Tiba-tiba Nikah SMA (ON GOING)

Tiba-tiba Nikah SMA (ON GOING)
Gendong-gendongan


__ADS_3

Sore hari yang indah.Senja menemani Alika yang duduk di ruang tamu sambil memegangi jepalanya.Semua orang berkumpul mengelilingi Alika yang belumbbicara sedikitpun.Hanya raut kekhawatiran yang terlihat dari semua orang yang ada di sana.Menunggu apakah Alika baik-baik saja.


Flashback


"Kambing!!!," seru Dehan membuat semua orang menuju dapur untuk melihat kambing yang dimaksud Dehan hingga berteriak seperti itu.


Pak Tirto yang sibuk menyiram taman langsung berlari ke arah rumah meninggalkan selang yang ia pegang.


DUG.


Meja dapur bergetar saking kencangnya benturan.


Dehan yang tadinya tersenyum senang'wajahnya kini menjadi panik.Ia menyingkap kain yang menutupi sebagian kolom meja dan melihat Alika sudah tak sadarkan diri.


''Dimana kambingnya Den?,'' tanya Pak Tirto melihat sekeliling, ''Hlo Non Lili kenapa Den?,'' imbuhnya melihat Alika yang tak sadarkan diri di bawah meja.


Dengan sigap dehan menggondong Alika ke sofa ruang tamu.Ia mengelus dahi Alika yang sedikit mengeluarkan darah.


''Non Lili kenapa Den?,'' Bi Sari yang mendekat.


''Pak,tolong hubungi dokter,'' Dehan takut dengan kondisi Alika mengingat benturan di kepala Alika yang sangat keras hingga pingsan.


''Iya Den.''


15 menit kemudian Dokter Arya datang ke sana.Mendengar jika Alika jatuh pingsan,ia langsung meninggalkan rumah sakit dan menyuruh dokter lain menggantikannya.Ia sangan mengkhawatirkan Alika yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


''Om,Lilinya ada di sofa ruang tamu!,'' Dehan menyambut Dokter Arrya dan menunjukkan ruang tamunya dengan tergesa-gesa.Tak disangka-sangka dua mobil masuk bersamaan.Mobil pertama berisikan Toni,Sara,dan Lenno.Sedangkan mobil ke dua berisi Willy dan Linna.Mereka semua sebelumnya pergi ke seminar perusahaan bersama.Tetapi setelah diberitahu Dokter Arya jika Alika tak sadarkan diri,mereka memutuskan membatalkan seminar itu.


Mareka masuk bersama dengan teburu-buru ingin segera melihat keadaan Alika.


Semua yang ada di ruang tamu menoleh ke pintu.


''Ayah?Bunda?Papa?Mama?Bang Lenno?,"


.


''Sudah diberi minyak angin?,'' tanya Dokter Arya mulai menggeluarkan alat-alatnya.


''Sudah Om,'' Dehan melepas kaus kaki Alika dan mulai menggosok-gosok kaki Alika.


Sedangkan Bi Inah mengambil minyak kayu putih di meja dan mengoleskannya ke sela leher Alika.

__ADS_1


''Sepertinya benturannya cukup keras.Lili akan segera siuman.'' Dokter Arya mengemas P3K yang digunakan untuk mengobati luka di kening Alika.


"Lili kenapa sayang?,'' tanya Linna mengelus bahu putranya itu yang duduk di sampingnya sambil menunduk.


''Dehan yang salah Bun,'' jawabnya penuh penyesalan.Dehan mennceritakan kronologi hingga Alika bisa begini.


''Ya!,adek gue emang takut kambing!lo udah tahu soal itu!kenapa lo jadiin itu kelemahannya?!,''


''Maaf Bang.''


''Maaf maaf.Kalo becanda jangan keterlaluan lah.Emang dia ngeselin tapi kalo Adek gue gagar otak gimana?.Bisa-bisa gue telen lo!,'' Lenno memperagakan seolah dia sedang mengoyak daging dari tusuk sate.


Sara yang mendengar penuturan sang putra langsung mencubit tangannya agar tak membuat Dehan semakin merasa bersalah.


''Dehan,lain kali hati-hati kalo lagi becanda,'' tutur Sara mengelus pundak sang menantu.


