Tiba-tiba Nikah SMA (ON GOING)

Tiba-tiba Nikah SMA (ON GOING)
Memalsukan kematian


__ADS_3

Denan tak bisa diselamatkan.Itulah kenyataan yang harus diterima semua orang.Termasuk Linna yang sangat terpukul mengetahui itu semua.Bayangkan saja anak yang selama ini dia besarkan pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Tetapi tidaklah itu kenyataan yang sebenarnya.Bukan bermaksud membohongi semua orang.Melainkan melindungi Denan yang begitu kritis dari berbagai macam ancaman yang mungkin terjadi.


Toni dengan sengaja bersekongkol dengan Dokter Arya untuk menyembunyikan Denan dan memalsukan kematiannya.Hanya mereka berdua yang tahu.


Toni sempat menyesal kerena telah menyembunyikan Denan untuk beberapa saat.Oleh akibat itu Linna mengalami depresi karena tak terima dengan kenyataan bahwa anaknya sudah tidak ada.


Hingga saat ini,dia sangat menyesal. Satu kata yang menggambarkan hatinya saat ini adalah takut jika Linna kecewa dan tak akan memaafkannya untuk masalah sebesar ini.


Dehan dan Willy masih diam dalam lamunan tak tahu harus mengatakan apa jika Linna datang ke sini. Mereka sudah menyuruh Alika membawa Linna ke rumah sakit.


"Kita harus jelasin darimana,Yah?" tanya Dehan memutus keheningan diantara keduanya.


"Bunda pasti syok," lanjutnya.


"Kita jelasin pelan-pelan," jawab Willy lemah.Tak yakin.


Langkah kaki terdengar begitu cepat menghampiri keduanya.Mereka sama-sama kompak mrnoleh ke asal suara.


Nampaklah Linna dengan raut wajah khawatir diikuti Alika di belakangnya.Dia sangat khawatir ketika Alika mengajaknya ke rumah sakit atas permintaan Dehan.Ia takut ada apa-apa dengan putranya itu.

__ADS_1


"Ayah?siapa yang sakit?kalian nggak papa kan?" tanya Linna mengerjab-ngerjabkan mata sambil mengelus puncak kepala Dehan yang menunduk lemah.


Raut wajah khawatir sangat kental dalam nada bicara Linna.


Dehan menolehkan wajahnya pada Linna dan langsung memeluk erat bundanya itu.


Linna kaku.Ada apa ini?mengapa tiba-tiba anaknya ini sangat cengeng?


"Abang kanapa?" tanya Linna menyambut pelukan Dehan seraya memberikan ketenangan dengan usapan lembut.


Tak ada jawaban hanya suara isakan yang terdengar.


Alika terdiam.Baru kali ini ia melihat suaminya itu menangis.Apa tentang Denan-denan itu?otaknya itu berusaha mencari kebenaran atau sekedar menebak-nebak apa yang terjadi.


Linna bingung,menatap Willy yang memalingkan wajah.


Ada apa ini?kenapa seperti ada yang aneh?


Setelah lebih tenang akhirnya Dehan melepas pelukannya.


"Cerita ke Bunda," ucap Linna.

__ADS_1


Dehan diam melirik ke arah Alika yang sepertinya juga kepo.


"Ikut saya Linna," akhirnya Willy bersuara.Ia berdiri dari tempat duduknya.


Linna menatap Dehan kemudian diangguki anaknya itu.


Linna berdiri dan tersenyum ke arah Dehan.


Kini giliran Alika yang mendekat.Ia tak tahu menahu.Tapi kan kasian melihat suaminya itu menangis.Ia duduk agak jauh agar tak mengganggu Dehan yang masih menunduk.


Hari ini ia berencana pulang ke rumah mamanya.Iya.Ia sakit hati karena Dehan akan pergi berjalan-jalan dengan Mawar.Tapi sudahlah.Nggak jadi.Masak suaminya lagi nangis ia tinggal.Nggak tega---


Baru saja Alika ingin bersuara,Ia dikejutkan dengan tangan kekar Dehan yang membawanya ke dalam pelukan.


Alika diam membeku.Tak tahu harus melakukan apa setelah mendengar isakan kecil keluar dari bibir tipis Dehan.


Dehan memeluk erat tubuh kecil Alika tak memberi ruang saat Alika ingin melepaskan pelukannya.


Alika berdehem,tak jadi melepas pelukannya karena ditahan Dehan.Nalurinya berkata ia harus menenangkan Dehan dengan cara membalas pelukannya.


"Nangis yang kenceng ngga usah tahan.Tumpahin semua ke gue," ucap Alika.Ia sedikit bergidik geli saat Dehan makin menduselkan wajah dilehernya.

__ADS_1


Wrrrr


lanjottt


__ADS_2