
Tak tak tak tak!
Suara derap langkah kakinya akhirnya sampai di meja depan, meja yang diduduki oleh seorang wanita dengan pakaian yang serba rapi, dan bau parfum yang, huhh! lebih menyengat dari pada yang dia pakai.
Entah mengapa hidungnya jadi merasa gatal saat mencium aroma menusuk parfum wanita di balik meja tersebut.
Meski merasa terganggu, namun ia tetap menjalankan rencanannya. Dia terlihat menggunakan penutup dan penyamaran yang sangat sempurna, agaknya semua orang juga tidak menyadari akan kehadiran dirinya di sana, entah mereka yang tidak tahu penyamaran yang dia lakukan, atau memang mereka tidak kenal siapa dirinya sebelum ini.
"Aku ingin bertemu dengan Neil?" ucap Sheilin dengan nada yang tak terlalu keras, dia memang hanya terdengar mengucapkannya dengan lirih.
"Um? anda ini siapa, ya? bisa tolong membuka kacamata dan masker yang anda kenakan? sekalian juga untuk topinya?" tanya wanita muda itu pada Sheilin.
"Ngomong apa kamu? kamu tidak berhak mengatur aku, bilang saja, aku teman lamanya Neil!" ucap Sheilin sembari melirik kesana dan kemari, takut saja ada seseorang yang mengenali dia.
"Maaf, tapi Pak Neil sedang tidak ada di kantor," jawab wanita itu.
"Jangan mencoba untuk membohongi aku, cepat katakan di mana Neil sekarang? aku harus bicara dengan dia!" ucap Sheilin lagi, kali ini sedikit mengimbuhkan penekanan khusus di dalam nada bicaranya.
"Tolong penjaga! ada seseorang yang mencurigakan di sini!!"
Namun di luar dugaan Sheilin, wanita itu malah berteriak memanggil anggota keamanan, dan mengatakan kalau dirinya orang yang mencurigakan.
"Apa? dasar tidak tahu diri!!"
Terlihat Sheilin yang kabur sebelum anggota jaga datang kesana, setelah dia memberikan lirikan maut pada wanita yang telah berteriak menyebut dirinya orang mencurigakan.
Tak tak tak tak!
Suara derap langkah kaki keduanya pun terdengar bersahutan bersamaan dengan tubuhnya yang dibawa keluar dari perusahaan milik keluarga Wishnu Fotham.
Ia berlari tak tentu arah, dengan langkah yang tergesa-gesa, tidak melihat ke sisi kanan kiri, terus saja berlari mencoba untuk menjauh sebelum di tangkap oleh para anggota jaga.
Namun karena dia terlalu serius dalam berlari, akhirnya tubuhnya pun menubruk seseorang yang tidak dia lihat sebelumnya.
Brukk!
"Arkh!"
Ia terjatuh, bersamaan dengan wanita yang dia tubruk yang juga tersungkur. Hanya saja bedanya wanita itu berhasil ditangkap oleh bodyguard nya, sedangkan dia, jangankan bodyguard, satpam saja tidak punya.
Agaknya dia memang perempuan miskin yang terlalu banyak gaya.
Ia ambruk ke tanah, dengan kacamata yang terjatuh di atas tanah. Tidak mau ada seseorang pun yang melihat dirinya ada di sana, dia pun akhirnya segera mengenakan kacamata miliknya kembali dan kemudian berniat untuk segera bangun.
Saat dia berniat untuk bangun, mendadak satu uluran tangan mengarah kepadanya, membuat dia tertegun sejenak melihat tangan yang begitu mulus dan juga sangat bening, dengan jari-jari yang tak terlalu panjang, pun tak terlalu pendek.
Ibarat kata porsi jari jemari itu benar-benar pas untuk ukuran wanita cantik. Namun dia tak tahu siapa kiranya yang mengulurkan tangan ini untuknya.
Ia yang penasaran pun akhirnya mendongakkan kepalanya ke atas, dan menatap wajah wanita itu dari balik kacamata dan masker hitam yang dia kenakan.
