
Keluar mall,Alika terlihat seperti Zombie.Tangannya dingin,matanya membulat,nafasnya pun tak beraturan.Dia masih tak percaya dengan harga cincin sederhana itu.
.
“Mbak,saya mau beli cincin yang kayak gini ada nggak?,” tanyanya dengan menunjukkan cincin milik Dehan yang sengaja ia pinjam.
“Mari saya lihat dulu nona,” Pramuniaga di toko besar itu mengecek cincin itu.
“Gimana mbak?,” tanya Alika ketika Pramuniaga datang menghampirinya.
“Maaf nona,cincin ini di pesan khusus dan kita hanya membuatnya jika ada yang memesan.Jika nona ingin memesan cincin seperti ini,saya sarankan harus cukup bersabar karena bahan yang digunakan harus diimpor dari luar dan juga bahan yang langka.”
“Yaudah Mbak,saya pesen sekarang.Kalo dah jadi tolong hubungi saya!,” saut Alika.
“Maaf nona,kita tidak bisa memproduksi cincin ini sembarangan.Kita butuh DP terlebih dahulu agar tak ada pelanggaran antara produsen dan konsumen.”
“Owh harus DP?,yaudah Mbak,ini kartu kredit saya!,” Alika mengeluarkan kartu kreditnya dari sling bagnya.
“Emangnya berapa Dpnya mbak?,” tanya Alika menyodorkan kartu kredit.
“Sebentar saya cek dulu nona.”
“Untuk Dpnya 75 juta,selebihnya 125 juta bisa dibayar setelah cincinnya sudah jadi nona!.”
Mata Alika membulat, tangannya bergetar.Pramuniaga itu menyerngit ketika secara tiba-tiba Alika menjatuhkan kartu kreditnya.Ia berdiri mematung.Ia baru tersadar ketika seseorang mengambil kartu kreditnya yang ada di lantai.
“Kartu kredit lo jatoh,” seseorang menyodorkannya.
Alika mengambilnya tanpa memerhatikan seseorang yang mengambilkan kartu kreditnya.
“Maaf mbak,nggak jadi beli,” Alika mengambil cincin yang ia bawa dan beranjak dari sana masih dengan kondisi yang sama.Ia syok dengan harga cincin sederhana itu.
Tak sadar,ada seseorang yang mengikuti di belakangnya.Entah kenapa Alika berhenti mendadak.Hal itu membuat seseorang dibelakangnya menabrak Alika.
“Akhh,” pekik Alika tersenggol.
“Lo ngikutin gue?,” tanya Alika.
“Gue cuman mau liat lo beli cincin sejuta,” jawab Dehan.
“Gue nggak percaya.Cincin yang gue pake selama ini bisa gue beliin mobil.”
“Ya karena itu gue ngikutin lo.Kali aja lo khilap terus jual cincin gue!,” Dehan mengambil cincin yang di pegang Alika.
“Kalo gue tau harga tuh cincin segitu,ga bakal gue ilangin,” sesal Alika.
“Yaudah tangguin 2-3 tahun sampe gaji gue ngumpul.Tapi gue nggak yakin kalo nggak akan ada yang tau.”
“Gimana nih,bantuin kek!.”
“ Gue bantuin doa.”
“Dasar suami nggak bertanggung jawab!,” Alika menginjak kaki Dehan.
__ADS_1
“Akhh,”
Menjelang sore,Alika dan Dehan memutuskan untuk mampir ke perpustakaan kota untuk meminjam beberapa buku untuk persiapan Ulangan Tengah Semester.
“Lo tau...”
“Nggak tau,” belum selesai kalimat yang akan diucapkan Alika,Dehan menyela ucapan Alika.
“Nyebelin deh,gue kan pengen cerita,” kesal Alika.
“Yaudah cerita aja,” jawab Alika.
“Nggak jadi,” saut Alika pergi membawa buku pilihannya menuju meja administrasi.
Dehan mengikuti Alika setelah mengambil buku yaang ia perlukan.
“Gimana Bang?,Papa mau nggak?,” tanya Alika lewat telfon.
“Iya, Papa besok bakalan ke sekolah,” jawab Lenno.
“Yes,makasih Abangku,muachh!,”Alika menutup telfon dengan salam.
“Ngapain?,” tanya Dehan yang mengemudikan mobil.
“Bukan urusan lo!,” Alika tersenyum senang.
Dehan hanya tersenyum simpul.Dia tahu segalanya dari Lenno tetapi Ia pura-pura tak tahu apapun.
