
"Menurut pandangan gue nih Li.Gue yakin Dehan udah mulai ada rasa sama Lo.Dari tatapannya...perlakuannya...dan tindakannya udah kerasa gitu loh."
Alika termenung.Apa iya?.
"Kalo Lo nggak yakin lebih baik Lo tanya aja sendiri.Mungkin itu yang paling akurat.Coba aja dulu kali aja dia suka sama Lo."
"Nggaklah.Yang ada nanti gue yang malu lagi.Mana ada cewek yang nembak cowok duluan."
"Buang jauh-jauh tuh gengsi.Emangnya Lo perlu gitu adu kejaiman sama dia?.Lo itu udah ditingkat suami istri bukannya cinta monyet.Yang ada Lo nanti bakalan nyesel karena nggak ngungkapin perasaan Lo.Langsung headshot aja!," Mala menggebu-gebu.
Alika berfikir sejenak.Benar juga.Lagian jika ia ditolak juga tak ada gunanya toh Dehan tak akan kabur darinya selama masih ada benang merah yang mengikat keduanya.Tak ada yang mustahil.
"Ih.Gue ikut seneng kalo Lo mulai suka sama Dehan."
Alika tersenyum.Ia sangat beruntung karena telah diberikan seorang sahabat yang mengerti dirinya walaupun mereka sempat berpisah saat SMP karena Mala memilih sekolah di Surabaya.
"Rega tuh," Alika menyenggol Mala.Sosok pria bertubuh jangkung menghampiri mereka.Rega datang dengan membawa tiga minuman kaleng.
"Nih,minum!" ucap Rega memberikan minuman kaleng pada Mala dan Alika.
"Thanks."
"Makasih sayang."
"Gue ikut main dulu." Rega berlalu.
"Dehan jago banget mainnya," Mala memerhatikan Dehan yang sedang bermain basket sambil menyesap minuman kalengnya.
Alika terdiam memerhatikan Dehan.Cowok itu penuh kejutan.Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu.Tetapi hanya sedetik.Setelah itu Dehan kembali memainkan bolanya.
__ADS_1
Apa benar sifat Dehan padanya selama ini karena suka?.
"Li,ayo kita main voli!," ajak Elsya yang baru saja mengambil bola .
"Gue nggak jago main.Gue di sini aja,"
"Udahlah Li.Kita main aja daripada gabut nggak ngapa-ngapain.."
Akhirnya Alika setuju.
"Akhhh," pekik Alika.
Baru beberapa menit bermain Alika terjatuh karena mengikuti bola smash dari Mala.Kedua lututnya terlihat lecet.Cewek itu hanya bisa meringis memegangi kedua lututnya.
"Lo nggak papa kan?," Elsya menghampiri Alika.
"Kita ke UKS aja deh.Kita bersihin lukanya.Nanti tambah parah lagi."
"Nggak usah.Paling bentar lagi kering."
"Sakitnya emang nggak sekarang.Lebih baik langsung diobatin .Itu kan di lutut.Bukannya kering malah bengkak nanti."
"Eng__ " belum sempat Alika menolak,tiba-tiba tubuhnya terangkat.
"Eh....eh," Alika berusaha mencari pegangan agar tak terjatuh.Dan saat itu pula,matanya terbelalak menatap Dehan yang dengan santai membopongnya.Sontak ia melepas kaitan tangannya pada leher jenjang cowok itu.Hingga Dehan agak kewalahan.
"Lo mau jatoh?," Dehan menundukkan wajahnya,menatap kesal Alika yang hampir membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Hah?," Alika baru sadar dari tatapannya pada cowok itu,ia gelagapan.
__ADS_1
"NGAPAIN Lo gendong GUE!.....Turunin!," Alika mencoba berontak.
"Lo diem atau gue cium?," Dehan memajukan wajahnya perlahan hingga Alika menahan nafasnya.
Tanpa mendapat izin dari Alika,Dehan menaikkan gendongannya dengan cepat,mencari posisi nyaman,hingga Alika tersentak dan kembali melingkarkan tangannya ke leher Dehan.
Alika pasrah.Entah berapa kali cowok itu menggendongnya lagi dan lagi.
Sedangkan teman-teman mereka yang masih di lapangan hanya bisa menelan ludah melihat keromantisan pasangan itu.Tak ada yang berani menyusul.
Dengan hati-hati,Dehan meletakkan Alika ke ranjang UKS.Lukanya semakin memerah.Bahkan kakinya sangat kaku,jika Ia merubah posisi kakinya sedikit rasanya akan perih.
"Lo seenaknya banget sih?.Gue kan nggak ngizinin Lo gendong gue?!," Alika bersuara kesal.
"Ya kenapa?gue udah izin." Dehan mencari obat merah di etalase.
"Emangnya gue ngizinin Lo?.Main angkat doang.Emangnya gue karung beras gitu?.Seenaknya Lo gendong?.Karung beras aja harus izin sama yang punya.Nah,ini main Nyamber aja," Alika dengan wajah ditekuk.
"Buat apa izin?.Gue suami Lo.Lo punya gue.Serah dong gue mau apain aja."
.......
.......
.......
.......
...Makasih yang udah meninggalkan jejakš...
__ADS_1