
"Ck, ck, ck."
Wanita buaya itu tersungkur, tatkala Valesha dengan geramnya melampiaskan amarah di dalam hatinya, memukul pipi Sheilin dengan penuh ambisi.
"Beraninya kamu!!" ucap Sheilin mengarah pada Valesha di depan matanya.
"Kenapa? kamu sakit? apa kamu juga pernah berpikir aku juga sakit atas semua yang kalian lakukan padaku?" tanya Valesha pada Sheilin.
"Dasar wanita gila! beraninya kamu seperti ini padaku, awas saja kalau nanti Axelo bangun, akan aku adukan semua yang kamu lakukan padaku!!" ucap Sheilin pada Valesha, agaknya dia benar-benar marah.
"Mau ngadu? mau ngadu sama Axelo? silahkan lakukan! jangankan mengadu, andai kamu mengatakan padanya hari ini juga silahkan bunuh aku, aku pun akan menerimanya! bahkan dengan sangat senang hati!" balas Valesha.
Perdebatan semakin terasa memanas saja, seakan api berkobar semakin besar di antara keduanya. Bahkan bisa dilihat kedua wanita itu sama-sama punya ambisi ingin menang dan menghabisi.
Keduanya nampak berhadapan, dengan tatapan mata tajam dan saling menusuk satu sama lain.
"Dengar, ya, Sheilin! aku tidak pernah tahu apa yang direncanakan oleh kekasih menjijikan kamu itu, tapi aku lebih tidak bisa memahami dirimu di sini, mengapa kau membelanya, sedangkan aku tidak pernah tahu dirimu sebelumnya, tapi kenapa kamu sekejam itu ingin menjatuhkan aku, dan kamu juga mendukung balas dendam Axelo pada keluargaku," ucap Valesha pada Sheilin.
"Karena keluarga kamu memang pantas dijatuhkan! mereka pantas mendapat ganjaran yang setimpal! itulah yang diinginkan Axelo! sampai hari itu tiba, aku dan Axelo akan tertawa bahagia di hadapan kalian semua! ingat, Valesha, di dunia ini harus ada yang namanya keadilan, kamu menghancurkan keluarga Axelo, maka keluarga kamu juga harus mendapat balasannya!!" ucap Sheilin, lalu memilih untuk keluar dan kemudian menutup pintu kamar Valesha dengan keras.
Blam!!
Wanita itu makin tersungkur, di atas kasurnya yang semakin dingin dari hari ke hari. Jatuhlah air matanya dengan deras di kedua pipinya, ia bahkan tak pernah tahu apa yang terjadi pada masa lalu mereka, antara kedua orang tuanya dengan keluarga Axelo, entah mengapa semuanya makin rumit.
Rahasia apa yang sebenarnya mereka sembunyikan darinya? mengapa dia yang tidak tahu menahu soal permasalahan di masa lalu yang harus mendapat ganjarannya?
Ia bahkan berjumpa dengan Axelo karena pria itu yang menginginkannya. Ia yang masih menjadi gadis polos pada waktu itu, ia bahkan ingat betul saat itu Axelo yang menjadi dosen undangan di kampusnya, mulai menaruh perhatian padanya, meski mereka hanya dipertemukan sekilas di dalam kelas itu, pada saat itupun Valesha tidak terlalu memperhatikan Axelo.
Dia acuh saja, karena ia tak pernah memiliki pemikiran akan menjadi bagian hidup Tuan Axelo Devandra Wicaksono yang terkenal dimana-mana, menjadi seorang pebisnis muda yang jaya di masanya.
"Valesh, hari ini kamu sangat cantik!"
__ADS_1
Hingga di hari itu, segerombolan mahasiswa nakal itu menggodanya, memainkan rambut anggunnya, dan terus menggodanya sepanjang ia berjalan.
Valesha yang tak tahan dengan sikap mereka hanya bisa terus berjalan menjauh, tak mau punya urusan lebih jauh lagi dengan para mahasiswa berandal itu.
"Hei, mau pergi kemana?"
Namun mereka terus mencegat langkah kakinya. Kejadian itu terjadi setelah jam kelas dengan Axelo usai.
