
"Sialan!kenapa Lo nggak becus ngurus dia?tinggal tabrak aja pake salah sasaran!" Luna membentak preman yang sebelumnya ia suruh untuk mencelakai Alika.
"Maaf Nona.Saya juga tidak tahu karena dia datang tiba-tiba."
"Aman nggak?."
"Tenang saja Nona.Saya menggunakan nomor plat palsu dan di sana tidak ada cctv."
"Dasar nggak becus.Nih komisi Lo! Jangan sampe mulut lo nyebut nama gue!." Ia melempar segepok uang ke arah preman itu
Luna.Siapa lagi jika bukan Luna.Gadis itu tak peduli dengan nyawa orang lain.Ia akan membabat habis semua orang yang menghalangi jalannya.
Luna tersenyum seringai, "Analika Subadra kali ini Lo lolos dari dari gue!."
.
"Iya Bang.Dehan ke sana sekarang juga."
Lenno baru saja menelfon Dehan yang masih berada di kelas.Ia menyuruhnya menuju ruangan direktur untuk membicarakan sesuatu.Coeok itu berdiri membuat seisi kelas yang masih fokus mencatat menjadi menoleh kepadanya.
"Maaf Bu,saya izin ke toilet sebentar."
"Oke, tapi cepet," jawab Bu Melly.
"Baik Bu."
Dehan berjalan menuju ruang direktur.Lorong kelas 11 sangat sepi.Hanya ada suara sayup-sayup suara guru di dalam kelas yang menjelaskan materi.Tiba di sana,ia langsung mengetuk pintu dan berjalan masuk sambil mengucapakan salam.
"permisi...," Dehan mengedepankan sopan santun takut jika ada orang lain di sini.
"Kita kasih dia apa?."
Suara Lenno membuat Dehan menyerngit kemudian Ia menangkap sosok Lintang yang sedang duduk di depan Lenno dengan wajah tertunduk.
"Kenapa,Bang?."
"Dia yang neror Lili."
Dehan terdiam.Bagaimana mungkin Lintang yang melakukan itu?. Bahkan Ia terlihat tak mencurigakan bergumul dengan Alika.
Lintang mendongak.Menatap Dehan.Seketika amarah Dehan mengepul.Menyadari sosok serigala berbulu domba yang telah meneror istrinya selama ini.Dengan mata merah ia tak segan langsung memukul pipi kanan Lintang hingga tersungkur.
"BANGS*T!!" Dehan seperti orang kesetanan memberi bogeman dahsyat pada Lintang.
Lintang mencoba berdiri dengan tertatih.Menatap nanar Dehan yang memberikan pukulan-pukulan telak padanya.
__ADS_1
"Kenapa?apa urusan Lo?siapa Lo?," Ucap Lintang meremehkan Dehan.
"Lo nggak berhak tahu soal itu! DASAR BAJING*N!!"
"Damagenya orang kaya emang beda ya? Apa-apa orang bawah kek gue yang selalu salah.Gue cuman jadi kurir buat dapet uang.Apa salah?." Ucap Lintang.
"SIAPA YANG NYURUH LO!," Dehan sudah siap memukul Lintang lagi,tapi Lenno dengan sigap menahan Dehan.
"Jangan main fisik,main otak bro!," Bisik Lenno. "Biar gue yang ngomong."
"Ada dua pilihan buat Lo. IN or OUT?," Ucap Lenno serius.
"Gue akan jamin seratus persen Lo dan keluarga Lo aman.Tapi Lo harus ikutin semua perintah gue."
"Apa maksud Lo?gue bukan budak Lo!."
"Dasar munafik.Berapa dia kasih Lo?gue bisa bayar sepuluh kali lipat."
"Gue harus percaya gitu?,"
"Semua biaya Rumah Sakit Ibu Lo bakal gue tanggung sampe sembuh," ucap Lenno dengan santai.
Sejenak Lintang berpikir. "Oke,gue pegang omongan Lo!."
"Oke deal."
.
"Dahlah muka-muka gue aja kepo banget Lu," Lintang berlalu duduk di kursinya.
"Eh,Elsya.Ke UKS,yuk!.Obatin muka gue." Masih sempat-sempatnya Ia menggoda Elsya.
Elsya melengos tak ingin berbicara pada Lintang.Entah kenapa Elsya selalu tak mengindahkan perasaan Lintang.Bahkan hingga nekat bekerjasama dengan Luna pun Lintang tak bisa merebut hati Elsya.
"Yaelah.Elsya teoossss.Cari yang Laen ngapa bisa?udah dikacangin gitu tetep aja ngotot.Kasian tuh Si Elsya." Celetuk Kevin.
"Diem Lo.Gue kan setia sama dia," ucap Lintang.
"Definisi jagain toko orang.Nggak ada hasilnya." Saut Kevin lagi.
"Ya,justru itu gue jagain.Kali aja dapet upah," jawabnya sambil melirik Elsya.Upah yang dimaksud Lintang adalah Elsya membalas perasaannya.
Elsya tahu betul apa alasan ia tak mau menatap Lintang.Ingin rasanya Elsya memberitahu apda Lintang bahwa Luna hanya memanfaatkan cowok itu saja.Tetapi Ia urung melakukan itu.Tak mungkin Lintang percaya begitu saja padanya.Dan lebih parah lagi bisa-bisa ia dianggap gila.Dan juga satu lagi,ia menyimpan banyak teka-teki yang belum terpecahkan sampai saat ini.
Sedangkan Dehan menyusul masuk setelah Lintang.
__ADS_1
"Nah ini juga,ijin ke toilet kayak ijin ke Jakarta." Celetuk Mala lagi.
"Berisik," ucap Dehan berlalu menuju kursinya sambil melirik Lintang.
"Wahh,sabar bro.Kayaknya lagi badmood Lo dah." Ucap Rey.
"Diem."
"Oke...oke." Rey mangangkat tangan.
.
Ada yang menarik di siang ini.Tepatnya ketika jam istirahat di mulai.Dengan wajah dinginnya,Dehan berjalan menggandeng Alika.Sedangkan Alika,tentu saja ia sangat malu,menundukkan kepalanya.Cowok itu memaksa Alika agar mau pergi ke kantin.
"Ayo!."
Alika yang semula menelungkupkan kepalanya di atas meja langsung mendongak.
"Hm?."
"Ke kantin."
"Enggak-nggak." Alika gelagapan.
"Ikut atau gue gendong?." Bisik Dehan.
"Eh."
"Cie....cie," satu kelas bersorak melihat interaksi mereka yang tampak menggemaskan.Yang satu kaku dan yang satu lagi gelagapan.
"Apalah daya jomblo karatan ini!," Saut Kevin.
"Yang masih malu-malu...oink..oink." ucap Rey memanas-manasi.
Seluruh isi kelas memandang mereka berdua dengan tatapan menggoda.Tak tahan dengan semua itu akhirnya Alika berdiri dan langsung menggandeng Dehan yang masih kaku.
"Wah,ternyata ceweknya lebih agresif bund...ahay," Romi bersorak.
Sekarang Alika menyesali perbuatannya.Kenapa Ia pergi bersama Dehan?.
Semua tatap mata tak henti-hentinya menatap mereka berdua.Bahkan berbisik-bisik hingga memekak pendengaran Alika.Dehan mengeratkan pegangan tangannya untukemberi semangat untuk Alika.
"Nggak usah takut.Gue ada di sini.Amggep aja sekarang gue adalah perisai Lo," bisik Dehan tersenyum manis.
Kenapa dia sangat manis? Batin Alika.
__ADS_1
...🐔🐔🐔...