
"Gimana No?, apa kamu udah tahu keberadaan Tante Mira?,'' tanya Toni.
''Maaf Pah,Lenno belum bisa melacak keberadaannya,sepertinya Ia sengaja mengganti nama supaya kita sulit melacaknya.''
''Kamu harus hati-hati,dan cari siapa pengirim surat ancaman itu.Kita akan maju,sepertinya dia akan muncul,'' jelas Toni.
''Lenno akan awasin Lili dan cari tau darimana surat itu,'' saut Lenno.
''Jaga baik-baik adik kamu,kamu sudah berjanji untuk melindunginya.''
''Pasti Pah.''
Dua minggu berlalu.
Alika hanya di rumah saja selama liburan sekolahnya.Dehan melarang keras Alika untuk keluar rumah.Bahkan hanya ke supermarket saja harus ditemani langsung oleh Dehan.Seakan orang-orang yang ada di sekitarnya menjadi lebih posesif.
''Li,kenapa gue ajakin keluar selalu nggak mau?'' tanya Surya yang telah menunggu Alika di depan pintu gerbang.
Mala yang ada di samping Alika menahan tawa.
''Yah,nasib orang kaya ini yang nggak dibolehin keluar rumah karena banyak bahaya mengintai'' saut Alika dengan malas mengingat Dehan yang selalu menyuruhnya ini itu dengan alasan belajar jadi istri yang baik.Seolah mencari cara agar Ia tak keluar rumah.
''Kasian banget.Lain kali gue jemput ke rumah lo aja,gue ijin langsung sama ortu lo!.''
''Eh jangan!'' larang Alika dan Mala bersamaan.
Surya menyerngit, ''kenapa?''
''Bokap Lili ga-galak,'' Mala mencari alasan yang diangguki oleh Alika.
__ADS_1
''Owh,'' Surya sedikit curiga dengan mereka.
''Yaudah,kuy kita cari kelas kita,'' ajak Surya.
''Gue harap kita satu kelas lagi,'' sambung Surya.
''Idih,nggak ngarep gue!'' saut Mala.
Mereka telah menyusuri satu demi satu kelas,hingga sesampainya di kelas IPS 2 mereka membaca daftar nama yang di tempel di mading depan kelas.
''Kita sekelas lagi!,'' sorak Surya.
''Yaudah masuk yuk,'' Alika berjalan terlebih dahulu menuju pintu kelas.
Deg.
Ia berhenti seketika saat melihat seseorang yang duduk tepat di depan kursinya.
''Ngapain lagi?ya sekolahlah,'' jawab Dehan dengan santainya.Di sampingnya tak lupa ada Rey yang tersenyum ke arah Alika.
''Hah,nyasar kali lo!'' Alika tak percaya.
''Liat aja sendiri,'' ucap Dehan.Alika bergegas keluar untuk melihat kertas daftar murid.
''What?'' Alika membelalakkan mata.
''Di-dia kan anak Mipa?'' gumam Alika.
''Dia pindah kali,'' ucap Mala.
__ADS_1
''Aishhh gue udah terlalu tertekan karena dia,dan sekarang dia sekelas sama gue?,'' gumam Alika.
''Gue juga nggak tau,'' ujar Mala, ''Hehe makin seru nih,'' batin Mala senang karena sebenarnya Ia tahu dari Lenno.
Alika masuk ke kelas dengan raut wajah malas.Hanya beberapa siswa saja yang ada di sana karena masih cukup pagi.
Dia mendudukkan diri tempat duduknya tepat di belakang Dehan.
''Aishhh,kenapa gue harus sekelas sama dia?'' Rega berjalan malas menuju bangku kosong yang terletak paling pojok.
''Rega???,kita sekelas Beb!'' Mala yang melihat keberadaan Rega langsung mendekat.Ia yang tahu jika Lenno tengah menjalankan rencana pun memanfaatkan kesempatan itu untuk membujuknya memasukkan Rega ke kelasnya.
''Yaampun,kenapa gue sekelas ama Rega?'' Alika menggigit bibir bawahnya.
''Kita sekelas?'' Rega tak menyadari.
''Iya.''
''Bagus dong,'' Rega mengacak lembut rambut Mala.
Di sisi lain Teja terlihat menelan ludah ketika mendapati wanita yang masih belum terlupakan itu bersama Rega sang pacar dalam satu kelas dan mirisnya dia juga akan menempati kelas yang sama dengan mereka.Belum usai rasa sakit akibat cintanya bertepuk sebelah tangan dan kini Ia harus menelan pil pahit setiap saat karena melihat kemesraan keduanya.
Alika yang melihat Teja berdiri di depan pintu juga merasakan apa yang dirasakan Teja.Teja memutuskan untuk duduk di kursi paling depan untuk meminimalisir melihat keduanya.
Alika berdiri,berjalan ke depan menuju meja Teja.
''Yang sabar Ja,'' bisik Alika sambil menepuk bahu Teja untuk memberi suport.
Teja tersenyum sambil mengangguk.
__ADS_1
''Siapa dia?kenapa mereka terlihat dekat?'' batin Dehan mencuri pandang.
...🐔🐔🐔...