
Bulan berganti bulan tak terasa sudah 3 bulan berlalu sejak kejadian itu.Alika sudah lebih baik dari kondisi sebelumnya.
Dibantu Suami,keluarga dan teman-temannya akhirnya Alika mampu bangkit dari keterpurukannya.
Ia pun kembali beraktivitas normal seperti biasa.
"Gue nggak mau masak!" teriak Alika lantang.Acara paginya harus ribet karena mereka telat bangun.
"Kenapa nggak mau?lo mau kelaperan di sekolah?" Alika berusaha bersabar.
"Mikir lo!kita udah telat anjirr.Ntar tambah telat," Alika mencebikkan bibir kesal.
"Biasanya juga lo telat," jawab Dehan.
"Mikir anjirr.Gue aja baru masuk sekolah lagi dan lo mau gue telat!"
"Gue nggak lagi belajar.Ngapain mikir?" Dehan tersenyum mengejek.
"Lagian ini masih pertama masuk kelas 12.Mungkin aja free," sambung Dehan.
Iya.Ini adalah kali pertama untuk Alika masuk sekolah setelah kejadian beberapa bulan yang lalu.Dan juga kali pertamanya menyandang status kelas 12.
"Yaudah mau dimasakin apa," Alika menghembuskan nafas pasrah.Suaminya itu sangat keras kepala sekarang.
Alika harus sabar menghadapi Dehan yang semakin manja dengannya.
__ADS_1
"Sini," ucap Dehan.
Alika menyerngit. "Kenapa?"
"Peluk dulu," dua kata yang membuat Alika mendengkus pelan.Tetapi tak ayal dia pun mendekat kemudian memeluk Dehan erat.
Menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang Suami.Wangi yang sama yang membuatnya betah direngkuhan sang suami.
Dehan tentu saja membalas pelukan Alika.Mengelus rambut Alika yang tak sepanjang dahulu.
Tiga bulan yang lalu Alika sempat akan dibawa ke rumah sakit Jiwa karena keadaannya.Bahkan Alika memotong acak rambutnya hingga pendek.
Namun sekarang semuanya berubah.Berkat Dehan yang selalu ddiisamping Alika.Akhirnya Alika bisa melewati trauma dan depresi yang dideritanya.
Alika lebih mensyukuri keadaan dan menjaga emosinya agar tetap stabil.
Dan cara yang dipilih Dehan sudah tepat.Terbukti,kini Alika kembali seperti semula bahkan lebih baik lagi.
Ada satu hal yang belum sepenuhnya teratasi oleh Alika yaitu trauma akan ketinggian.
Entah kenapa Ia sekarang sangat takut ketinggian.Tangannya akan bergetar hebat jika berada di ketinggian.
"Gue mau masak.Lepasin," ucap Alika mendongak mencoba melepas tangan Dehan yang masih hinggap di pinggangnya.
"Cium dulu," ucap Dehan.
__ADS_1
cup
Alika mengecup cepat pipi Dehan.Bukannya apa tapi dia ingin segera lepas dari pelukan Dehan yang tak baik untuk jantungnya.Jantungnya berdebar kencang saat ini.
"Bukan pipi," ucap Dehan datar.Dia ingin lebih.
"Udah,ah.Kita tambah telat nanti," ucap Alika.Mencoba melepas kaitan tangan Dehan.
"Gue normal,Li.Gue punya nafsu.Seenggaknya ciuman bisa buat gue sedikit puas," ucap Dehan dengan nafas agak tersendat.
"Ah...em.Makanya jangan peluk biar ngga napsu," Alika gelagapan.
"Tapi gue maunya sekarang,"
"Ta__"
Mulut Alika berhenti mengoceh begitu Dehan mendekatkan wajahnya secara cepat hingga Alika tak mampu melanjutkan katanya.
Sensorrrrr
Wajah keduanya berapi-api.Terbukti dengan keduanya yang saling berebut udara di depannya.
Mereka terengah-engah sambil saling tatap satu sama lain.Dehan sudah menyudahinya karena takut kelepasan.
Dengan lembut Ia mengusap bibir Alika yang membengkak menggunakan ibu jari.
__ADS_1
"Thank you my wife,"
...Hai makasih yang udah semangatin aku...