jera.
"Saya tau Regalah yang salah,jadi kamu harus mengerti dan jangan berurusan dengan Rega lagi," tutur Bu Sita.
"Baik Bu.Lain kali saya nggak akan ladenin dia lagi."
"Kamu ibu skors 3 hari,jadi kamu boleh pulang sekarang,dan obatin luka kamu."
Dehan mengangguk, "Saya permisi dulu Bu," pamit Dehan.
Dehan memasuki kelasnya yang masih jamkos.Ia masuk mengambil tasnya.Semua orang yang melihat kedatangan Dehan hanya menatapnya tanpa mau menyapa.Mereka masih terbayang bagaimana aksi Dehan yang bisa mengimbangi Rega.
"Daebak!,Dehan jago berantem juga ya?," ucap salah satu siswa.
Semua orang tak henti-hentinya memuji keterampilan Dehan dalam perkelahian itu.
Dehan langsung keluar membawa tas. Tentunya semua orang di dalam kelas tak henti-hentinya menatap Dehan hingga hilang dari penglihatan mereka.
Luna tersenyum puas melihat Dehan mendapat balasan karena telah menolaknya.Ini adalah tahap awal untuk mendapatkan Dehan.
Di sisi lain,gosip tentang Rega dan Mala sedang menguap.Ada yang senang dengan gosip itu,dan tak sedikit pula yang menentang, mencemooh, serta berkomentar pedas tentang Mala yang disebut-sebut sebagai penyebab berakhirnya hubungan antara Rega dan Luna.
Alika yang mendengar berbagai gosip itu merasa panas dan ingin membungkam mulut siapa saja yang membicarakan hal itu.Tetapi apa boleh buat,yang sedang dibicarakan malah pergi entah kemana meninggalkan tasnya.
Alika sebagai sohib juga merasa khawatir.Apalagi Mala belum menampakkan batang hidungnya hingga kini.
"La,lo dimana?,gue kesepian," gumam Alika bertopang dagu.
Ia mencoret-coret kertas di depannya,bukannya mencatat materi yang ada di papan tulis.Bel tanda berakhirnya pembelajaran pun berbunyi.Alika membawa tas Mala untuk dipulangkan ke rumahnya.
"Yang sabar ya Li,kayaknya si Mala perlu waktu dengan berbagai macam omongan dari semua orang," ucap Teja menepuk bahu Alika.
__ADS_1
"Ye,lo juga yang sabar.Banjir dihati lo pasti surut. Kalo nggak surut-surut lo bisa pake pelampung biar nggak tenggelam dalam kesedihan!," celetuk Alika diiringi tawa renyah.Alika langsung kabur dari hadapan Teja.
"Woi,emangnya gue Jakarta apa?,lo samain gue sama banjir?," Teja tak terima.
Sedangkan Alika sudah pergi entah kemana.
Alika keluar dari sekolah.Menanti angkutan umum yang akan lewat di depan sekolahnya.Memang cukup sulit menemukan angkutan umum lewat daerah ini.Image bahwa semua yang bersekolah di SMA Lenalika hanyalah orang berada saja,itulah alasan para pengemidi angkutan umum lebih memilih tak melewatLenal Lenalika.
Cukup lama Alika berdiri bersandar tembok pagar sekolah.Sekolah yang tadinya riuh menjadi sepi.
Alika berdecak.
"Kenapa HP gue bisa ketinggalan sih," kesal Alika mengacak rambutnya kasar.
Dari kejauhan sebuah mobil mewah berwarna hitam perlahan mendekat,dan berhenti tepat di depan Alika.
.
Dehan beranjak dari sekolah menggunakan mobilnya.Ia tak begitu saja pulang,tetapi memberhentikan mobilnya dipinggir jalan tak jauh dari sekolah.Ia juga memikirkan nasib Alika nanti ketika pulang.Ia memejamkan mata,mencoba menetralisir nyeri di wajahnya.
Akhirnya bel tanda berakhirnya pembelajaran berbunyi,Dehan masih memejamkan matanya.Hingga Ia terbangun ketika para siswa yang mulai berhamburan keluar.
"Woy,cepet masuk!," seru Dehan membuka kaca mobil.
Alika mengangkat kepala.
"Ngapain lo di sini?," tanya Alika.
"Suami sedang menjemput istri," jawab Dehan hanya sebatas humor saja.Tidak dengan Alika,dia malah kegeeran.
"Ah,lama-lama baper dah gue!," batin Alika.
"Baiklah suami,istri akan segera naik!," saut Alika.
Alika duduk di sebelah Dehan.Dehan mulai melajukan mobilnya.
"Li...,"
"Iya suami...," jawab Alika.
__ADS_1
"Aishh,dah jangan kek gitu lagi,geli gue dengernya!," saut Dehan.
"Lah,kenapa lo salahin gue?.Lo kan yang mulai!."
"Gue yang mulai tapi lo yang ngelanjutin!.Bercanda juga."
"Bercanda?.Dia lagi nguji gue?atau ngerjain gue?," batin Alika melirik sinis manusia disampingnya.
Dehan tersenyum simpul karena telah berhasil menjebak Alika.Ekspresi Alika membuatnya semakin bersemangat untuk mengerjai Alika lebih sering lagi.
.
Sesampainya di rumah,Alika dan Dehan masuk bersamaan ke dalam rumah.Tiba di ruang tamu,mereka dikejutkan dengan kemunculan makluk halus yang muncul pada saat tertentu saja.
Lenno menatap mereka dengan tatapan membunuh.Alika menelan ludah.Ia sudah tahu apa yang akan terjadi.Sedangkan Dehan masih bingung dengan ekspresi kakak iparnya itu.
"Lo harus jawab yang sejujur-jujurnya apapun yang ditanyain!," saran Alika berbisik.
Dehan ikut menelan ludah.Kenapa tiba-tiba Ia merasa merinding ketika melihat ekspresi Lenno yang seperti akan menelannya hidup-hidup.
Lenno mendekati Dehan dengan ekspresi sama.
Sebelum mengucapkan kata Lenno berdecak.
"Yang sabar yah,besok gue yang akan wakilin buat dateng ke sekolah," ucap Lenno menepuk bahu Dehan,kemudian berlalu meninggalkan Mereka di ruang tamu masih termangu.Hanya itu saja?.Dehan hampir lupa bernafas dan hanya itu saja yang keluar dari mulut Lenno.Kakak iparnya ini sungguh pintar mempermainkannya.
"Gue kira lo mau ditelen?cuman gitu doang?," Alika termangu.Ia beranjak terlebih dahulu meninggalkan Dehan yang masih merasakan hawa mencekam yang masih tersisa.
Orang tua Dehan memang sedang dalam perjalanan bisnis di luar kota.Jadi Lenno dengan senang hati akan menggantikan kehadiran orangtua Dehan.
Dehan melamun di meja belajarnya.Bagaimana bisa Lenno tahu secepat itu?sedangkan Ayah Bundanya saja belum tahu sama sekali.
"Hah,lo nggak usah heran ama Si Stalker, pasti ada orang yang di suruh buat mata-matain lo!," Alika tanpa mengetuk pintu masuk ke kamar Dehan.Nampaknya Alika sudah bisa menebak apa isi hati Dehan.
"Si Stalker?,"
"Iya,jadi lo harus hati-hati sama semua orang di sekitar lo.Gue udah pengalaman sama tuh Si Stalker!."
jan lupa like vote rate coment dan favorit😙
__ADS_1