
15 menit berlalu,dokter yang menangani Denan belum juga keluar.Dehan terlihat khawatir,menatap pintu ruangan di depannya.
Bertahan,pliss.Gue udah penuhin permintaan lo buat jenguk lo di sini.Apa lo nggak sayang sama gue?. batin Dehan berdoa.
Tak lama,terlihat dokter keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan kakak saya,Dok?" Dehan langsung menghampiri Dokter itu dengan cepat.
"Kondisinya memburuk.Saya tidak bisa berbuat banyak.Kami sedang menunggu keputusan dari tuan Kisula." ucap Dokter itu sambil melirik Willy.
"Apa maksudnya,Dok?" tanya Dehan takut jika terjadi sesuatu pada Denan.
Sedangkan Willy hanya bisa menunduk pasrah.Dehan melirik Willy,mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
"Begini,saya akan jelaskan.Kami menyarankan untuk mengikhlaskan pasien,itu akan mempermudah segalanya.Kami berencana melepas alat penopang hidupnya karena kemungkinan hidup pasien sangat tipis.Kami menunggu keputusan dari Tuan Kisula."
__ADS_1
Dehan menggerakkan giginya.Bagaimana mungkin mereka harus melepas nyawa saudaranya itu setelah cukup bertahan selama bertahun-tahun?.Tidak.Dia takkan membiarkan hal itu.
"Nggak," Dehan menggeleng, "Ayah nggak boleh lepas alat Denan.Denan masih pengen hidup,Yah!."
"Dehan yakin,Denan bakal bertahan dan lewatin ini semua," ucap Dehan terduduk di lantai,bersandar di dinding.
Willy ikut duduk di lantai bersama Dehan, " Ayah bakal lakuin apapun demi Denan.Ayah nggak rela dia pergi dari kita.Kita semua berhak bahagia dengan keluarga yang lengkap tanpa ada ruang kosong lagi.Ayah akan bawa Denan ke Amerika.Kamu jemput Bunda buat ke sini.Ayah mau jelasin semuanya." ucap Willy.
Ia harus menjelaskan semua pada Linna.Ia sudah cukup membuat Linna kecewa karena menyembunyikan Denan selama ini.Linna merupakan orang yang paling terluka ketika tahu darah dagingnya pergi untuk selama-lamanya.Seharusnya ia tak melakukan ini,tetapi keadaan lah yang membuat Willy berbuat nekad untuk menyembunyikan Denan yang koma.
Dehan berdiri, "Apakah saya bisa masuk,Dok?" tanya Dehan cepat sebelum Dokter pergi dari sana.
Dehan mengangguk cepat.
Dengan langkah pelan Dehan memasuki ruangan khusus itu.Tentu saja menggunakan baju khusus yang diberikan dokter.Matanya menangkap sesosok manusia yang terbaring lemah dengan berbagai macam alat penopang hidup yang menempel ditubuhnya.
__ADS_1
Saudara kembarnya sedang berjuang antara hidup dan mati.Hatinya hancur,menatap kondisi belahan jiwanya itu.Tubuh kurus,pipi tirus dan bibir pucat.Berbeda dengan dirinya yang lebih segar.
Ia mendudukkan dirinya di kursi tepat di samping ranjang rumah sakit.
"Beneran ini Lo,Denan?," Dehan berusaha tegar.
"Lo beneran kembaran gue,kan?kenapa lo nggak kembar sama gue?Apa karena lo makannya nggak teratur? atau makanannya nggak enak?.Bangun,ya biar kita bisa tumbuh bareng kayak dulu.Makan makanan enak dari Bunda.Lo kan suka banget sama ayam buatan Bunda." Dehan terus mengoceh sambil sesekali menyeka air matanya.
"Gue udah nikah sama cinta pertama lo.Maafin gue,ya.Gue nggak maksud rebut dia dari lo,tapi ini semua buat lo.Andai aja gue tau kalo lo masih hidup lebih cepat.Gue nggak akan nikahin dia.Karena gue nggak mau nikung lo," ucap Dehan lagi dengan senyum tipis.
"Tapi kalo lo dendam sama gue,jangan sekali-kali main rebut,ya.Lo mau jadi pembinor?.Jangan sampe gue pukul lo karena rebut dia dari gue.Dia udah jadi punya gue.Lo cari yang lain aja.Gue udah suka sama dia,walaupun dia nyebelin," Dehan merasa sangat enjoy berbicara di depan Denan yang terbaring.
"Iklas,kan?" sambung Dehan.
"Nanti gue ajak dia ke sini.Tapi maklumin aja dia nggak akan inget sama lo.Gue aja dilupain sama dia.Apalagi lo.Jangan kecewa,biarin dia lupain masa lalu,jangan sampe dia inget lagi."
__ADS_1
Dehan melamun beberapa detik setelah mengucapkan kalimat itu.Ia juga merasa kasian dengan Alika.
...🐔🐔🐔...