
"YaAllah,Li.Lo tambah cantik aja!" puji Surya ketika Alika baru sampai di sekolah.
"Emang," balas Alika sok keren sembari merapikah rambut pendek sebahunya.
"Iya Li.Lo ngilang 3 bulan dan sekarang malah tambah glowing," puji Melati.
"Iya gays gue ngerti.Tapi yaudahlah jangan pada lebay.Padahal gue kan udah cantik dari lahir," pede Alika.
Mereka memutar mata malas.Tak menanggapi Alika.Yang terpenting sekarang temannya sudah sehat dan kembali bersekolah.
"Eh,btw ke kantin sekarang yuk.Gue kangen banget sama somay di kantin," Alika mengintrupsi semua teman-temannya untuk ke kantin.
Begitupun Dehan.Dia menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum simpul melihat Alika sudah kembali ke sedia kala.Ceria dan semangatnya membuat Dehan bersyukur.
"Gilak,bini lo kenapa jadi begitu dah," Rey menggeleng-gelengkan kepala.
"Tambah cantik," jawab Dehan.
"Cih,yang halal mah beda.Cantik luar sama dalemnya ya nggak?" Rey menaikturunkan alisnya.
"Maksud lo apa?" Dehan datar.
"Ya lo taulah.Kan udah...ehem ehem," Rey mengerlingkan sebelah matanya.
"Bangs*at.Jauhin pikiran kotor lo dari gue," Dehan memelototi Rey.
"Halah,lo juga jatuh cintong sama dalemnya Alika juga kan?ngaku!nggak usah sok polos." Rey bergelak.
__ADS_1
Dehan menatap tajam Rey.
"Ya kali udah setahun nikah nggak di unboxing,mubazir dong," Rey tertawa lepas sampai akhirnya ia menyadari ada yang aneh dengan udara di sekitarnya.
"Kok jadi dingin," akhirnya Rey menatap wajah Dehan yang menatapnya dengan tatapan horornya.
"Eh_engg-enggak...iya...gu-e becanda yaelah sensi banget kek kucing pms," Rey menggaruk belakang lehernya.
"Apa bener lo belum___" Rey tak lagi berkata saat kembali menatap wajah Dehan.
"Nggak.Itu kan dapur lo.Iya harusnya gue ke-ke kantin!" sempat buntu untuk mencari alasan akhirnya Rey ngacir ke kantin meninggalkan Dehan yang siap meledak.
"Traktir dong Li," Rey dengan songong nyelonong dan duduk di meja Alika dkk.
"Okelah gue traktir," jawab Alika enteng.Semua teman Alika bersorak senang.Kelas mereka sama seperti dulu.
Nanti tinggal minta Dehan selalu suaminya membayar semuanya.
"Sayang jangan teriak-teriak nanti suara kamu serak," ucap Rega.
"Iya sayang," jawab Mala tak kalah lembut.
Sedangkan Rey menatap sinis keduanya.Apalagi kalau tidak iri iri iri.
"Nggak.Lo berdua nggak boleh dibiarin.La,gimana kalo Teja jadi PHO dihubungan kalian.Sumpah gue iklas.soalnya gue ngga tahan sama kebucinan lo." ucap Rey lugas.
Teja yang semula asyik memakan gorengan mendongak dengan mata melotot.Padahal dia diam sejak tadi.Mengapa dia dibawa-bawa.
__ADS_1
Mana disuruh jadi PHO lagi.Saran bagus,eh.
"Anjirr,gue udah diem gini juga lo bawa-bawa.Ngga ada akhlak lo."
."Makan sepuasnya nanti gue yang bayarin," jawab Dehan yang baru saja sampai.
"Sultan mah beda.Traktiran aja rebutan," Teja terkekeh.
"Ini juga." Rey menunjuk dua sejoli yang duduk berdampingan.Siapa lagi kalo bukan Alika dan Dehan. "Gue sebagai kaum jomlo merasa iri dengan mereka," ucap Rey.
"Iri kok bilang," celetuk Teja.
"Diem lo,Ja."
"Gue punya mulut."
"Siapa bilang lo nggak punya mulut."
"Yaudah terserah gue,"
"Sepi dong,"
"Kuburan,"
"Rumah lo,"
"Rumah kita,"
__ADS_1
"Bac*t," satu kata dari Dehan membuat kedua orang yang beradu mulut itu langsung kicep.
...double up...