Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Turun Dari Kapal


__ADS_3

Dia pun hanya terdiam membisu, mulai memungut pakaian yang diminta Axelo untuk dia kenakan.


Ia lekas bergeming dari atas kasurnya dan kemudian bersiap-siap. Ia mengenakan pakaian yang dibelikan oleh Axelo barusan, sembari menatap ke cermin.


Cantik sekali melihat dia mengenakan dress pendek pemberian dari Axelo itu. Apalagi saat dia mengenakan sepatu yang senada dengan pakaian itu, dengan rambut yang dikuncir secara sederhana, tentu saja sebuah keajaiban mendadak terjadi.


Ia tak lain seperti putri dunia dongeng yang tersihir oleh sebuah keajaiban. Dia sendiri bahkan sangat memuji dirinya yang ternyata cantik jelita.


Namun sayang, wajah anggun dan tubuh moleknya itu harus dinikmati dan menjadi bahan pelampiasan dendam oleh seorang laki-laki yang amat dia cintai.


Salahnya yang terlalu bodoh di masa lalu, mengapa sampai bisa secepat itu jatuh cinta pada sosok Axelo, sekarang lihat sendiri akibatnya, dia harus merelakan kecantikan dan keindahan pada tubuhnya untuk orang yang sangat membencinya.


Mendadak dia menciutkan senyuman di bibirnya, menatap dengan sendu wajah cantik dan anggunnya di hadapan cermin, hingga terlihat raut mukanya kembali cekung.


Setiap hari dia lalui dengan keadaan seperti itu, tak pernah tahu kapan semuanya akan berkahir. Agaknya mustahil saja dia akan lekas menemukan kebahagiaan, hidup di samping Axelo, jika pria itu sudah menjeratnya, maka dia sendiri tidak akan pernah bisa lari.


*Malang sekali nasib kamu, Valesh! kenapa kau harus jatuh di tangan seorang pria yang hanya menggunakan dirimu untuk pelampiasan dendam*?


*Apa aku masih bisa bangkit dan lari dari sini*?


Sejenak dia termenung dengan sedih, meratapi nasibnya yang tiada pernah bahagia.


Sampai akhirnya dia mengingat satu hal. Bukankah sebelumnya dia ingin berkata pada ayahnya untuk tidak bertemu sekarang?


Dia pun lekas menyambar ponsel miliknya dari atas nakas, dan setelah itu dia mulai menghubungi sang ayah dengan ponselnya tersebut.


Bip!


"Hallo, ayah?"


Panggil Valesha sesaat setelah sang ayah mengangkat panggilan darinya.


"*Hallo, Nak, gimana bulan madu di kapal pesiar nya? kalian sudah menghabiskan berapa banyak tisu untuk semalam? hi hi hi.. ayah tidak sabar menunggu hasil positif darimu*."


Plak!


Valesha menepuk jidatnya, tidak percaya kalau sang ayah bahkan masih bisa bertingkah konyol. Mengapa sekarang dia jadi seperti sedang disidang oleh anak kecil?


"Aduh, ayah, Valesha bukan menelfon untuk bercanda, Valesha mau bilang, kalau Valesha dan Axelo tidak bisa bertemu dengan ayah sekarang, kami ada acara lain yang tidak bisa ditunda, apa bisa bicaranya lain kali saja?"


Tanya Valesha dengan wajah datar yang dia miliki.


"*Ah? kenapa tiba-tiba? semalam ayah dan Axelo sudah sepakat akan membicarakannya pagi ini, apa dia punya kesibukan lain yang sangat mendadak? sampai mendadak harus membatalkan acara pertemuan dengan ayah*?"


Ish!


Acara pertemuan, di luar klien penting apa.


Valesha terlihat meraih tas di atas meja, dan bersiap untuk segera keluar setalah dia berhasil membujuk sang ayah untuk tidak bertemu dengan Axelo saat ini.


"Iya, ayah, mendadak kami berdua mendapat tugas penting, dan sepertinya setelah kami menyelesaikan tugas, kami akan langsung pergi bulan madu ke luar negeri." Ucap Valesha pada ayahnya.


"*A? benarkah? kalian serius akan memberi ayah seorang cucu? baiklah, pergi saja, tidak apa-apa, soal perusahaan, kapan-kapan pasti akan ayah bicarakan dengan Axelo, kalian pergilah untuk membuat cucu*."