Duarrrrr!
Lantas dia terkejut dengan sangat hebat, manakala dia mendapati wajah itu milik Valesha.
Wajah wanita yang telah merebut segalanya, dan bodohnya lagi, dia yang memberi dia izin untuk datang ke dalam kehidupan Axelo.
Jika dahulu saat Axelo berencana untuk memperistri Valesha, dia mendukungnya, tapi sejarah kini telah berubah.
Ia yang pada mulanya percaya cinta Axelo hanya untuk dirinya, apapun yang dilakukan Axelo dia selalu mendukungnya, lebih dari itu, dia juga memilih menyetujui pernikahan Valesha dengan Axelo karena ia berpikir jika kelak Axelo berhasil merebut perusahaan yang katanya milik keluarga Axelo itu, maka dia akan mendapat bagian pula dari situ.
Eh, ternyata oh ternyata, dia hanya menjalani mimpi indah yang berjalan secara singkat, dan setelah itu, rupanya dia telah menjadi wanita buangan yang bagi Axelo tidak lebih dari wanita lain, pemuas nafsu.
Ia yang tertegun saat menatap Valesha tak bergeming dari tempatnya sama sekali. Ia melihat senyuman manis Valesha di wajah itu, tapi itu mungkin karena Valesha yang tidak tahu bahwa wanita di balik masker itu adalah dirinya.
Jika saja Valesha tahu, apa mungkin Valesha masih mau mengulurkan tangan manisnya untuk menolong Sheilin?
Tidak mau mendapat bantuan dari seorang wanita yang telah mendaftar menjadi musuhnya, Sheilin pun lantas bangkit dari ambruknya, dan segera berlari menjauh dari Valesha.
"Um?"
__ADS_1
Valesha yang masih berdiri di tempat itu pun merasa sedikit bingung, sebenarnya wanita yang baru saja menabrak dirinya itu kenapa, mengapa dia berlari cukup kencang dan seperti tengah tergesa-gesa.
"Hei!! tunggu!!!"
Belum juga tuntas dengan lamunan asiknya tentang tebakan mengapa wanita itu kabur dari sana, Valesha malah kembali dikejutkan oleh beberapa pria yang terlihat mengejar wanita misterius itu dengan langkah cepat.
"Nyonya, apa kita masuk sekarang?" tanya bodyguard yang dikerahkan oleh Axelo untuk mengantar Valesha.
"Oh? baiklah."
Belum juga dia asik pada pemikiran kedua, bodyguard Axelo itu langsung mengejutkan dia lagi, membuat dia hanya bisa membangunkan diri dari lamunan asiknya, dan kemudian masuk ke dalam perusahaan sang ayah.
Sementara langkah kaki Sheilin masih juga belum terlalu jauh. Dia memilih untuk masuk ke dalam gang sempit yang terdapat jalanan becek dan basah di sana.
Tidak ada pilihan lain, selain lari ke sana, tidak ada jalan lain yang dijamin akan menyelamatkan dirinya dari para pria itu.
"Sialan!! mengapa Valesha juga ada di situ? apa dia kenal dengan Neil?" gumam mulutnya dengan lirih, dengan nafas yang terengah-engah tak karuan.
Dia menoleh ke belakang, mendapati sudah tidak ada pria lagi yang mengejarnya, namun semua itu masih belum pasti.
Orang-orang yang bekerja pada pejabat besar pasti tidak akan semudah itu melepaskan seseorang yang hanya dianggap mencurigakan sekalipun.
Dan dia sudah dianggap orang tidak beres oleh mereka semua.
Dia melihat sebuah drum yang besar tergeletak dengan sembarangan di sisi jalan, jalanan ini agaknya memang dipenuhi oleh sampah-sampah yang berserakan, mungkin jika dia berlanjut keluar dari gang sempit itu, dia bisa menemukan tempat pembuangan sampah.
Hanya saja, dia sudah tidak kuat untuk berlari lagi. Sekarang dia pun akhirnya memilih untuk bersembunyi di dalam drum besar itu.
Tak tak tak tak!
