
...HAPPY READING MY STORY...
Alika menuju meja akad kemudian duduk di sebelah Dehan.Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan-sambutan yang disampaikan oleh wakil dari pihak pria dan wanita.
Mala mendudukkan diri di kursi tamu.Ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
"Li-Lili?," gumam Rey gemeter.
Mala menoleh ke asal suara itu.Disampingnya,ia mendapati Rey yang tak berkedip tak percaya.
"Bukannya om lo yang nikah?," Mala masih memperhatikan Dehan.
"Bukannya tante lo yang nikah?," Rey balik bertanya.Ia masih setia menatap meja akad.
Prosesi penyambutan selesai kemudian dilanjutkan dengan acara pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Qoriah. Lantunan ayat-ayat suci menggema di setiap sudut ruangan itu,terasa menyejukkan suasana menjelang akad.
Sebelum akad dimulai,penghulu terlebih dahulu memberikan khutbah dan nasehat-nasehat dalam menjalani bahtera rumah tangga untuk kedua mempelai.
Semua pasang mata tamu tertuju pada meja akad ketika Dehan mulai menjabat tangan sang calon mertua,Toni.Dengan uluran tangan yang mantap, Dehan menggenggam tangan kanan Toni. Sebelum memulai ijab Qobul,Penghulu terlebih dahulu menyuruh Dehan membaca satu kalimat syahadat kemudian dilanjutkan dengan ijab Qobul.
Dehan nampak tak seperti kemarin yang masih santai.Ia sama sekali tak bisa menyembunyikan ketegangannya sekarang.Entah sejak kapan ia mulai grogi,keningnya dipenuhi oleh bintik keringat.Irama detak jantungnya semakin lama semaki tak terkontrol.Apakah inilah yang dirasakan semua laki-laki?mengapa ia yang tadinya biasa saja tiba-tiba dirasuki ketegangan yang luar biasa saat akan mengucap satu kalimat akad?.
Sedangkan Alika menunduk tak berani menatap tautan tangan dihadapannya. Yang biasanya menjadi tamu akad yang deg-degan dikursi tamu,kini deg-degan itu menghampirinya lagi tetapi dalam situasi yang berbeda pula.Jantungnya berdetak kencang.Ia meratapi nasibnya yang harus menikah secepat ini.
Toni menarik nafas panjang sebelum mengucap kalimatnya.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Dehan Kisula dengan anak perempuan saya,Analika Suhadra dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai."
Dehan menarik nafas bersiap mengucap akadnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Analika Suhadra Binti Toni suhadra dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai."
Dengan sekali tarikan nafas serta suara lantang,Dehan mengucapkan satu kalimat itu dengan lancar.
__ADS_1
"Bagaimana para saksi??," tanya Penghulu.
"Sah...sah...sah," suara para tamu bersautan.
Dehan melepas tangannya yang dingin akibat grogi,kemudian menengadahkan tangannya,mengamini doa yang dipanjatkan oleh penghulu.
Setelah itu penghulu mempersilahkan kedua mempelai untuk saling menukar cincin pernikahan.
Cincin silver sederhana yang terbuat dari emas putih itulah yang akan menghiasi jari manis kedua mempelai.Dehan terlebih dahulu mengambil cincin di kotak,meraih tangan kanan Alika kemudian menyematkan cincin di jari manis Alika.
Tepuk tangan para tamu bergemuruh setelah Dehan menyematkan cincin di jari manis Alika.Setelah itu penghulu menyuruh Alika mencium punggung tangan Dehan.Alika melakukan apa yang disuruh penghulu itu dengan terpaksa.
Alika melepaskan tangan Dehan,kemudian beralih pada cincin yang memang harus ia pasangkan ke jari manis Dehan.Ia mengambil cincin itu dan menyematkannya di jari manis Dehan.
Dehan maraih pucuk kepala Alika,kemudian menjatuhkan ciuman tepat di kening Alika seperti yang diinstruksikan Penghulu.Ia sebenarnya tak ingin melakukan itu,tetapi desakan orang-orang di sekitarnya membuatnya harus melakukan hal itu.
Alika menunduk dengan perasaan aneh dalam dirinya.Inilah pertama kali ia mencium tangan laki-laki selain Papanya dan juga mendapat ciuman dari laki-laki.
Acara dilanjutkan dengan sungkem kepada orang tua.Disana Alika tak bisa menahan air matanya.Sedangkan Dehan terlihat biasa saja mengucapkan kata-kata yang biasa diucapkan saat sungkem pada orang tua.
Para tamu satu per satu mulai menyapa dan memberi selamat pada pengantin baru itu.
Tak terkecuali Mala dan juga Rey.Mereka masih antara percaya dan tak percaya.
''Wih,samawa ya Han!," Rayn terlebih dahulu berjabat dan mengucapkan selamat pada Dehan dan Alika.
"Selamat ya!," Rayn menyunggingkan senyuman ke arah Alika.Alika membalas dengan anggukan.
Tiba saatnya Rey yang berada di belakang Rayn berhadapan dengan Dehan dan Alika.
"Gue syok banget bro,jadi samawa ya!," ucap Rey menjabat tangan Dehan.
"Gue nggak nyangka lo nikah sama Miss fake!," Rey melirik Alika.
__ADS_1
"Apaan lo!," sentak Alika mendengar ucapan Rey.
"Selamat ya Li,Han!," sambung Rey kikuk.
"Ehem!,antrian masih panjang woi!," sindir Mala yang berada di belakang Rey.
Rey berdecak. '' Iyaaa.''
Mala maju selangkah di depan Alika dan Dehan.
"Li,gue masih nggak percaya.Gimana lo mau nikah sama dia?,'' Mala berbincang dengan Alika tanpa memerdulikan Dehan.
"Kan lo yang bujukin gue buat nerima perjodohan ini,'' jawab Alika.
"Ini semua gara-gara abang lo!kenapa coba?dia nggak kasih tau kalo calon lo itu dia,kalo tau mah gue mikir dulu buat bujuk lo!.''
"Owh,jadi selama ini lo sekongkol sama si Stalker itu?."
Secara tak langsung Alika tahu maksud Mala.Mala menutup mulutnya.
"Akhh,bukan gitu maksudnya.....," Mala mencoba mencari alasan.
"Eh,si Stalker manggil gue tuh," Mala menunjuk Lenno yang berbincang dengan Rayn.Alika menoleh ke arah Lenno.
"Gue pergi dulu,bye!," secepat kilat Mala hilang dari hadapan Alika.
"Eh,mau kemana lo!gue belum selesai ngomong!," Alika berteriak ke arah Mala.
"Dasar!!."
"Ehem!," seseorang berdehem menunggu untuk mengucap selamat.
Alika langsung beralih untuk menerima ucapan dari tamu lainnya.
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak