
Mawar tersenyum simpul,kemudian menatap Dehan.
"Harusnya gue yang tanya.Kenapa Lo ngilang tanpa pamit?"
Dehan terdiam.Dia adalah Mawar.Teman sekelas Dehan sewaktu masih sekolah di Jakarta.Mawar adalah cewek baik hati.Selain itu,Mereka hampir saja jadian tetapi setelah tiba-tiba Dehan menghilang entah kemana.Dehan sangat mengayomi Mawar yang memiliki fisik lemah dan sensitif.
"Gue mau minta permohonan satu aja.Biar gue lega," ucap Mawar.
Dehan yang tadinya termenung kembali menatap mata Mawar yang di selimuti kekecewaan.
"Boleh nggak gue nampar Lo?"
Semua yang ada di sana terbelalak mendengar percakapan mereka.
Dehan mengangguk pelan.
"Maaf."
Plakkk.
__ADS_1
Amarah yang di simpan Mawar selama ini tersalurkan..Ia sangat lega.Betapa tak ada harga dirinya Dehan di hadapan semua siswa di sana yang menatapnya tak percaya.Seorang Dehan Kisula tunduk dan mempersilahkan Mawar menamparnya dengan sukarela.
"Udah lega kan?" Tanya Dehan mendongak kemudian tersenyum.
"Ngapain di sini?," Tanya Dehan.
"Nyokap Bokap gue pindah dinas ke sini,ya gue coba liat-liat sekolahlah.Terus malah ketemu sama Lo."
"Maksud Lo?Lo pengen pindah ke sini?," Tanya Dehan.
"Emang boleh?.Nanti Lo kabur lagi gitu?" Mawar ingin melihat ekspresi Dehan, "Candalah Han.Lagian gue udah daftar di sini.Besok gue udah mulai masuk."
"Bagus.Gue seneng dengernya."
Deg.
Istana pasir yang telah di bangunnya dengan butiran pasir kecil yang bergabung menjadi sebuah kesatuan seketika hancur diterjang ombak.Alika adalah Pasir sedangkan Mawar adalah ombaknya.Harapan Alika seketika lenyap.Ketika melihat suaminya tersenyum dan akrab dengan cewek lain.
Apakah salah jika sekarang ia merasa terkhianati?.Jelas sekali salah.Harusnya ia tak berharap lebih tentang pernikahan yang ia jalani saat ini.Mereka hanyalah remaja labil yang sedang berkelana menikmati masa muda untuk mencari kesenangan.
__ADS_1
Hatinya perih.Tak tahan melihat keduanya.Dengan langkah pelan,Alika mengabaikan tali sepatunya yang masih belum terikat dan pergi menjauh dari sana.Tak ada tempat yang paling aman untuk menumpahkan kesedihannya sekarang selain toilet.Ia berjalan dan masuk ke sana.
"Kasian.Ternyata Lili cuman diberi harapan palsu sama Dehan," salah satu siswa menyindir Alika yang wajahnya menahan sakit di lututnya.
"Ya jelaslah.Dehan mana level sama Lili," saut siswa lain sengaja agar Alika mendengarnya, "Ups,gue lupa dia juga sok jual mahal tuh sama anak baru yang kemarin baru meninggal.Kasian banget padahal kayaknya cinta mati banget.Eh malah nggak di respon.Gue berani taruhan,pasti dia nyesel banget karena udah buat anak baru itu meninggal.Emang ya penyesalan datengnya belakangan.Syukur deh sekarang kena karma," ucap siswa itu dengan pedas tepat di samping Alika Yangh sedang mencuci wajahnya.
"Mulut sekolahan tapi nggak ada tata kramanya," suara berat yang menahan amarah itu membuat kedua orang itu merinding.
Alika menoleh .
"Minta maaf sekarang atau gue lupa kalo kalian cewek dan...."
Keduanya gelagapan.
"Ma-maaf Li,kita minta maaf." Keduanya dengan nada gemetar.
"Dasar mulut sampah!" Bentak Dehan tak hanya membuat kedua siswa itu kaget,Alika juga ikut kaget.
"Pergi kalian!" Ucap Dehan dengan wajah tak mau di ajak kompromi.
__ADS_1
...100k aku bakal up tiap hari 🐔🐔...