
"Sayang kamu kenapa,hm?kok muka kamu pucet gitu." Dehan ikut merebahkan tubuhnya di ranjang setelah sebelumnya selesai mandi.
Dengan wajah yang fresh menduselkan wajahnya ke leher Alika yang memiringkan tubuh.
"Pusing banget," Rengek Alika sembari memutar tubuhnya agar bisa melihat wajah Dehan.
"Minum obat kalo gitu," Dehan memijat kepala Alika dengan lembut.Sedangkan Alika memejamkan mata menikmati pijatan Dehan.
Pijitan itu mengurangi rasa pening yang ia rasakan sejak pagi tadi.Entah mengapa rasa pusing itu malah bertambah setelah pulang sekolah tadi.
"Mandi dulu sana,nanti aku buatin makan." Bujuk Dehan masih memijat telaten.
"Nggak laper," Alika malah menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Dehan.
"Tapi pengen martabak telor," Sambung Alika mendongak dengan wajah imutnya.
Kalau sudah begini Dehan tak mungkin bisa menolaknya.Jika tidak dituruti bisa-bisa ia tak dapat jatah lagi.
"Nanti kita order," Jawab Dehan.
"Nggak mau.Mau beli langsung," Alika cemberut.
"Katanya pusing," Dehan memicingkan mata.
"Udah nggak pusing.Ayo,berangkat!" Alika berdiri dengan semangat.
Dehan menghembuskan nafas sabar.Istrinya seperti orang ngidam. Apa mungkin ngidam beneran?
"Kamu ngidam?" Ceplos Dehan.
"Enggak.Cuman pengen martabak aja tuh," Jawab Alika mengedikkan bahu tak acuh.
__ADS_1
"Masih SMA juga," Ucap Alika.
" Nggak mungkin hamil," Sambung Alika.
"Ya mungkin aja.Kita kan udah__"
"Udah-udah jangan dibahas," Alika Membelalakkan mata.Ia malu.
"Lagian lo pake pengaman," Ucap Alika.
"Kalo jadi juga nggak pa-pa," Ucap Dehan enteng.
Plakk
Alika memukul mulut Dehan agak keras. "Jadi apa anjirr," Alika membola.
"****** gue jadi bayi," Jawab Dehan polos.
Plakk
"Mulut lo!" Alika berkacak pinggang.
"Kan bagus.Kita jadi punya bayi," ucap Dehan.
"Nggak,ah. asal ceplos aja lo.Kalo beneran gimana?" ucap Alika termenung.
"Wajarlah. Kita kan udah nikah, sah juga.Jadi nggak pa-pa kalo lo isi," ucap Dehan.
"Wajar buat lo. Lah buat gue?gua aja masih sekolah." ucap Alika dengan nada risau.
"Gue juga belum dapet padahal udah tanggal tua," ucap Alika pelan.Ia menunduk.Bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
__ADS_1
"Tenang oke,kita pastiin dulu," Dehan membawa tubuh Alika ke pelukannya. Membiarkan Alika menyandarkan kepalanya di dada bidang Dehan.
"Gue takut," lirih Alika.
"It's okey,Li.Kita hadepin bareng-bareng," Dehan mengelus punggung Alika sembari menghujani wajahnya dengan ciuman.
Dehan termenung.Ada rasa bersalah dalam dirinya karena ia terkesan egois.Ia begitu menginginkan anak dalam kondisi yang tidak pas.
Andai saja ia membeli stok pengaman.Kegelisahan ini tak akan terjadi.
Dehan menghela nafas.Ia harus menenangkan Alika dan sebaik mungkin menjaga Alika.
...***...
"Rey."
"Apaan," Rey yang asyik bermain game online tak menoleh.
Mereka berada di rumah Rey.Tepatnya Dehanlah yang datang ke rumah Rey.
Rey juga bingung.Tak ada angin tak ada hujan sahabat sekaligus sepupunya ini berkunjung tanpa kabar.Aneh,biasanya Dehan selalu mengabari kalau ingin ke rumahnya.
"Kemasukan apa lo?bengong mulu," celetuk Rey. Meneliti wajah Dehan yang terlihat resah.
"Temenin gue beli tespeck," ucap Dehan.
Satu kalimat yang berhasil membuat Rey menjatuhkan ponselnya ke lantai dengan wajah syoknya.
"Anjirrr bisa-bisanya lo udah bobol Si Lili dan ngga pake pengaman?" Rey membelalakkan mata.
Sebagai pria sejati seharusnya Dehan menunggu Alika lulus sekolah atau main aman.
__ADS_1
"Positif," ucap Alika pelan seraya menyerahkan tespeck yang diberikan Dehan.