
"Gimana bisa lo ambil keputusan tanpa kasih tahu Mama,Papa?!" Lenno menyentak Dehan.
Menurutnya Dehan sangat keterlaluan karena mengambil keputusan tanpa persetujuan keluarga lain.
"Dehan tau Bang.Tapi ini keputusan baik untuk Lili.Kita harus berusaha mendamaikan Lili dengan masa lalunya," Dehan kekeh.
"Opsi yang mudah nggak akan bertahan lama malah nggak baik buat mental Lili bang.Seolah ia dipermainkan oleh sebuah takdir dengan menghapus ingatannya," bujuk Dehan.
Akhirnya Lenno tak lagi marah.Benar juga.Ia tak berfikir sejauh itu.
"Gue akan bantu gimanapun supaya Lili sembuh," ucap Dehan lirih.
"Peduli lo?cinta lo sama adek gue?nggakkan?kenapa?kesian lo!" Lenno berteriak.
Dehan yang dibentak seperti itu pun tak Terima.
"Gue ini suaminya bang,emangnya kenapa kalo gue harus jagain istri gue?dia itu tanggungjawab gue selamanya," ucap Dehan penuh penekanan.
"Dan masalah cinta nggak usah dipertanyaiin.Sejak gue ngucapin nama dia waktu akad gue udah usaha buat nerima dia Bang," Dehan berkata jujur.
"Kita sama-sama hadepin masalah ini bang.Nggak ada yang mudah tapi kita harus usaha." sambung Dehan.
Lenno diam.Pikirannya tadi sangat kacau sehingga berfikir sempit.
__ADS_1
"Maaf gue emosi," ucap Lenno.
"Iya bang.Dehan ngerti apa yang Abang rasain," Dehan maklum.
.
"Gimana keadaan Lili Han?" tanya Surya pada Dehan yang baru saja sampai di kelas.
"Kenapa lo tanya gue?" jawab Dehan ketus.
Surya mencebikkan bibir kesal.Benar juga kenapa ia harus tanya pada Dehan.Nggak ada gunanya.
Surya beralih menatap pintu ketika Mala dan Rega baru saja tiba.
"Gimana apanya anjirr!gaje bet jadi setan!" kesal Mala.
Ada ya manusia kek Surya yang gajenya ngga ketulungan.
"Kondisi Lili,La.Udah seminggu loh.Kok nggak sembuh-sembuh? tanya Surya.
Benar.Sejak kejadian itu Alika tidak masuk sekolah.Ia belum sembuh.
Surya selama seminggu ini selalu mencari kabar tentang Alika.Dan inilah salah satu kegiatan yang ia lakukan setiap pagi dalam seminggu terakhir.Merecoki Dehan selaku orang terdekat Lili dan Mala sahabat baik Lili.
__ADS_1
"Nggak tahu.Keluarganya belum bolehin jenguk," Jawab Mala sembari melirik Dehan yang juga menatap Mala.Tentu saja ia berbohong.
Hampir setiap sore setelah pulang sekolah ia pasti akan menyempatkan diri untuk menjenguk sahabatnya.Dan hampir setiap hari ia menangisi kondisi Alika yang terbilang belum ada kemajuan sedikitpun.Bahkan setip melihat orang lain Alika selalu histeris.
Ia sangat terpukul karena Alika seperti itu.Ia sangat menyayangi Alika.
"Parah ya?gue jadi kasihan.Gimana kalo kita jenguk kayak waktu itu?" Melati ikut nimbrung.
"Nggak," jawab Mala tiba-tiba.Ia tak ingin Alika dianggap gila jika teman-temannya tau kondisi Alika sekarang.
"Kenapa?" tanya Melati menyerngit heran.
"Paling bentar lagi masuk kok," jawab Mala gagu.
"Udah seminggu La.Seminggu bukan waktu sebentar buat orang sakit," Melati memicing.Bukannya apa,Melati hanya menggerakkan solidaritas kelas.
Kini atensi kelas tertuju pada perdebatan tepat di depan pintu kelas dekat papan tulis.
"Nggak Mel,lo nggak ngerti.Ini masalah privasi.Gue di sini juga nggak tahu apa-apa.Terus kalo kalian mau jenguk gimana?emangnya papanya Alika bolehin?nggak akan!kejadian seminggu yang lalu buat keluarga Alika merasa nggak becus jaga anak mereka.Baru perkenalan aja udah ada yang berani nyelakain Lili.Apalagi nanti?pliss kalian ngerti,Lili juga nggak mau ini semua terjadi," Mala terengah-engah.
Satu kelas kaget dengan ucapan Mala.Separah itukah kondisi Alika?
...Makasih yang udah dukung...
__ADS_1