Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Bertengkar


__ADS_3

Sssshhhhh


Ia meringis kesakitan manakala Ashkan mengoleskan salep luka bakar tepat pada lukanya. Sesekali dia meringkuk, reflect terkena salep, lukanya pasti terasa begitu sakit.


"Tahan dulu sebentar, hanya sebentar lagi, kok."


Ucap Ashkan tanpa peduli Valesha yang agaknya sudah tidak mau lagi menahan rasa sakitnya. Mungkin Ashkan bukan hanya sekali saja berkata demikian.


Namun wanita itu hanya bisa menurut saja, memaksa diri untuk menahan rasa sakit yang luar biasa pada kakinya, dan membiarkan Ashkan menyelesaikan tugasnya mengobati luka di kakinya.


"Apa kamu bisa melakukannya lebih pelan lagi? kau tidak tahu bagaimana rasa sakit itu," ucap Valesha mencoba memberitahu Ashkan kalau dirinya begitu kesakitan.


Ashkan yang mendengar keluhan dari mulut Valesha pun hanya bisa mendengus kesal, tanpa menoleh ke arah Valesha sama sekali, hanya terasa di kaki Valesha, pria itu mengoleskannya lebih pelan dari sebelumnya.


Tak disangka adik ipar Valesha ini cukup perhatian juga.


Di sisi lain, tampak sosok Axelo yang tengah keluar dari kamarnya. Ia baru saja mandi dan sekarang dia terlihat lebih segar.


Kebetulan hari sudah mulai petang. Entah mengapa hari cepat sekali berlalu, seakan hanya beberapa detik saja mereka melaluinya.


Namun saat pria itu melongok ke lantai bawah, dia begitu terkejut, saat mendapati Ashkan yang tengah asik menyentuh bagian tubuh istrinya.


"Dasar sialan!" umpat dari mulutnya terdengar lirih, tapi jujur saja umpatan seburuk itu pasti juga akan berdampak buruk bagi kedua orang di bawah sana.


Ia melempar handuk yang semula dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Dia lempar saja benda yang teracuhkan itu ke sembarang tempat, lalu dia lupakan begitu saja di tempatnya terbuang.


Lekas dia turun dari lantai dua, dengan tatapan matanya yang tajam setajam pisau belati, dan tanpa berbasa-basi lagi, segera saja dia meraih kerah baju yang saat itu tengah di kenakan oleh Ashkan.


"Dasar brengsek!"


"Axelo!"


Dia langsung menarik paksa tubuh Ashkan dari posisi duduknya, hingga bangkitlah pria yang ditarik olehnya dengan raut muka penuh keterkejutan.


"Kak?"


"Sialan! tidak tahu diri!"


Buk!


Valesha yang juga dibuat terkejut dengan tingkah mendadak yang Axelo lakukan pada Ashkan pun hanya bisa mencoba melerai kedua kakak beradik itu dengan sebisanya.


Kakinya yang tengah sakit pada nyatanya tidak bisa dia ajak berkompromi. Sayang sekali, padahal saat itu dia benar-benar membutuhkan kondisi kakinya yang baik-baik saja.


"Axelo, hentikan!" dia pun hanya bisa berteriak menghentikan Axelo.


"Kak, dengarkan aku!"


Bukk!


"Tidak akan!"


Bukk!


Axelo semakin asik dan gencar memukuli Ashkan, seakan dia benar-benar menikmati penyiksaan yang dimulai dari sebuah kesalahpahaman.


"Axelo, aku mohon hentikan!" teriak Valesha sekali lagi, kali ini dia benar-benar berharap suaminya akan berhenti memukuli adiknya sendiri.


Bukk!


"Kau salah paham!"


Bukkk!


Tapi Axelo sama sekali tidak memberi kesempatan untuk Ashkan berbicara, sama seperti sebelumnya, sejak mereka sama-sama tumbuh dewasa, Axelo memang tidak pernah mau mendengar ucapan dari adiknya sendiri.


"Tidak ada salah paham! kau jelas menyentuh dia semau kamu!"


Bukk!


Wajah Ashkan sudah lebam, bengkak kesana dan kemari, di bagian ujung garis bibirnya keluarlah darah segar yang menjadi penambah pemandangan di wajahnya terlihat lebih miris.


"Axelo, aku mohon hentikan!"


Valesha akhirnya mencoba berjalan maju mendekati pertengkaran itu. Meski kakinya terasa sangat kaku pun juga sangat pedih, tapi dia tidak punya cara lain lagi selain mencegat Axelo dari jarak dekat.


"Aw!"


Namun dia mengaduh, saat dia mulai melangkahkan kakinya satu langkah ke depan. Tapi dia bukan langsung menyerah, hanya luka bakar sedikit saja, dia masih bisa menahannya, bukankah dia bukan termasuk gadis manja.


Bukk!

__ADS_1


Sementara kakak beradik di depan Valesha masih terlihat asik bertarung, tidak lebih tepatnya, Axelo yang masih asik memukuli Ashkan, dan Ashkan yang mengalah itu hanya bisa terdiam tidak mau melawan.


Pukulan tangan yang sangat keras dari tangan Axelo telah menghujani bagian wajahnya, perutnya, dan bahkan kedua kaki Ashkan pun tak luput dari tendangan Axelo. Tapi Ashkan sama sekali tidak membalas pukulan dari sang kakak itu, entah mengapa, dia memang jarang melakukan perlawanan saat Axelo sedang marah padanya, hampir tidak pernah.


Agaknya posisi kakak beradik ini sedikit tertukar, karena mungkin biasanya seorang kakak yang akan mengalah pada adiknya. Tapi dalam cerita Axelo dan Ashkan, Ashkan lah yang paling sering mengalah di antara mereka berdua.


Bukk!


"Ugh!" Suara Ashkan yang mencoba untuk menahan rasa sakit akibat pukulan Axelo yang mengenai bagian perutnya.


"Kau sudah berbuat macam-macam pada istriku! lihat saja balasan dariku!"


"Cukup, Axelo! kau sudah keterlaluan!"


Swosh!


Secepat kilat, Valesha melepas tangan Axelo dari Ashkan, dan kemudian menghalangi Ashkan dari serangan Axelo.


Ia membentangkan kedua tangannya menghadang apapun yang akan Axelo lakukan pada Ashkan. Dan dia terlihat cukup berani untuk melakukan hal tersebut.


Namun Axelo malah terkejut setengah mati. Bukan sebuah mimpi, sekarang istrinya bahkan malah melindungi adik kandungnya sendiri. Apa dia tidak salah lihat?


"Jangan pukuli adik kamu sendiri! dengarkan dulu penjelasan dia, setalah kau merasa dia bersalah, baru kau boleh pukuli dia!" ucap Valesha menentang perbuatan Axelo, yang memang terkesan sepihak saja.


Mendengar perkataan dari sang istri, Axelo malah merasa sakit hati, sakit yang entah mengapa terasa begitu sakit.


Seakan hati kecilnya tak pernah rela melihat adik kandungnya sendiri menyentuh tubuh sang istri, meski itu hanya sekedar kakinya.


Humph!


Ia yang kesal pun hanya bisa memalingkan mukanya ke arah yang lain, lalu mulai berjalan meninggalkan sang istri dengan adik kandungnya di sana.


Aku tidak menyangka dia lebih membela adikku.


Bela saja sana! aku juga tidak akan peduli!


Umpat Axelo dalam hati kecilnya.


Setelah kepergian Axelo dari hadapan Valesha dan Ashkan, wanita itu terlihat menutup kedua tangannya kembali normal, dan kemudian mulai melihat kondisi tubuh Ashkan.


"Wow, kau bengkak parah!" ucap Valesha melihat wajah Ashkan yang mulai terlihat aneh.


"Bagaimana? apa sangat sakit?" tanya Valesha pada Ashkan, sembari merengkuh Ashkan dan menuntun pria muda itu duduk di sofa.


"Sssh, sudah tahu aku terluka seperti ini, kenapa masih tanya apa sangat sakit?" jawab Ashkan dengan kesal. Ia tak tahu justru jawaban yang dia lontarkan dari mulutnya itu hampir meledakkan perut Valesha.


Namun Valesha menahan tawa dalam perutnya, meski ternyata rasanya cukup sulit.


Dia pun terduduk, dengan bantuan dari Valesha yang sebenarnya juga tengah merasa kesakitan dengan luka di kakinya.


Sekarang kedua orang itu terlihat duduk berjejer begitu dekat, membuat seseorang yang tengah berdiri di balik tembok makin dibuat kesal.


Tatapannya dingin seperti pemburu berdarah dingin, hatinya marah dan bergejolak begitu panas. Entah bagaimana dia akan meredamkan perasaannya sendiri, tapi dia benar-benar kesal melihat kedekatan antara Ashkan dan Valesha.


Awas saja kau! aku akan mengirim kamu ke luar negeri!


Umpatnya dalam hati kecilnya.


Kita kembali lagi pada situasi yang tengah terjadi antara Ashkan dan Valesha. Wanita itu terlihat tengah berjalan meski tertitah-titah setelah mengambil kotak obat merah yang tadi diletakkan di atas meja oleh Ashkan saat mengambil salep luka bakar untuk dirinya.


Dia kemudian terduduk di samping Ashkan, dan mulai mengobati luka di wajah Ashkan dengan tangan lembutnya, padahal dia sendiri sedang terluka parah, tapi masih tetap mencemaskan Ashkan.


Huhh!


Apa nggak tambah cemas tuh pak suami?


Dasar istri genit! aku akan menghukum kamu nanti!


Setelah berdebat dengan hatinya, Axelo yang tidak tahan menyaksikan kedekatan antara istri dan adiknya sendiri, dia pun mulai beranjak untuk pergi, entah itu keputusan yang sangat tepat, atau mungkin ini adalah keputusan terburuk yang pernah dia ambil, tapi sepertinya dia memang butuh pendingin suasana.


Ia pun hanya bisa melangkah menuju ke area halaman belakang rumahnya. Terduduk saja dia dengan geram di atas kursi yang langsung menghadap ke arah kolam renang.


Perasaannya sangat kacau, entah apa yang terjadi pada dirinya, agaknya dia benar-benar sakit dan kesal melihat kejadian antara sang istri dan adik kandungnya beberapa saat yang lalu.


Sementara itu, di dalam rumah, tepatnya di dalam ruangan tengah yang memang di desain dengan cukup luas, dengan nuansa hangat seperti kehangatan keluarga, tampak Valesha yang tengah asik mengobati luka di wajah Ashkan.


Sekarang memang bergantian, Valesha yang pada akhirnya menjadi perawat dadakan setelah dirinya semula menjadi pasien Ashkan.


"Ssshhhh, bisa pelan sedikit tidak? sentuhan kamu sama seperti sentuhan tangan pria, kasar sekali!" ucap Ashkan mengeluh pada pelayanan yang diberikan oleh Valesha.


Mendengar celoteh Ashkan yang terlalu banyak mengomel, