
"Kenapa?,'' saut Dito memecah pandangan mata Alika.
"Nggak salah kan?,'' sambung Dito.
Alika memalingkan wajahnya ke sembarang arah asalkan tak mengarah pada tubuh jenjang dihadapannya.
Alika langsung beranjak tanpa menyapa atau sekedar mengucapkan terimakasih atas bantuan Dito tadi.
"Eh tunggu Li!,'' Dito ingin memberitahu Alika tetapi suara klakson mobil membuatnya terhenti karena motornya yang menghalangi jalan.
Alika memukul kecil kepalanya sambil meratapi kebodohannya yang lupa membawa uang dan ponselnya.Dalam perjalanan Alika sama sekali tak menyadari jika banyak pasang mata yang memperhatikan penampilannya. Dia berjalan santai menuju ruang kelasnya.
"Good morning class!,'' sapa Alika dengan berbunga-bunga.
Semua orang yang ada di sana pun terdiam menatap penampilan Alika dari atas sampai ke bawah kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Bwahahaha," tawa seisi kelas pecah.Sekarang giliran Alika yang diam tak tau apa yang membuat seisi kelas tertawa.
"Li,lo mau ngelawak?,'' tanya Kevin masih terbahak.
"Emangnya kenapa?,'' tanya Alika dengan wajah bingung,masih tak menyadari.
Kevin maju kedepan,kemudian menunjuk sepatu Alika menggunakan tangan kanan dan juga tangan kiri yang menunjuk arah dasinya.
Sontak Alika langsung menyilangkan tangannya di dada.Dia masih tak tau apa maksud Kevin.Hingga ia pun menengok ke bawah.Dia membelalakkan mata menatap kedua buah sepatunya yang tak sinkron.Ia pun beralih pada dasinya.
''Lo dah gila Li,pagi gini masih nglindur aja!,'' saut Surya.
''Aneh lo!,'' saut Kevin menyentil dahi Alika sebelum kembali ke bangkunya.
Alika masih terdiam.Dalam fikirannya dia mengutuk perbuatan Dehan yaang membuatnya seperti orang gila.
Alika meremas dasi di tangannya dengan wajah merah karena malu dan juga marah karena Dehan.
''Kenapa sih Li,lo malu-maluin aja.Pasti barang lo ketuker sama Si Dehan ya,'' Mala berbisik menahan tawanya.
''Diem lo,gue lagi kesel!!,'' jawab Alika mencopot sepatunya.
''Sepatu besar kek gini kenapa nggak nyadar sih,'' gumam Alika melepas dan membanting sepatu besar milik Dehan yang hampir dua kali lipat dari miliknya.
Di sisi lain,Dehan memasuki sekolah dengan motor sportnya.Walaupun ia menggunakan sendal jepit,tak membuat semua siswa yang melihatnya mengejek ataupun manatap aneh Dehan.Mereka justru mengaggap itu sangat lucu dan tak mengurangi pesonanya.
__ADS_1
Dehan turun dari motor,melepas helmnya dan meletakkannya di atas motor,kemudian beralih mengambil sepasang sepatu berbeda ukuran yang ia ikat dan sengaja ia cantolkan di stang motor agar lebih mudah saat membawanya.Ia tak memmerdulikan segelintir orang yang menatap aneh Dehan yang memilih menenteng sepatunya daripada memakainya.
Seperti biasa,Luna duduk di atas meja depan pojok dekat pintu untuk menyambut Dehan.Dia sedang mengabrol bersama Syalu,sahabatnya.
Hingga yang ditunggu-tunggu pun menampakkan batang hidungnya.Syalu yang berdiri di depan Luna melihat Dehan dari jendela.Mudah mengetahui bahwa itu Dehan dengan tinggi badan yang mencolok.
''Lun,tuh gebetan lo udah di depan!,'' Syalu memukul kecil lengan Luna.
Luna langsung turun dari meja dan merapikan rambutnya.Bersiap menyambut sang pujaan hati.
Bukannya masuk ke kelas,Dehan malah terus berjalan melewati kelasnya.Ia berjalan santai melewati Luna yang tersenyum manis kepadanya tanpa melirik keberadaan Luna.
Senyum Luna seketika memudar tergantikan dengan wajah datar, matanya mengikuti kemana Dehan berjalan.