.
Hari ini kelas Alika ada di lapangan karena jam olahraga.Mereka pun terheran-heran melihat direktur yang selalu berwajah ramah menjadi berwajah datar.
“Ngapain ya?gue jadi kepo,” Surya menggandeng paksa Kevin dan Lintang untuk menemaninya menuju ruang kepala sekolah.
“Eh?ngapain sih!,” tolak Lintang tetapi tetap saja Ia terpaksa ikut dengan Surya.
“Gue pen ngumping kali aja penting,” ucap Surya.
Rey yang melihat Surya,Lintang dan juga Kevin saling dorong pun ikut bersama mereka.Kelasnya juga jam olahraga tetapi hanya tinggal satu jam lagi.Sedangkan Kelas IPS 2 masih 3 jam pelajaran olahraga.
“Nah kan,pengikut gue nambah satu.Ayo ikut!,” Surya mengajak Rey juga.
“Yoi bro,kita mau ngapain?,” tanya Rey.
“Udah ikut aja.”
Mereka pun mengumping tepat di depan pintu ruang kepala sekolah yang tertutup.
“Saya sebagai direktur harus tahu tentang kegiatan yang ada di sekollah ini.Tetapi apa?,anda bahkan tak meminta izin atau mendiskusikan hal ini dengan saya,” Amuk Toni.
“Om Toni?,” gumam Rey.
“Hah?.Lo kenal ama direktur?,” tanya Surya.
__ADS_1
“Owh dia tetangga gue!,” elaknya.
“Owh,gue kira lo apanya.Eh tunggu,berarti lo kenal kan?,” tanya Surya.
“Ke-kenal,” jawab Rey sedikit bingung.
“Apa anaknya sekolah di sini?.”
“Ya mana gue tau!,emangnya kenapa?,” tanya Rey.
“Kali aja sekolah di sini,kan bisa gue gebet,” aku Surya
“Mata duitan lo!.”
“Maaf Pak,saya juga tidak tahu soal ini,saya akan berbicara langsung dengan anak saya.”
“Oke,saya mengerti jika dia adalah anak kepala sekolah.Tetapi jangan sampai murid lain menerima ketidakadilan karena status anda di sini,” Toni langsung beranjak.Surya dkk langsung menjauh dari pintu dan bersembunyi agar tak ketahuan.
“Ck...ck...ck,karma memang selalu datang pada saat yang tepat,” gumam Surya.
“Ngapain kalian di sini?!!,” Bu Sita tiba-tiba muncul di belakang mereka.
“Mau am-bil bola Bu,” jawab Rey.Kebetulan Ruang olahraga ada di samping ruang kepala sekolah.
“Kenapa masih mojok di sini?,cepet ambil bolanya!,” suruh Bu Sita dengan nada tegas.
Dengan gelagapan mereka akhirnya beranjak masuk ke ruang olahraga.
Toni beranjak dari ruang kepalla Sekolah.Tak sengaja ia berpapasan dengan Dehan yang ingin menyusul Rey.Dehan berhenti sejenak,menganggukkan kepala tanda hormat pada Toni.Toni terlebih dahulu menengok kiri kanan,kemudian tersenyum.
“Bagaimana?,apa kau sudah beradaptasi dengan sekolah barumu?,” tanyanya.
“Insyaallah Pa,” jawab Dehan.
“Bagaimana jika kau pindah kelas dengan Lili agar kau bisa lebih menjaganya?,” tanya Toni.
“Maksud Papa Dehan harus pindah jurusan?,apakah bisa?,” Dehan tak berkedip.
“Kau adalah penerus perusahaan Kisula,apakah kau ingin meraih impian lain?,” Toni memicingkan mata.
“Sebenarnya saya tertarik pada dunia kedokteran,tapi__”.
“Tak apa,semua akan Papa urus,setelah tengah semester kau akan masuk di kelas Alika,” potong Toni menepuk bahu Dehan dan berlalu pergi.
Dehan hanya menunduk pasrah,naampaknya dia harus merelakan impiannya dan fokus menjadi penerus perusahaan Kisula.
Dehan beranjak menghampiri Rey,Lintang dan juga Surya.
Alika yang melihat sang Papa berjalan pun tersenyum sambil memainkan bola basket di tangannya.Toni yang sengaja lewat pinggir lapangan pun mengedipkan satu matanya pada Alika sambil tersenyum kemudian beranjak dari sana.
.
.
__ADS_1
...Ai *comeback***🤧**...
...Gimana?gimana?...