Bip!


Dan sesaat setelah berbicara pada putrinya, pria itu terdengar begitu senang, tidak berbicara apapun lagi pada Valesha, dan kemudian lekas menutup perbincangannya dengan Valesha.


Hahh!


*Benar dugaanku, ayah hendak membicarakan soal perusahaan, semoga aku benar melakukan ini*.


Dia terlihat menggenggam erat ponselnya, lalu kemudian terlihat dia mulai beranjak, bersiap untuk keluar dari kamar.


Di sisi lain, terlihat Axelo yang tengah berdiri di depan kamarnya, di samping pintu masuk sembari bermain ponsel terlihat tengah menghubungi seseorang.


"Ya, aku butuh rencana yang lebih baik, kamu sudah mengantongi identitas dia?" tanya Axelo pada seseorang di seberang sana.


"*Ya, aku sudah tahu siapa dia, apa kau mau aku mengurusnya juga*?" suara orang itu terdengar seperti bukan suara Ashkan.


"Iya, aku mau kau yang mengurusnya, Ashkan tidak mungkin mau melakukannya, aku tidak yakin dia mau ikut campur untuk urusan ini." Ucap Axelo menjelaskan sedikit gambaran yang dia mau dari misinya kali ini.


"*Baiklah, aku akan berusaha, ngomong-ngomong, tuan, bukankah kata anda mungkin saja pagi ini anda sudah bisa mendapatkannya? kenapa anda mempersiapkan rencana kedua*?"


Tanya seseorang di seberang, mungkin dia hanya ingin tahu saja alasan mengapa Axelo menyuruhnya untuk bertindak.


"Tidak perlu banyak bicara! lakukan saja apa yang aku perintahkan!"

__ADS_1


"*Ba-baik, tuan*!"


Bip!


Seseorang di seberang sana terdengar gugup dalam menjawab perkataan Axelo. Tak lama setelah itu, dia pun segera mengakhiri perbincangannya dengan Axelo, mungkin dia tidak mau menambah masalah untuk dirinya sendiri.


Sementara itu, terlihat Axelo yang mulai mematung dengan pemikirannya sendiri.


*Karena aku tahu, bukan tidak mungkin dia akan menggagalkan rencanaku nanti, ini adalah langkah yang paling mudah, bisa saja dia juga mudah menggagalkannya*.


Cklek!


Saat dia termenung, mendadak dia dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka dari dalam, agaknya Valesha sudah bersiap untuk segera pergi.


Benar saja, saat dia menoleh ke arah pintu, tampak seorang putri cantik dengan penampilan anggunnya tampak keluar dari kamar.


Wajahnya tampak sedikit lebih baik, kalau cantik, sejak dahulu Valesha memang gadis yang sangat cantik, apalagi setelah dia beranjak dewasa, dia terlihat makin anggun, meski itu hanya saat dia berada di dalam rumah.


Dia selalu berpenampilan sederhana dan tidak terbilang terlalu mencolok saat di luar rumah, karena itulah tidak semua orang tahu kalau dirinya adalah putri pengusaha kaya, yang memiliki wajah cantik dan sangat anggun seperti putri negeri dongeng.


Tak dapat dipungkiri, Axelo pun mengagumi kecantikan dari wajah yang dimiliki oleh Valesha sendiri.


Bukan tidak mungkin, dia menjadikan Valesha sebagai pelampiasan dendam, tapi di sisi lain, dia pun merasa sedih karena wajah cantik istrinya dia rubah menjadi sedih dan terluka.


Kenapa dia sedih? seharusnya dia senang karena pada akhirnya dia telah berhasil menyengsarakan wanita ini. Dia sudah berhasil menggapai apa yang sejak dulu dia inginkan.


Lalu sekarang, kenapa saat dia sudah mendapat semua itu, mendadak dia menjadi sedih?


Tidak bisa!


Dia harus tetap menjadi dirinya sendiri.


"Kau sudah lama menunggu?" tanya Valesha membuyarkan lamunan Axelo di sana.


"Kau tahu berapa lama kau menghabiskan waktu."


Pria itu kemudian hendak pergi meninggalkan Valesha di tempatnya. Tapi Valesha dengan cepat mencegat langkah kaki Axelo.