''Mau kemana?,'' gumam Syalu yang berada di samping Luna menatap sepasang sepatu yang ditenteng Dehan.
Luna yang penasaran pun mengikuti Dehan.
''Hei,mau kemana lo!,'' Syalu menyusul Luna yang berjalan cepat mengikuti Dehan.
Dengan sendal jepit hitam merek Sw*ll*w Dehan berjalan tanpa mengindahkan semua siswa yang memerhatikan penampilannya yang tak seperti biasanya.
Tiba di depan kelas IPS 2,Dehan berbelok dan memasuki kelas yang seperti pasar itu.Luna semakin penasaran ketika Dehan tiba-tiba menuju kelas itu.Setaunya Dehan sangat jarang sekali ke kelas lain.
''Li!,'' panggil Mala menepuk pelan bahu Alika.Tetapi tak ada jawaban darinya.
''Li...Li...Lili!,'' lanjut Mala menepuk bahu Alika lebih kencang.
''Apaan sih La.Ganggu aja deh!,'' kesal Alika menegakkan tubuhnya.
Dehan yang tadinya mencari-cari keberadaan Alika langsung tahu dimana keberadaan Alika setelah mendengar pekikan Alika diantara kerumunan manusia yang diam membisu masih menatap Dehan.
Alika melirik kanan kiri heran mengapa kelasnya menjadi sepi seperti kuburan.
Tangan Dehan melepas kaitan kedua sepatu yang ia tenteng kemudian memisahkannya dengan milik Alika.Ia memindahkan sepatu miliknya ke tangan kiri.Sedangkan sepatu di tangan kanan adalah milik Alika.Perlahan Dehan mulai mendekati bangku Alika.Dehan tak menghiraukan tatapan seisi kelas dan tetap berjalan mendekat.
Akhirnya Alika menyadari kehadiran Dehan yang mendekat le arahnya.
Ia membelalakkan matanya.
''Omo,pantesan sepi kek kuburan.Malaikat tak bersayap dateng kesini!,'' gumam Teja yang baru memasuki kelas membawa setumpuk buku.
__ADS_1
Dehan tersenyum tipis setelah berada tepat di depan Alika.Ia menaruh sepatu Alika tepat di depan Alika yang masih membelalakkan mata.Kemudian ia merogoh saku,mengeluarkan dasi milik Alika,dan meletakkannya di meja bersama sepatu.
Semua orang yang ada disana terlihat bingung menatap tindakan Dehan.
''L-lo nga-ngapain di sini!?,'' ucap Alika tergagap.
Dehan hanya melirik sepatunya yang dicantolkan Alika di kursi sebagai tanda jawaban.
Alika mengikuti arah lirikan mata Dehan.
''Mati dah gue!,'' batin Alika masih menatap sepatu yang ia cantolkan di kursi.
''Hehe iya!,'' saut Alika tersenyum paksa ketika melihat seisi kelas fokus menatapnya.Ia memberikan sepatu Dehan setelah melepas ikatan antara sepatunya dan sepatu Dehan.
''Dasi?,'' ujar Dehan setelah menerima sepatunya.
''Dasi?...,'' ia sedikit berfikir saking groginya ditatap banyak orang. '' Ah iya ini,'' sambung Alika mengeluarkan dasi milik Dehan dan memberikannya.
''Kenapa nih orang,kenapa nggak keluar-keluar sih,'' batin Alika sudah merasa terintimidasi oleh tatapan-tatapan seisi kelas.
Dehan beralih membuka tasnya dan menaruh ponsel Alika di meja bersama satu lembar uang pecahan seratus ribu kemudian beranjak pergi.
''***** lo,'' umpat Alika dalam hati menatap kepergian Dehan.Beraninya Dia pergi begitu saja setelah meninggalkan masalah untuknya.Alika yakin setelah ini ia akan banyak mendapat kritik satu sekolah.
Ia memilih menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya.
''Wah lo dikasih jajan sama Dehan.Lo apanya Dehan?,'' ucap Kevin memegang uang kertas berwarna merah dan masih baru itu.
.
.
.
.
.
...Gimana...gimana?...
...Masih mau lagi ngga?...
__ADS_1
...Mana suaranya?...
...kalo suka part ini pliss komen stiker ayam🐔 biar aku tau kalo ada yang baca😣...