Tiba-tiba Nikah SMA (ON GOING)

Tiba-tiba Nikah SMA (ON GOING)
Riweh


__ADS_3

"Sayang makan dulu ya," Dehan baru saja pulang sekolah.Bukannya mengganti pakaian ia justru langsung ke kamar Alika.Kebetulan ia tadi berpapasan dengan Bi Sari.


"Sayang," Dehan mengelus pucuk kepala Alika lembut.


Alika tak bergeming ia masih menatap balkon dengan tatapan kosong.


Dengan telaten Dehan menyuapi Alika.Sesekali menyeka sudut bibir Alika menggunakan tangan tanpa jijik sekalipun.


"Lo mau apa?nanti gue beliin?" tanya Dehan. Sedangkan Alika masih diam membisu.Inilah keseharian Dehan sekarang.Banyak bicara tanpa disahuti Alika.


"Sini peluk,dingin kan?" Dehan memeluk Alika hangat.Tak ada penolakan karena Alika seperti boneka hidup.


"Tadi temen-temen tanyain lo.Lo nggak mau sekolah lagi,hm?" tanya Dehan lembut sembari memainkan rambut Alika.


"Surya tiap hari tanyain lo.Lo mau selingkuh sama dia kan?" Dehan tersenyum. "Nggak papa,tapi inget udah punya suami," Dehan tertawa garing.


Tawa Dehan seketika berhenti berubah menjadi hening,sakit rasanya ketika biasanya Alika sangat cerewet dalam berbagai hal.


"Lo mau ketemu Denan?" tanya Dehan sedikit ragu.Alika mendongak.


"Denan?" tanya Alika lirih hampir tak terdengar.Ia melepas pelukannya dari Dehan.


"Denan?dia mati kan?gara-gara gue?!!" emosi Alika mulai berantakan.Matanya bergerak gelisah dengan wajah ketakutan.Tangannya bergerak memukuli kepalanya dengan brutal.

__ADS_1


"Gue pembunuh kan?kenapa gue nggak mati aja?!!!" Alika menepis tangan Dehan yang ingin memeluknya.


"Dasar pembunuh!!lo harus mati!ngapain lo di sini!!!!" Alika menyalahkan dirinya sendiri dengan teriakan histeris.


Dehan yang tak bisa menenangkan Alika segera mengambil sebuah botol obat di laci nakas dan membawanya ke arah Alika.Ia memeluk paksa tubuh Alika dan meminumkan air yang sebelumnya ia campur dengan serbuk dari kapsul obat penenang tadi.


Perlahan namum pasti,nafas Alika yang sebelumnya memburu berangsur normal.Dehan memeluk erat tubuh Alika,menyakitkan ketenangan dan kenyamanan untuk istrinya itu.


Tak lama dengkuran halus bisa dirasakan Dehan.Ia bernafas lega.Alika tertidur dalam pelukannya.


Dengan hati-hati ia membaringkan tubuh Alika ke kasur,menyelimuti nya dengan hati-hati.


"Selamat tidur,cantik.Cepet sembuh,biar kita bisa Seneng-seneng bareng lagi," Dehan menyelipkan anak rambut yang sedikit berantakan di wajah Alika.


Ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan juga menyegarkan isi kepalanya.


Sekarang ia dipusingkan dengan sekolah,kantor,merawat Alika dan tak lupa ia harus mencari Luna yang masih buron.


Wanita itu licin seperti belut. Lokasinya selalu berpindah-pindah. Beban pikirannya semakin riweh karena Elsya yang memohon ampun atas kesalahan Ayahnya.Mira dan Ayahnya Elsya ditangkap polisi setelah kejadian itu.


Dehan tak habis fikir, terbuat dari apa isi hati gadis itu.Elsya telah disia-siakan Ayahnya dan malah membela bajinga* itu.


Dehan semakin tertekan dengan semua ini ia butuh teman.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Rey yang duduk di bangku depan kolam renang.Disana ada Dehan juga yang sedang menatap ke depan.


"Gue mau ajak temen gue dari jakarta ke sini buat bantu gue handle permasalahan yang ada," jawab Dehan.


"Iya sih,lo juga butuh temen buat selesaiin masalah," Rey menganggukan kepala.


"Eh anjirr,emangnya gue nggak temen lo!" Rey ngegas.Enak aja,jadi selama ini ia apa?genderuwo ganteng?eh.


Rey juga ikut membantu mengurus beberapa hal yang Dehan tak bisa lakukan.Seperti membantu Dehan bolos sekolah?canda.Walaupun iya.eh.


Rey juga ikut serta mencari kesalahan-kesalahan apa yang sudah diperbuat Luna dan ayahnya semasa sekolah.Itu akan menjadi bukti yang akan memberatkan mereka nanti.


"Lo sepupu gue." jawab Dehan santai.


"Sama ja gue temen lo!"


"Sepupu sama temen beda," Dehan santai.


"Iya suhu!hamba mengerti.Capek gue anj*ng ngomong sama loooo!"


"Lo anj*ng.Najis mugoladoh dong," Dehan salah arti karena kalimat Rey 'Gue anj*ng'.


Rey mengelus dada sabar spesies ganteng gini masak dikatain najis Mugoladoh.

__ADS_1


...Makasih...


__ADS_2