
''Apakah dia sudah sadar Om?,'' tanya Dehan.
''Belum.Dia pasti sedang berperang melawan ketakutannya.Buat dia tenang dan nyaman.Itu akan membantu,'' jawab Dokter Arya.
''Kalian bisa melihatnya,'' sambungnya.
''Makasih Om,'' ucap Lenno.Mereka masuk bersama ke ruangan Alika.
''Dia sangat lemah,'' gumam Lenno.
''Gue ngurusin administrasi,jagain dia,'' ucap Lenno meninggalkan Dehan sendiri bersama Alika yang masih memejamkan mata.
Dehan mendekat dan duduk di kursi samping ranjang Alika.Ia mengamati wajah Alika yang begitu manis walaupun pucat.
Bulu Mata Alika bergerak,Dehan menyadari itu.Tetapi Dehan tak begitu saja melepas pandangannya.Dehan menyerngit ketika raut wajah Alika berubah menjadi ketakutan tetapi masih memejamkan matanya.
''Jangan!....jangan sakiti Dia,,,!,'' ucap Alika sedikit tak jelas.
''Aku yang salah...bukan dia.....jangan pukul dia!,'' oceh Alika masih terpejam.
Dehan meneteskan air mata sambil meraih tangan Alika.Ia menggenggam tangan Alika sambil menahan agar tak terisak.
''Maaf,'' hanya itu kata yang bisa terucap dari mulut Dehan.
Seharian Ia menemani Alika di sana,Ia tak pernah mengalihkan pandangannya dari wajah Alika.Hingga Ia tertidur dengan masih memegang tangan Alika.
Alika mengerjab-ngerjabkan matanya.Hingga Ia melihat Dehan yang tidu sambil memegang tangannya.Ia merasa risih karena Dehan memegang tangannya.Pelan-pelan Ia mulai menarik tangannya.
''Lo udah sadar?,'' Dehan terbangun.
Alika mengangguk.
''Mau makan?minum?,'' tanya Dehan.Alika mengangguk.
''Tunggu di sini,gue beliin,lo mau apa?,'' tanya Dehan.
''Bubur ayam?,'' jawab Alika.
''Gue suruh Bang Lenno temenin Lo?.''
__ADS_1
''Nggak...nggak,'' jawab Alika.
''Oke.''
''Gimana nak?,'' tanya Sara di sebrang telfon.
''Lili udah sadar Mah,'' jawab Dehan berjalan di lorong rumah sakit ingin keluar membelikan Alika makanan.
''Alhamdullillah,'' jawab Sara.
Alika menyandarkan kepalanya di ranjang.
''Lili?kamu baik-baik saja kan Nak?,'' tiba-tiba Linna datang dengan raut kekhawatiran bersama Willy.
''Lili udah baikan kok Bun,'' jawab Alika.
''Kenapa bisa?kata Rey kamu pingsan di toilet?,'' tanya Linna.
Alika diam.
Linna mengerti.Ia segera memeluk tubuh Alika.Dengan mata berkaca-kaca Alika membalas pelukan Linna.
''Bunda tau?,'' tanya Alika.
''Iya nak.Cukup kita yang tau.Kamu nggak usah,'' saut Linna.
''Lili lemah ya Bun?,'' tanya Alika dengan tatapan kosong.
''Lili jangan bilang gitu,kita akan jadi penguat Lili.''
''Eh,Bunda Ayah,'' Dehan mendekat untuk mencium kedua tangan mereka.
''Dari tadi ya Bun?,'' tanya Dehan.
''Baru aja kok,'' jawab Willy.
''Bunda bawain kamu baju ganti di sofa,'' ucap Linna.
''Iya Bun,'' jawab Dehan meletakkan bubur ayam dan juga teh manis di meja.
__ADS_1
Keesokan harinya,Alika sudah boleh pulang.Dehan sengaja tak masuk sekolah untuk menemani Alika.
''Kenapa lo nggak sekolah?,gue bisa dijemput sopir.''
''Karena gue suami lo.''
''Iya gue tau,tapi kan....''
''Udah,kita pulang,'' potong Dehan menjenjeng tas berisi bajunya kemarin.
''Bisa jalan sendiri kan?,'' tanya Dehan.
''Bisalah.emang yang sakit kaki gue?,'' Alika melirik sinis Dehan.
Mereka berada dalam mobil.
''Lo yang gendong gue?,'' tanya Alika berusaha mencari topik pembicaraan.
''Hm.''
''Dito yang tampar Lo?,'' tanya Dehan.
''Lo tau?,'' tanya Alika.
''Gue liat cctv,'' jawab Dehan.
''Lain kali jangan ladenin,'' sambung Dehan.
''Dia yang mulai.''
''Harusnyanya lo jangan mulai juga,dia masalalu.Urusin masa depan aja!.''
''Masa depan gue aja blurrr,gimana mau di urusin coba?,'' gumam Alika pelan tetapi Dehan masih bisa mendengar.
.
.
.
__ADS_1
🐥