
"Apa?.Perasaan gue nggak ada masalah apa-apa.Ngapain gue di suruh ke ruang kepala sekolah?"
Tentu saja Ia heran.Tak ada angin,tak ada hujan ia di suruh menghadap kepala sekolah.
"Temenin nggak Li?" tanya Mala.
"Nggak deh,gue sendiri aja."
Alika berjalan menuju ruang kepala sekolah.Entah kenapa ia merasa aneh saja.
Tok tok.Sebelum masuk,Alika mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Assalamualaikum,permisi," Alika masuk.
Alika mengedarkan pandangan mencari seseorang yang ia cari.
"Hai,akhirnya Dateng juga Lo," ucap Luna muncul dari balik etalase piala.
"Luna?.Gue nggak ada urusan sama Lo.Gue mau ketemu kepala sekolah," ucap Alika.
"Gue yang panggil Lo ke sini.Pengen ngobrol doang.Emang Lo nggak mau tahu cerita masa lalu Lo?" ucap Luna duduk di sofa sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya,memberi kode agar Alika juga duduk bersamanya.
__ADS_1
"Tenang aja.Papa gue lagi di luar kota.Emangnya Lo ada salah?nggak kan?.Lebih baik kita duduk manis di sini," ucap Luna penuh seringai.
Alika menggigit bibir bawahnya.Menahan sakit dihatinya.Sekuat tenaga ia tersenyum.
"Lebih baik gue ke kelas aja.Gue nggak mau kembali ke masa lalu.Kita lupain aja hal yang udah berlalu."
Alika tak munafik.Ada rasa ingin tahu yang menggumpal di hatinya,tetapi di lain sisi ia tak ingin menguak apa yang tak ia ketahui yang akhirnya akan menyakitkan untuknya.Ia tak ingin berfikir macam-macam tentang apa yang dilakukan keluarganya.
"Munafik banget ya," ucap Luna.
"Buka mata Lo!" bentak Luna membuat Alika menatap Luna.
"Gue minta maaf kalo ada salah sama keluarga Lo.Gue nggak tahu apa yang gue lakuin di masa lalu,tapi pliss jangan cerita apapun lagi.Lo nggak tahu gimana rasanya jadi gue.Lebih baik gue inget segalanya daripada tahu tapi nggak inget.Lo tau sakitnya kek apa?.Disaat otak Lo nggak sinkron sama fakta yang ada dan itu buat gue down," ucap Alika baik-baik.Ia harus mengakhiri kesalahpahaman antara Luna dan dirinya.
"Gue nggak peduli,Lo harus inget semuanya!" teriak Luna tak terima.
"Maaf Lun,lebih baik kita damai," Alika berbalik ingin pergi, Ada satu lagi..." Alika berbalik lagi, "Gue nggak bisa lepasin Dehan."
Kalimat terakhir Alika sebelum pergi dari sana sungguh membuat Luna marah besar.
Alika merasa lega setelah pergi dari sana.Luna sangat mengerikan.Semoga saja ia tak bertemu dengannya lagi.
__ADS_1
"Eh,Elsya?" Alika menghentikan langkahnya untuk menyapa Elsya yang juga ingin masuk ke ruang kepala sekolah dengan setumpuk buku.
"Ngapain di sini?" tanya Alika.
"Gu-gue disuruh ke sini buat ngambil buku di perpus,terus bawa ke sini."
Elsya mencari alasan.Mana mungkin ia jujur jika ia sedang membawa buku tugas Luna untuk dikembalikan.
"Mau ditungguin nggak?" tanya Alika tanpa curiga.
"Nggak usah.Lo duluan aja udah ditungguin Dehan soalnya," ucap Elsya dengan senyum menggoda.
"Apaan sih Sya," Alika tersipu.
"Gue masuk dulu.Bye!" Elsya masuk ke ruangan.
Alika melambaikan tangannya pada Elsya dan berlalu menuju kelasnya.
Alika berhenti sejenak.Bersembunyi di balik tembok.Dehan sedang bersama Mawar.
"Gimana?jadi nggak?.Nanti malem gue jemput Lo.Kita jalan-jalan di alun-alun kota," ucap Dehan.
__ADS_1