"Tolong jangan ganggu aku!"
Valesha bahkan masih ingat betul pada saat itu, ia sangat terganggu, sangat cemas, mengingat tidak ada satu orang pun di kampus itu yang berani melawan gerombolan maniak itu.
Namun pada saat dia telah berada dalam Kungkungan para pria menjijikan itu, seorang pria datang menghampiri mereka, dengan otot-otot kekar miliknya.
"Ck! ada banci di sini rupanya!"
"Ah?"
"Ah? pria itu?"
Pada saat itu dia tak pernah menduga kalau orang yang datang dan menolongnya rupanya Tuan Axelo yang gagah pun juga tampan dengan seribu pesona yang dimilikinya.
Ia hanya bisa memaku manakala pria itu dengan kegagahannya berhasil menumbangkan beberapa pria di depannya, membuat Valesha akhirnya bisa bebas dari jeratan para pria brengsek yang tidak tahu sopan santun itu.
Mereka tumbang satu demi satu, dengan disaksikan langsung oleh Valesha di sana, dengan mata terbuka.
Hosh! Hosh! Hosh!
Mereka semua lari pontang-panting ketakutan akan dihabisi tanpa ampun oleh Axelo. Dan itu artinya, sekarang Valesha sudah aman.
Gadis polos itu mendekat ke arah Axelo, dan menunduk beberapa kali untuk sekedar mengucapkan rasa terima kasih.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan, terima kasih!"
Dan sejak saat itu, Axelo selalu hadir untuk memberinya bayangan penuh pesona. Pria itu tiada hentinya mengganggu hidupnya, muncul di depan kampus, dan menjemput Valesha, tentunya dengan senyum indahnya itu.
Aku sudah mendapatkannya!
Namun Valesha tak berpikir apapun. Ia hanya berpikir dirinya mulai menyukai Axelo, begitupun sebaliknya.
Ia bahkan tak pernah sadar, semua itu adalah rencana Axelo, menjadi dosen tamu di kampus Axelo, menolong Valesha dari para pria itu, lalu menjerat Valesha dalam cintanya yang membunuh.
Keduanya semakin dekat, bahkan Valesha tak sungkan lagi memperkenalkan Axelo pada sang ayah, Wishnu Fotham. Entah angin apa yang berlalu dalam hidupnya, sang ayah pun tak berpikir panjang langsung menyetujui Axelo untuknya.
Hingga pada hari itu, pernikahan antara mereka akhirnya terjadi. Mereka saling berhadapan dan saling mengucap janji sehidup semati bersama, tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain, apapun yang terjadi, dalam suka maupun duka.
Valesha bahkan tak pernah tahu, semua ini sudah direncanakan sejak awal oleh Axelo, hanya karena dendam yang teramat dalam dan menyiksa keluarganya bertahun-tahun lamanya, ia berani menghancurkan pernikahan dan perasaan istrinya sendiri.
Dan kini Valesha masih terdiam bingung di dalam kamarnya, dengan tangis yang tiada pernah bisa terhenti. Tangis yang terus saja mendera dan semakin membasahi pipinya dengan deras.
Dari arah luar, terdengar dengan jelas Sheilin yang tengah berteriak dengan amarahnya, mungkin wanita itu merasa kesal dengan sikap dan tindakan Valesha padanya barusan, atau mungkin, wanita itu amat mencemaskan Axelo setelah mengalami insiden mengerikan bersama Valesha.
"*Aku tidak mau dia diberi makanan, biarkan saja dia mati! jika Tuan marah, bilang saja semua ini keputusanku! kalian mengerti*!!?"
"*Baik, Nyonya*!"
Dan setelah itu keadaan benar-benar sepi dan juga hening, seakan di luar sana sudah tidak ada lagi kehidupan. Sementara di dalam kamar, Valesha makin terdengar terisak.
Ia memikirkan bagaimana nasib Axelo setelah terkena tembakan olehnya, tapi dia lebih mencemaskan bagaimana nasibnya kelak jika terus berada di rumah ini.
Akankah dia bebas?
Rahasia apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu keluarga mereka?
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...