
''Nggak.Dia nggak sama gue!,'' jawab Dehan.
Mala berlalu ke tempat yang lebih sepi.Ia ingin menghubungi Dehan.Dengan raut khawatir Ia menunggu Dehan mengangkat telfonnya.
Dehan yang berada di lapangan bersama teman-temannya menepi mencari tempat yang lebih sepi.
''Apa?,'' jawab Dehan.
''Lili nggak ada balik dari jam istirahat.Gue jadi khawatir nih!,'' jawabnya mondar-mandir dengan ponsel yang menempel di telinganya.
''Lo udah cari?,'' tanya Dehan.
''Ya belumlah.Gue ada lomba nih!,lo nggak ada lomba kan?,lo cariin deh!.Perasaan gue nggak enak!,''
''Huh,'' Dehan menghembuskan nafas.
''Oke, gue cari!.''
''Nah gitu dong!,bye gue tutup!.''
__ADS_1
Tuttt
Sambungan telfon berakhir.
Dehan beranjak dari tempatnya semula menyusuri setiap sudut sekolah mencari keberadaan Alika.Percuma saja Ia menelfon atau mengirim pesan,telfonnya sedang tak aktif.
Setiap sudut sekolah telah Ia lalui dan periksa,tetapi ia belum juga menemui keberadaan Alika.Apa ia harus menelfon Bang Lenno untuk membantunya?.Mengingat koneksi Lenno yang luar biasa.
''Hallo Bang.Apa lo tau tempat Lili kalo ngilang tiba-tiba?,'' tanya Dehan dengan polosnya.
''Ya lo cari aja dia ke tempat penitipan barang hilang!,'' saut Lenno tak sadar.
''Ilang?,'' gumanm Lenno. ''Apa?kok bisa ilang?!!!!,'' seru Lenno reflek melempar buku ke bawah hingga seisi kelas menoleh ke arahnya.Ia sekarang masih ada di kmpus mengikuti salah satu mata kuliah.
''Ya lo cari sampe dapetlah!!!,jangan kasih tau Papa.Nanti gue yang di rendang ama bokap!,'' jawab Lenno ngegas tak sadar jika ia sedang berada di tengah kelas.
''Ehemm,'' Lenno tersadar dengan deheman dosen yang masih di depan dan segera menutup telfonnya sadar dengan tindakannya.
''Ma-maaf pak,'' Lenno mendudukkan diri lagi.
__ADS_1
Dehan memasukkan ponselnya ke saku celana kemudian berjalan lagi.
Alika tak lagi terisak.Air matanya terus meleleh membasahi pipinya.Kepalanya sangat berat,hingga ingin berdiri pun tak bisa.Wajahnya pucat,dengan tubuh lemah.Ia tak mengerti kenapa Ia bisa begini.Padahal hanya tamparan di pipinya saja,tetapi mengapa rasanya tubuhnya ikut remuk?.Apakah ini trauma yang Ia alami dulu?seakan batinnya tak bisa melupakannya walaupun Ia tak ingat apa-apa.
Hanya satu tempat yang belum disinggahi Dehan,yaitu toilet wanita.Ia ragu untuk masuk ke dalam,menunggu di toilet pria,memastikan tak ada orang lagi yang masuk.
Perlahan Ia masuk sambil menoleh kanan kiri.Ia membuka dan memeriksa setiap pintu yang ada di sana.Dehan melangkah ke toilet paling pojok.Tangannya memegang knop pintu dan mendorongnya,tetapi pintu terkunci dari dalam.
''Li...,'' Dehan memanggil,sambil terus mencoba memutar-mutar knop pintu.
Alika mendengar suara knop pintu sedang diotak-atik,Ia mengangkat kepalanya dari ceruk lutut.Tatapi apa boleh buat,mulutnya tak bisa mengeluarkan suara,mungkin sebentar lagi Ia akan pingsan.Batinnya.
Matanya menangkap sebuah wadah tisue toilet tak jauh darinya.Dengan susah payah menggapai,akhirnya Alika berhasil menyentuh wadah tersebut.Sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Prang!.
Seketika Dehan terdiam,memastikan suara itu berasal dari dalam toilet di depannya.Tanpa pikir lama Dehan mundur beberapa langkah hingga mentok tembok.Tak ada cara lain selain mendobrak pintu itu sekarang juga.
Brakkk
__ADS_1
Dengan sekali dobrakan dari Dehan,pintu langsung terbuka memperlihatkan sesosok manusia yang sedang tak sadarkan diri duduk di pojok toilet.
๐๐๐๐