''Iya Ma.''


Alika mulai membuka matanya sambil memegangi kepalanya yang masih pusing.Sara pun mendekati Alika untuk membantu Alika bangun.


"Mana yang sakit sayang?," tanya Sara.


"Lo nggak gagar otak kan?," tanya Lenno to the point.


"Lo nyumpahin gue!," jawab Alika melempar bantal di sampingnya.


"Gue kan nanya!," saut Lenno ingin melempar kembali bantalnya ke arah Alika.Tetapi Toni mencegahnya.


"Kalo gue nggak empati sama lo!udah gue becek-becek!," Lenno beralih meremas bantalnya.


Alika menjulurkan lidahnya pada Lennokemudian melirik Dehan yang masih tertunduk.Ia pasti disalahkan karena telah menyebabkannya pingsan.


"Lili nggak papa kok Ma,Lili kuat!," Alika meyakinkan semua orang dengan senyumnya.


"Yaudah kamu istirahat di kamar aja.Biar Dehan yang nganter," Willy memberi kode agar Dehan membantu Alika.


Dehan pun berdiri dari sofa dan mendekat.


"Nggak usah Yah,Lili bisa jalan sendiri."


Alika berdiri tetapi ia malah terhuyung karena kapalanya masih sakit.Dehan yang kebetulan sudah dekat dengan Alika pun menopang tubuh Alika agar tak terjatuh.

__ADS_1


"Tuh kan?,Lili masih belum bener-bener fit.Biar Dehan yang anter ya!," imbuh Willy.


Akhirnya Alika menurut walaupun ia masih sangat kesal dengan Dehan.


"Maaf," ucap Dehan disela menuntun Alika menaiki tangga.Alika diam tak menyahuti ucapan Dehan.


"Darimana lo tau kalo gue takut kambing?," tanya Alika merasa jika ia tak pernah memberitahu Dehan.


"Darimana aja bisa!," jawab Dehan.


"Nyebelin banget sih lo!.Gue nanya baik-baik ya!," Alika melepas tangan Dehan agar tak menuntunnya lagi.Sebagai gantinya temboklah yang dijadikan pegangan agar ia bisa berdiri tegak.


"Gue juga jawab baik-baik."


"Aishh,sana lo!.Gue bisa ke kamar sendiri!," Alika menyusuri tembok untuk menjaga keseimbangannya.Tetapi apa boleh buat,kepala Alika masih berputar-putar.Jika Dehan tak segera menopang tubuhnya ia pasti akan terjerembab ke lantai.


Tanpa pikir panjang, Dehan langsung mengangkat tubuh Alika.


"Eh...eh,ngapain lo?!!.Turunin gue!!!," Alika memukul bahkan menggigit tangan Dehan.Dehan hanya meringis ketika merasakan beban berat yang ia gendong dan juga perlawanan dari Alika.Ia tetap berjalan menuju kamar Alika yang tak terlalu jauh itu.Ia meletakkan Alika di kasur dengan perlahan.


"Gue nggak izinin lo gendong gue ya!," kesal Alika.


"Oke.Gue izin!," jawab Dehan berkacak pinggang sambil mengatur nafasnya.


"Bukan sekarang!," saut Alika melempar bantal ke arah Dehan.


"Teruss...gue harus muter waktu gitu?.Emangnya gue juga nggak repot apa?.Lo itu berat.sadar diri dong," Dehan kesal dengan Alika yang bukannya berterimakasih malah membuatnya berlapang dada.


"Gue nggak berat!," saut Alika.


"Iya.Lo nggak berat." Dehan berlalu dan memilih mengalah agar perdebatan tak berlanjut.


"Dasar!,badan kecil gini dikatain berat!," kesal Alika.Tenggorokannya sangat kering.Dia mengambil air minum di meja,tetapi gelas terlalu jauh dari jangkauannya.


"Akhh,siapa yang geser meja sih!," Alika terus mencoba.


"Nih," saut Dehan mengambil dan memberikan gelas berisi air pada Alika.Alika memerhatikan Dehan tanpa ekspresi.


"Harus izin dulu?.Apa gue harus belajar pindah dimensi?.Baru setelah itu lo puas?."


...Hoho udah 50 bab aja🐔...

__ADS_1


__ADS_2