Benar saja dugaan Sheilin, para pria petugas jaga itu masih mengejar dirinya, dan sekarang mereka tengah berdiri si samping drum yang tengah dia jadikan tempat untuk bersembunyi.
Huhh!
Rasanya benar-benar seperti film action yang dibintangi langsung oleh dirinya, agaknya dia cocok juga memerankan film action, mungkin memberi judul "penakluk pria kaya" juga bagus.
Dia hanya bisa terus mengendalikan nafas dan detak jantungnya yang bergemuruh semakin keras. Untung saja detak jantungnya meski sekeras apapun itu hanya dia yang bisa merasakannya.
"Sialan! cepat sekali lari wanita itu!" ucap salah seorang di antara mereka.
"Bagaimana sekarang? kita cari dia? atau kita kembali?" tanya satu orang yang lainnya.
Nampak yang ditanyai sejenak berpikir keras, akhirnya dia punya keputusan yang bijak.
"Kalian berdua kembali ke perusahaan, kita lanjut cari dia sampai dapat."
Jawab pria yang ditanyai itu pada ketiga kawannya.
Dan perkataan itu pun mendapat persetujuan dari ketiga kawan yang lain. Mereka pun akhirnya berpencar, dua kembali ke perusahaan, dua lagi mencoba untuk mencari sampai ke ujung gang.
Suasana masih sedikit menegangkan. Dan suasana seperti itu membuat Sheilin harus tetap bertahan di dalam drum besar itu sampai mereka benar-benar pergi dan tidak melihat dirinya kabur.
Sampai akhirnya dia benar-benar tidak melihat mereka semua lagi. Menganggap situasi yang sudah mulai beralih aman dan juga normal, dia pun lantas mengeluarkan diri dari drum itu, dan segera berlari ke arah yang lain, mencoba mencari titik keluar kecuali dia jalan yang dilalui oleh para pria tadi.
Dalam langkah kakinya yang sekarang tidak terlalu cepat itu, dia sempat berpikir apa yang dilakukan oleh Valesha di perusahaan Neil.
Sejujurnya dia sendiri tidak pernah menyangka kalau Valesha rupanya kenal juga dengan pria bernama Neil yang akan dia jadikan mangsa selanjutnya.
Tapi pertanyaan dalam benaknya itu juga bukan pertanyaan satu-satunya.
Dia juga mempertanyakan kemana kiranya Neil berada, mengingat pria itu tidak akan pernah meninggalkan perusahaan selama riwayat karirnya lima tahun terkahir.
Jadi sekarang, siapa yang bisa dia jadikan tameng untuk melindungi dirinya itu?
Aku harus segera menemukan Neil, dimana pun dia berada, aku harus bertemu dia!
Tak tak tak tak!
Langkah kedua kakinya terus berlanjut mencari ujung dari jalan yang dia terlusuri, sampai akhirnya dia keluar dari gang di sisi yang lain, sisi yang sangat jauh dari perusahaan Neil berada.
__ADS_1
Akhirnya dia bisa bernafas lega meski harus berada di dalam masker hitamnya. Ia telah bebas, akhirnya dia bisa bebas.
Dia melangkah ke sisi jalan, menghentikan satu taksi yang berlalu di depannya, dan kemudian masuk ke dalam taksi tersebut.
"Jalan!"
Vrooooommmmm
Soal Valesha, aku harus benar-benar mencari tahu apa yang dia lakukan di sana, kalau aku menemukan satu hal yang seru, mungkin aku bisa membuatnya jadi barang rongsokan Axelo sama seperti aku.
...----------------...
Tak tak tak tak!
Satu keluarga besar tampak sudah tiba di kota Z. Mereka baru saja turun dari pesawat setelah melakukan perjalanan yang cukup penat di dalam pesawat.
Mereka semua langsung dijemput oleh mobil yang sebelumnya sudah mereka pesan terlebih dahulu, dan sekarang, mereka pun tampak mulai memasuki mobil secara bergantian.
