Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Sandiwara


__ADS_3

Dia tampak mengepalkan satu tangannya dengan erat, sembari memandangi siaran langsung yang ada di ponsel miliknya.


Ia juga tampak tak sabar ingin mendengar celoteh baru apa lagi yang akan wanita itu katakan pada dirinya.


Entah itu sesuai dengan dugaannya, atau mungkin bahkan jauh lebih mengejutkan, dia benar-benar tak sabar untuk menantikannya.


\*\*\*\*\*\*\*



Sementara seseorang di depan kamera tampak menyunggingkan senyum liciknya dengan sangat hati-hati, bahkan sampai tidak begitu disadari oleh semua orang.


Ia tampak senang mendapat pertanyaan semacam ini. Mungkin ini akan menjadi kesempatan besar bagi dirinya.


"Nyonya, tolong jelaskan pada kami tentang desas-desus hubungan anda dengan Tuan Axelo."


Dia kemudian menepis senyum piciknya dengan cepat, dan kemudian mulai menunjukkan wajah buramnya di hadapan semua orang, termasuk juga Victor.


"Hiks.. hiks.."


Dia pun mulai berakting, salah satu bakat terbaiknya, bahkan melebihi aktris senior.


Semua orang menjadi bingung, semakin dibuat bingung dengan tangisan yang seolah-olah dibuat menjadi sangat nyata di depan semua orang.


Kini tak hanya Victor yang berhasil ditipu oleh wanita buaya ini, tapi semua orang juga berada dalam posisi yang sama.


"Kenapa dia malah menangis?"


Tanya beberapa wartawan melihat Sheilin yang terus saja menitihkan air matanya dengan menyedihkan.


"Nyonya, kenapa anda menangis? apa anda punya cerita tragis di balik semua ini? apa anda menyembunyikan sesuatu seorang diri selama ini? katakan dengan jelas!"


Sial!


Victor mulai merasa terjebak. Dia mulai mengepalkan kedua tangannya dengan geram dan juga sangat kesal.


Dia tahu wanita di sebelahnya ini hendak berbuat satu hal yang bisa saja akan menghancurkan dirinya di sini.


Tak mau melihat wanita ini berulah, Victor pun segera membuka jaket yang dia kenakan dan kemudian berpura-pura merasa peduli pada tangisan Sheilin.


Ia membalutkan jaket miliknya untuk menutupi punggung Sheilin, dan bersikap seolah-olah Sheilin merasa tertekan dengan pertanyaan mereka semua.


"Sudah, cukup! semuanya sudah berkahir, kasihan istriku, dia ketakutan!" ucap Victor pada semua awak media.

__ADS_1


Mendengar perkataan dari Victor barusan, membuat Sheilin seketika tertegun. Dia membelalakkan kedua matanya lebar dan bulat seperti bola, menatap ke arah wajah Victor yang dengan pandainya berakting manis di hadapan kamera, seolah tengah membintangi sebuah drama bertajuk pendusta.


Jujur saja, Victor memang aktor yang hebat bersandiwara. Pantas saja kalau namanya semakin melambung tinggi di dunia perfilman.


Selain karena campur tangan Sheilin juga di dalamnya, dia memang pantas mendapat julukan rajanya pemain film.


Namun kali ini pria ini membuat Sheilin merasa kacau dengan sandiwaranya yang terlampau hebat ini.


Di depan kamera Victor bahkan berlagak seperti suami yang sangat menyayangi istrinya, padahal di belakang kamera, keduanya bukanlah apa-apa.


"Dasar kau!!"


Mendadak Sheilin mengamuk.


Dia dorong tubuh Victor yang kurus dan tinggi semampai itu dengan kedua tangannya, dan kemudian dia terlihat membuang jaket milik Victor di atas lantai.


Sekarang semua orang dibuat terkejut dan terpaku di tempat mereka semua berdiri.


"Lihatlah dirimu! bodoh sekali! kau mau menyelamatkan dirimu dari berita yang menyebar dengan luas itu dengan menjatuhkan aku, membuat hubungan antara aku dan Axelo putus, kamu bahkan sengaja memeras aku dengan menggunakan video itu untuk mengancamku! dasar tak tahu diri!!"


"Ah?"


Semua orang terkejut. Mereka tampak diam dan tak bisa berkata-kata lagi setelah mendapat jawaban atas pertanyaan yang mereka mau sejak beberapa minggu terakhir.


