
"Masih sakit?" tanya Dehan dengan sorot khawatir ketika melihat Alika yang diam.
"Nggak.Gue ngga papa."
"Maaf gue nggak sopan tadi.Gue salah," ucap Dehan.Ia merasa bersalah kerena ingin mencium Alika tadi.Bukankah boleh mencium istrinya sendiri? tapi ia takut Alika marah.
"It's okey.Gue maafin lo,tapi jangan ulangi lagi gue belum siap."
Alika hanya takut jika Dehan sampai lebih dari itu.Jika hasrat seorang laki-laki tumbuh maka akan sulit untuk menghindari hal lebih.
"Iya."
Keduanya terdiam larut dalam pemikiran masing-masing.Tak ada lagi yang memulai pembicaraan.
"Bunda kenapa sampe pingsan?" tanya Alika.
Dehan diam.Ingin rasanya ia memeluk Alika ketika ingat akan Denan yang kritis saat ini.
"Nanti gue jelasin.Tapi untuk sekarang lebih baik lo nggak tahu apa-apa," jawab Dehan sembari mengelus lembut surai panjang Alika.Ia takut jika Alika mengingat masa lalu setelah ia menceritakan apa yang menimpa saudara kembarnya itu.
Alika mengangguk tak memaksa Dehan untuk bercerita.Menurutnya ini adalah masalah sensitif hingga Dehan memilih tak menceritakan apapun.Dia akan mencari tahu sendiri.Lagipula Lenno ada di sana.Ia bisa bertanya pada sang kakak.Walaupun pasti akan sulit membujuk Lenno.
"Jangan sedih.Gue nggak pernah liat lo sesedih itu," Alika memeluk Dehan.
"Jangan tinggalin gue,Li.Gue butuh lo,"
ucap Dehan lirih.
__ADS_1
"Gue akan bertahan selama mungkin," jawab Alika mengelus punggung lebar Dehan.
.
Pagi hari yang sangat cerah.Alika sarapan dengan seragam yang sudah rapi. Hari ini tak ada yang membantunya karena para pembantunya sedang pulang kampung. Terpaksa dia harus berkutat di dapur.
Menu sarapan yang sangat simpel tapi membuat seisi dapur berantakan.Dehan berdecak sebal.Salah dia membangunkan Alika pagi-pagi hanya untuk memasak nasi goreng.Lebih baik ia makan telur ceplok andalannya dan membiarkan Alika duduk manis.
"Ups,gue berantakin dapur," celetuk Alika.Pasalnya dia akan ogah-ogahan membereskannya.Dan berakhir Dehanlah yang membersihkannya karena merasa risih.
"Ntar gue beresin kok," lanjut Alika.
Dehan menghembuskan nafas.Omong kosong jika Alika mau membersihkan.
"Gue buat nasi goreng nih.Kayaknya enak tapi gue nggak yakin," Alika menyajikan nasi goreng ke dua piring kosong yang diambil Dehan.
"Iya," jawab Dehan.
"Bentar gue kupasin,lo bawa nasi gorengnya ke meja.
Dehan mengangguk patuh.Dia sudah seperti anak kecil yg disuruh-suruh ibunya.
Beberapa menit kemudian Alika datang dengan sepiring timun yang sudah dipotong-potong dengan 2 sendok di sana.
"Enak nggak?" tanya Alika duduk di sebelah Dehan.
"Belum dicoba," jawab Dehan jujur.
__ADS_1
"Kalo enak bilang ya," Alika Menelungkupkan tangannya untuk melihat Dehan makan terlebih dahulu.
Ada-ada aja.Alika deg-degan takut masakannya tidak enak.
Dehan mulai menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.Mengunyah perlahan-lahan meresapi rasa nasi goreng itu.
"Uhuk-uhuk," Dehan segera mengambil tisu tak jauh darinya dan melepehkan nasi goreng itu kemudian membuangnya ke tempat sampah.Asin.Itulah yang dirasakan Dehan.Ia segera meminum air putih.
Senyum Alika luntur.Setidakenak itukah nasi goreng buatannya?sampai Dehan tak menelannya.Alika memicing sembari mengerucutkan bibirnya kemudian menyendok nasi goreng miliknya.Iya asin tapi kan ini masakannya.
Alika terus menyendok dan memakan nasi goreng itu.Bisa dimakan.Iya karena ini masakannya sendiri apapun rasanya pasti enak.
Dehan membelalakkan matanya.Ia langsung menggeser piring Alika menghentikan Alika yang sedang memakan nasi goreng itu.
"Jangan dimakan,nanti sakit perut," Dehan mengemasi piring-piring di atas meja ke dapur.
"Enak kok.Gue suka.Lagian perut,perut gue juga."
Alika berusaha mengambil piring yang dibawa Dehan.
"Minum dulu,gue tahu rasanya jadi jangan bangkang," Dehan melirik tajam Alika.
Alika mendelik.
"Iya gue nggak bisa masak,masakan gue nggak enak.Asin,bisanya nyusahin.Gue nggak guna banget," Alika mendumel kesal sambil mengambil tas di kamarnya.Padahal dia sangat lapar.
Next
__ADS_1