Tiba-tiba Nikah SMA (ON GOING)

Tiba-tiba Nikah SMA (ON GOING)
Pacaran


__ADS_3

Alika yang melihat sang Papa berjalan pun tersenyum sambil memainkan bola basket di tangannya.Toni yang sengaja lewat pinggir lapangan pun mengedipkan satu matanya pada Alika sambil tersenyum kemudian beranjak dari sana.


Pak Budi sebagai pengampu mata pelajaran olahraga meniup peluitnya sehingga kelas IPS 2 berlarian ke lapangan.


“Assalamualaikum wr.wb,” salam Pak Budi.


“Waalaikumsam wr.wb,” jawab semua murid, “Berhubung saya akan menggantikan Pak Yoga yang sedang sakit,untuk satu jam ini kaalian bisa bergabung dengan kelas yang saya ampu,karena tidak mungkin saya membelah diri menjadi dua,” jelas Pak Budi.


“Mengerti?,” sambungnya.


“Iya pak,” saut mereka bersamaan.


Pak Budi pun meniup peluit yang terkalung dilehernya sambil melambaikan tangan ke arah gerombolan murid MIPA 1. Semua siswa berlari mendekati Pak Budi.


“Seperti yang saya sampaikan kalian bisa memilih olahraga yang kalian ingin mainkan karena saya akkan menjenguk Pak Yoga. Mengerti?.”


“Iya Pak.”


“Dehan!,” panggil Surya.Dehan menoleh dan menghampiri Surya diikuti Rey.


“Basket aja yuk!,” ajaknya.


“Oke,daripada nggak ngapa-ngapain!,” Rey pergi menepi ke lappangan untuk mengambil bola basket yang dimainkan anak perempuan di bawah pohon sambil bercanda ria.


“Woi,bola satu dong!,” pintanya mendekat di kerumanan siswa IPS 1.


Alika langsung melempar bola yang ia pegang ke arah Rey.


“Oke thanks,” Rey berlalu menuju tengah lapangan.


Mereka pun bermain basket bersama.


“Woy oper ke sini,” teriak Surya pada Rey.Surya pun membawa bola yang dilemparkan Rey pada Dehan yang siap menusuk ke arah ring.Dan akhirnya Dehan lolos dari kepungan lawan dan melompat ,memasukkan bola ke dalam ring.


Mereka merapat memberi tos pada Dehan kemudian menepi untuk beristirahat.


“Kalo gini kita bisa ikut seleksi!,” ucap Surya sambil meneguk air.


“Gue nggak yakin.”


“Rey,percaya.Kita pasti bisa,” Surya memberi semangat.


Surya melirik kalung yang tergantung di leher Dehan.


“Kalung lo tuh,nanti kena BK tau rasa lo!,” Surya mengingatkan Dehan agar memasukkan kalungnya ke baju.


“Oke,thanks udah ngingetin,” Dehan memasukkan lagi kalungnya.


Sejenak Surya berfikir.Sepertinya ia pernah melihat cincin itu?.Dia menghilangkan fikirannya,mungkin saja cincin itu pasaran.


“Oke,gue balik dulu bro,” Rey dan Dehan berdiri karena jam olahraga mereka sudah habis.


Selesai jam olahraga,Alika segera berganti pakaian dan menghampiri Teja yang sibuk merapikan meja guru.


“Ja!.”


“Apaan?,” jawab Teja masih merapikan spidol.


“Ada yang nemuin cincin gue nggak?,” tanyanya.


“Nggak ada Li,kalo ada pasti udah gue kasih ama lo!,” kesal Teja.Pasalnya tidak Alika ataupun Mala tak henti-hentinya bertanya sedari kemarin.Apalagi Mala,dia bahkan mengirim pesan berantai yang membuat Teja semakin pusing.


“Kalo ketemu langsung kasih ya Ja.”


“Kalo nggak ketemu lo beli lagi,gampang kan?,” jawab Teja.


“Nggak bisa Ja,cincin itu mahal banget.”

__ADS_1


“Ya kalo mahal kenapa lo ilangin?,gue juga yang susah ujung-ujungnya.”


“Maap deh Ja,kali ini aja.”


“Oke-oke.”


“Ini cincin lo?,” ucap Surya memamerkan cincin di jari kelingkingnya.


Alika membelalakkan mata.Itulah cincin seharga mobil yang ia cari-cari.


“I-iya itu punya gue!,” Alika meloncat mencoba menggapai cincin di jari kelingking Surya.


“Yah,tapi gue udah nyaman,nanti aja gue balikin,” Surya menyelipkan tangannya di saku celana.


“Ya,itu punya gue!,balikin!,” Alika mengikuti Surya ke bangkunya.


“Pinjem bentar juga!.”


Alika berbalik menuju Mala agar bisa membantunya mengambil cincin dari Surya


“La,bantuin gue!.Cincin gue dibawa Surya!.”


“Ho?mana si Surya?, " Mala melihat sekitar.


Alika menoleh mencari keberadaan Surya. Tetapi ia tak menemui sang empumya. Nampaknya Surya telah kabur entah kemana.