"*Ya, aku sudah merekamnya*."



Tak hanya para wartawan yang terkejut, Victor pun tampak terdiam dan melongo mendengar perkataan dari Sheilin barusan. Agaknya dia sendiri tidak pernah menduga kalau wanita ini akan menjadi macan tutul di depan awak media.


Di balik keterkejutan semua orang, nampak begitu tipis Sheilin yang tersenyum licik merasakan kemenangan akan segera tiba dan memihak padanya.


Lihat Victor, kau bukan tandinganku, kau bahkan tidak tahu bagaimana caranya bermain.


Gumam Sheilin masih dengan otak liciknya.


Di sisi lain, Victor terlihat membisu. Meski begitu, dia tak mau kehilangan akal. Bagi dia sudah cukup untuk semua basa-basi ini.


Jika berita dan bukti sudah tersebar dengan luas, maka itu artinya tidak ada lagi yang harus dia bantah.


"Kau bilang apa barusan? aku yang merebut kamu dari Tuan Axelo? sayang, kita bahkan sudah hampir satu tahun menikah, meski kita tidak menikah di pengadilan agama, tapi kita hidup dengan bahagia bersama." Ucap Victor masih tak mau kalah juga cerdiknya dengan Sheilin.


"Kau yang salah, kenapa saat kau sudah menikah denganku, dan Axelo juga sudah punya seorang istri, tapi kau malah masih saja terus berharap padanya, sedangkan kau tak kurang apapun dariku, aku memuaskan kamu dengan sangat baik, aku mencukupi kebutuhan sehari-hari kamu dengan uang yang cukup, bahkan sengaja aku lebihkan."

__ADS_1


Sekarang malah Victor yang jadi banyak bicara. Ia tahu betul bagaimana harus menghadapi wanita ini. Untungnya dia bukan pria yang gampang kehilangan akal.


"Tapi kau terus saja mengejar dia, kau terus saja mengharapkan cinta dari pria yang telah beristri, tanpa kamu lihat ada aku yang ada di samping kamu." Sambung Axelo lagi..


"Ah? apa yang baru saja Victor katakan? apa itu semua perbuatan wanita itu?"


"Ck, sungguh tidak tahu malu sekali dia."


Sheilin terdiam membisu. Mendengar semua perkataan dari Victor barusan, sekujur tubuhnya mendadak berubah menjadi beku, seolah memaku dan tidak bisa bergerak dari sana.


Sekujur tubuhnya bergetar hebat, bulir keringat dingin mulai terlihat bersarang di keningnya, membuat wajah gugupnya semakin terlihat dengan jelas.


Apalagi saat mendengar perkataan dari semua orang, perkataan demi perkataan yang terus berusaha untuk menjatuhkan dirinya.


Sekarang dia tak ubahnya seperti buronan yang kemudian ditangkap oleh ribuan pemburu dan bersiap untuk menerkam dia sampai mati..


Heng! lihat wajah lucu ini, semakin terlihat menggemaskan!


Gumam Victor dengan sangat puas.


\*\*\*\*\*\*



Buk!


Ia melempar ponselnya ke atas jok mobilnya, setalah dia memastikan siaran langsung di sana.


"Humph! membosankan!"


Gumamnya dengan lirih.


"Aku pikir dia akan begitu berani untuk menuduh aku, rupanya dia juga bukan seorang yang bisa dibanggakan." Sambung Axelo lagi.


"Tuan, apa anda begitu yakin ingin melakukannya pada Nona Sheilin? maaf jika pertanyaan saya terlalu lancang, saya hanya ingin tahu apa anda membutuhkan bantuan untuk rencana selanjutnya atau tidak." Ucap Oaklard di kursi depan.


"Aku sudah yakin dengan keputusanku, dia juga berhutang banyak padaku, memangnya apa yang membuat aku merasa ragu? bukankah sejak awal aku juga tidak mengencani dia karena cinta?" jelas Axelo.


"Lagipula dia jelas lebih menyebalkan dari Valesha, jika bukan karena ibunya kemungkinan punya hubungan dengan kematian ayahku, aku juga tidak akan mungkin mendekati dia dan mengencani dia."


Jika dipikir-pikir, aku menyesal juga pernah berjumpa dengan dia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2