Wajah ketiga orang di sana tampak cemas, ini bukan panggilan biasa, bukan panggilan yang selama ini selalu mereka alami. Ini adalah panggilan maut dan lonceng penghenti karir mereka selanjutnya.
"Ibu, bagaimana kalau tebakan Neil benar? apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Neil pada sang ibunda, dia memang selalu bersama dan tunduk pada ibunya.
"Ibu juga sedang berpikir, agaknya paman kamu itu sudah tidak bisa lagi mempertahankan kamu di sana, karena putrinya sudah beranjak dewasa dan memiliki latar belakang yang semakin kuat," ucap wanita itu tanpa mengalihkan pandangan matanya ke arah Neil sama sekali.
Sementara yang paling muda di antara mereka tengah sibuk merias dirinya, berusaha untuk berdandan secantik mungkin dan terlihat tidak terlalu memperdulikan ucapan orang-orang yang lebih tua darinya.
"Sekarang jika menolak pun tidak ada bagusnya sana sekali, justru sangat terlihat kalau kita ingin menguasai perusahaan itu, tapi jika kita bicara pelan-pelan, mungkin kita bisa membujuk dengan cara yang lain."
"Apa ibu punya ide yang jauh lebih baik?" tanya Neil pada ibunya.
"Tenang saja, ibu akan berusaha supaya kamu tetap menetap di sana."
Setelah adegan perencanaan telah disusun dengan sangat rapi, sekarang akhirnya mereka semua terdiam membisu selama perjalanan, perjalanan yang menempuh waktu hampir dua jam lamanya, dan sekarang, mereka akhirnya telah tiba di kediaman Wishnu Fotham.
Kediaman yang dahulu seharusnya menjadi kediaman kepala keluarga mereka, namun apa boleh buat, mereka gagal merebut warisan rumah ini dari Wishnu Fotham.
Ketiga orang itu keluar dari mobil, tanpa menenteng koper besar atau semacamnya, hanya sekedar tas kecil yang ada di tangan Ahwei, dan juga putri terkahirnya, Yuri.
Mereka bertiga lantas mendekat ke arah pintu masuk, dan kemudian tanpa basa-basi lagi, mereka mengetuk pintu rumah Wishnu Fotham.
Tok! tok! tok!
Tak lama ketiganya menunggu, seorang pelayan datang membukakan pintu rumah untuk mereka. Pintu pun terbuka begitu lebar, menampilkan sisi mewah dan besar pada rumah tersebut.
Dan sekarang mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah itu, tanpa sambutan dari tuan rumah yang masih sibuk di ruang kerjanya.
"Silahkan duduk, Nyonya!" ucap salah seorang pelayan pada mereka bertiga.
Ketiganya tidak menggubris tawaran dari wanita itu. Hanya terlihat mereka semua yang terduduk di sofa dengan santai.
Seorang pelayan datang membawa beberapa minuman dan beberapa camilan di dalam wadah.
"Silahkan dinikmati, nyonya! Tuan!"
Pelayan itu lekas pergi setelah menjamu tamu Wishnu Fotham itu dengan makanan yang dia bawa dari arah dapur.
"Selamat datang adik ipar."
Mendadak seseorang datang ke tempat dimana Ahwei dan kedua anaknya terduduk di sofa.
Mendengar suara Wishnu Fotham dari satu arah, ketiga orang itu pun lekas berdiri dan menyambut kedatangan Wishnu Fotham dengan sangat ramah.
"Terima kasih atas sambutannya kakak ipar," jawab Nyonya Ahwei, dengan senyuman di bibirnya yang tidak terlalu singkat.
Setelah menyapa tuan rumah, ketiganya kembali terduduk di sofa, dan mulai berbincang dengan Tuan Wishnu Fotham.
"Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan pada kalian bertiga," ucap Wishnu Fotham dengan wajah datarnya.
Ketiga orang di depannya hanya terlihat diam tak bergerak. Mereka sudah jelas tahu apa yang akan dikatakan oleh Wishnu nantinya.
__ADS_1
Baiklah, apapun yang terjadi, aku harus mendapat setengahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...