Surya yang mendapat kesempatan pun tak menyia-nyiakannya.Dengan langkah pelan tapi pasti ia berjalan ke arah pintu keluar kelas.


Brakkk


Surya menabrak sesuatu.


''Eh maap-maap,'' ucapnya membantu memungut buku yang berceceran di lantai.


''Jalan liat-liat ngapa!,'' Dehan tak terima buku yang ia bawa dari perpustakaan jatuh ke lantai.


''Ye maap gue kan nggak liat,'' Surya beranjak berdiri.


''Eh!,'' Dehan menghentikan langkah Surya.


Surya menyerngit bingung dengan memerhatikan mata Dehan yang tak melepas pandang dari jari kelingking miliknya.


''Apa?.''


''Cincinnya bagus ya?,'' sambungnya.


Dehan masih memerhatikan cincin yang dipakai Surya.Mencari perbedaan yang mungkin ada dalam penglhatannya.Tetapi fiks,memang benar itu cincin kepunyaan Alika.


''Itu cin-cin gue!,'' ucap Dehan.


Surya menyerngit, ''Ha?.''


''Cincin gue ilang,'' Dehan mengeluarkan kalung yang tertutup baju di lehernya. Ia sengaja menyembunyikan liontin cincin di belakang untuk mengelabuhi Surya.


''Punya lo?,'' selidik Surya.Dia masih mempertimbangkan apakah cincin yang ia pakai itu sebenarnya milik Dehan atau Alika.


''Akhh,iya gue inget.Ini persis kayak punya lo pas gue liat tadi,tapi tadi kan masih ada.Nah gue nemunya udah dari pagi,'' Surya mempertimbangkan fakta-fakta.


Surya mendekat ke arah Dehan.Matanya sibuk menelisik bagian leher Dehan. Dan benar saja,cincin yang sama dengan yang ia bawa ada dibelakang.


''Nah tuh liontin lo disana!,'' Surya menarik cincin yang tekalung di kalung Dehan hingga sang pemilik ikut tertarik.


Dehan panik.Baru kali ini ia berbohong tetapi ia sudah ketahuan saja.Niat hati ingin membantu Alika yang kehilangan cincin seharga mobil eh malah dia yang kena batunya.


Dehan menelan ludah.Ia mencoba mencari alasan yag logis.


''Eh ternyata nyelip,'' ucapnya dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Kok sama," Surya memicingkan mata.


"Yang itu punya Rey, " Dehan terlihat kebingungan. "Pemberian Omah, jadinya sama!, " Sambungnya.


Surya terdiam. Ia masih dalam dilema antara memberikan cincin itu pada Dehan atau tidak.


"Nah ini cincin gue!, " Rey tiba-tiba datang dan mengambil cincin ditangan Surya. Nampaknya Rey tahu keadaan Dehan.


"Owh, punya lo!, " Surya akhirnya mengangguk.


"Thanks ya!, " Rey memasukkan cincinnya ke dalam saku celana.


"Yaudah ntar malem kita barengan aja ya!," Saut Surya.


''Lo bareng nggak?, Rey menyenggol Dehan.


''Gue nggak ikut,'' Surya menyerngit.


''Kenapa?.''


''Biasa,pacarnya nggak keundang jadi nggak mood dianya,'' jawab Rey mendopat tatapan tajam dari Dehan.


''Ya lo kan bisa ajak dia.Boleh bawa pasangan kan?,'' Surya memberi info.


''Beneran boleh?,'' sontak Dehan bertanya.


Tadinya Dehan tak ingin menghadiri ulang tahun Luna yang jadinya di adakan di hotel.Semua siswa di sekolah di undang hanya beberapa orang saja yang tidak diundang salah satunya adalah Alika.Tetapi setelah mendengar penuturan Surya Ia teringat pada Alika.Apakah ia harus membawa Alika?.Entahlah.


''Wah sombong banget dia,masak gue doang yang nggak di undang!,'' kesal Alika.


Seisi kelas terlihat memegang kartu undangan yang ada di meja masing-masing.Kecuali Alika.


Malam harinya Alika yang sibuk dengan laptop di meja ruang tamu memekik keras setelah lemparan paperbag mengenai tepat dikepalanya.


''Akhhh,apaan nih?,'' Alika menatap Dehan sambil membuka isi paperbag tersebut.


''Nanti malem ikut gue.''


"Kemana?.''


''Pestanya Luna.''


"Nggak,mentang-mentang lo di undang terus ngajakin gue gitu?...gue kan nggak diundang,'' Alika menunduk kesal.


''Ya karena itu gue ngajak lo,'' saut Dehan.


''Ya nggak bisalah.Bisa-bisa gue di usir ama security,'' balas Alika.


"Nggak akan karena lo pacar gue. "


"HA?. "


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


...Ai seneng ada yang baca dikit,yang baca bisa share ke teman-temannya ya.Nggak maksa.Pembaca ghaib diharapkan memberikan jejak supaya Ai bisa tau siapa aja yang udah baca.Kan pengen kenal🐔...


__ADS_2