"Tunggu!" cegat Valesha sembari meraih tangan suaminya.


Axelo menoleh ke arah Valesha, dan kemudian menyiratkan tatapan tajam, mengisyaratkan Valesha untuk segera melepas pegangan tangannya itu.


Valesha yang sadar akan maksud lirikan mata Axelo yang begitu tajam itu pun lekas melepas pegangan tangannya dari lengan Axelo, dan segera menyimpan tangannya secara baik-baik.


"Ta-tadi, ayah sudah bilang, hari ini tidak bisa bertemu denganmu, dia bilang punya urusan mendadak." Ucap Valesha, nada bicaranya terdengar gugup dan terbata-bata.


Mendengar perkataan dari Valesha barusan, lekas Axelo tertegun di tempatnya. Rupanya benar apa yang dia takutkan beberapa saat yang lalu. Rencananya akan gagal dengan sangat mudah, seperti yang dia tebak.


*Sudah aku duga*.


Dia pun lekas memalingkan wajahnya, membalikkan badannya mengacuhkan Valesha di tempat berdirinya.


Ia bergeming, mulai berjalan menjauh dari Valesha di tempatnya, membuat Valesha makin merasa bingung dengan semua ini.


*Dia kenapa lagi? apa aku membuat dirinya marah*?


"Kalau begitu, segera berkemas, kita langsung pulang saja," jawab Axelo sembari melangkah menjauh dari Valesha.


Lambat laun langkah kakinya mulai terlihat cepat, meninggalkan Valesha di kejauhan, dan sekarang bahkan langkah kakinya sudah tidak lagi terlihat.


Sekarang keduanya berjalan dengan jarak yang begitu jauh. Sampai mungkin jika seseorang melihat mereka, pasti akan berpikir kalau keduanya bukan pasangan harmonis.


*Lihat kamu! begitu kecewa dengan pembatalan ini! tentu saja hal itu tidak akan menguntungkan aku, atau pun ayahku, jika begitu, mana mungkin kamu merasa kesal hanya karena pembatalan pertemuan ini*?


Benak Valesha berkata-kata, pada akhirnya dia mulai merasa menang menghadapi Axelo. Semoga ini termasuk awal yang baik untuk ke depannya.


Dia pun semakin melebarkan langkah kakinya menyusul Axelo. Dia tampak fokus melangkah ke depan, sampai pada akhirnya dia mendapat sebuah panggilan dari seseorang di seberang.


Drrrt Drrrttt.


Ponselnya bergetar di dalam tasnya, membuat dia lekas mengangkat panggilan tersebut, wajahnya mulai berubah menjadi sedikit berbinar. Mungkin seseorang yang menghubungi dirinya di seberang adalah salah satu orang terpenting dalam hidupnya.


"Hallo, apa kabarmu?" tanya Valesha nampak sembari membersitkan senyuman.


"*Hallo, Valesh! aku dengar kau terbang ke negara Z, kenapa kau tidak menemui aku dulu? jangan gara-gara kamu sudah punya suami kaya, lalu kamu mengacuhkan aku, ya? dasar lupa diri*!"


Mendengar perkataan orang di seberang, yang mungkin saja seorang wanita, ya, suaranya memang seperti suara wanita, Valesha tampak terkekeh mendengarnya. Dia pasti sangat dekat dengan wanita di seberang sana.

__ADS_1


"Ha.. ha.. aku tidak tahu apa bisa menemui kamu apa tidak, suamiku bukan pria yang tidak sibuk." Jawab Valesha masih sambil terus berjalan keluar.


"*Baiklah, jika bisa bertemu denganku, hubungi aku, ya, aku akan menyetujuinya meski aku sangat sibuk*."


"Ha.. ha.. dasar sok sibuk! dengar-dengar kau mau bermain film? apa kau gugup?" tanya Valesha lagi.


"*Tahu darimana kau? eh, aku punya kabar gembira, ini bukan hanya kejutan yang sangat mengejutkan, tapi aku benar-benar hampir mati karena mendapat kejutan ini*."


"Uhum?"


Dia keluar, tampak sosok Axelo yang tengah menunggunya untuk turun dari kapal. Dia lekas mendekati Axelo meski dia tahu pria itu sedang sangat acuh pada dirinya.


"*Dan kau tahu siapa yang akan jadi lawan mainnya*?"


Yang di seberang terdengar sibuk berceloteh sendirian.


"Siapa memangnya?" tanya Valesha.


"*Aktor terbaru itu, Victor, kau tahu dia, kan? yang tinggal di kota R juga, aku sangat senang, meskipun aku bukan sebagai tokoh utamanya, tapi aku senang bisa satu film dengan dia*," dia benar-benar sangat mengidolakan sosok Victor.


Mungkin dia masih belum tahu apa yang telah terjadi pada Victor, atau mungkin, nanti dia akan benar-benar sangat terkejut saat mendengar semua tentang Victor itu.


Berbeda dengan sang sahabat yang terdengar senang mendengar nama Victor, Valesha malah jadi tertegun sendiri. Dia tidak tahu mengapa dia tampak familiar saat mendengar nama Victor itu.


Tapi dia mencoba acuh saja, tidak tahu apa yang dia pikirkan itu benar atau tidak, yang pasti dia harus berbahagia melihat sahabatnya bahagia.


"*Kalau kau tidak bisa menemui aku juga tidak apa-apa, setengah bulan lagi aku akan terbang ke kota R, saat itu tiba, kau harus ada untuk menyambut kedatanganku, jangan banyak alasan, apalagi dengan menggunakan suami kamu, ya*."


Valesha hanya tersenyum miring mendengar celoteh sahabatnya itu, "baiklah, akan aku usahakan."


"*Baguslah kalau begitu, aku harus pergi sekarang, sampai jumpa lagi, ya, bye*.."


"Bye," jawab Valesha dengan singkat.


Bip!


Tak lama setelah itu, panggilan pun di akhiri. Sekarang Valesha sendiri juga sudah sampai di sisi Axelo, pria itu agaknya sudah lelah sekali. Mungkin dia juga pada akhirnya lupa kalau ayahnya Valesha membelikan tiket bulan madu keluar negeri untuk mereka.


Fuhhh!


Syukurlah.


Sejenak Valesha menjadi lega, entahlah, dia sangat senang kalau sampai kepergian keluar negeri itu benar-benar dibatalkan.


"Apa kita sudah bisa pergi sekarang?" tanya Valesha dengan gugup.


"Kau yang terlalu lambat!"


Ucap Axelo semakin terlihat kekesalan di wajahnya. Entah bagaimana pria ini bisa menjadi semarah itu. Apa mungkin karena ucapan Valesha beberapa saat yang lalu saat mereka berdua masih berada di dalam kamar?


Keduanya pun lekas turun dari kapal, memasuki mobil yang telah dipersiapkan, dan kemudian melaju lagi mobil Axelo itu menuju ke bandara.


Sepanjang perjalanan, kedua manusia itu hanya terlihat diam dan saling membisu. Tidak ada perbincangan apapun di sana, bahkan suara nafas pun tidak terdengar.


Entah bagaimana cara melunakkan hati pria ini. Huhh! Ia ingin sekali menendang pria ini sampai keluar mobil, setelah itu, dia pasti akan jadi orang paling puas di dunia.


Namun apa boleh buat, dia hanya bisa terdiam dan terduduk seperti patung yang tidak dibutuhkan, atau mungkin lebih parahnya lagi, tidak pernah dianggap ada.


Sial sekali menikahi pria seperti ini.


*Kenapa dia marah padaku? apa aku mengatakan kata-kata yang membuat dirinya marah? ternyata dia juga bisa terluka*.


Tring!


Tak lama setelah itu, terlihat ponsel Axelo mulai mendapat perhatian dari Axelo, setelah sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, membuat pria itu segera membukanya.


Klik!


'*Aku sudah menemukan dia, apa yang anda minta untuk kami lakukan*?'


Tanya seseorang melalui pesan tersebut.


Segera saja Axelo mengetik beberapa kata untuk membalasnya.


'*Buat dia menyerah*.'


Wanita di sampingnya tampak merasa penasaran. Entah apa yang sedang diurus oleh suaminya itu, mengapa sekarang pria itu jadi sangat sibuk dengan ponselnya?

__ADS_1


Apa mungkin, selain punya urusan dengan ayahnya, dia juga punya urusan dengan orang lain?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2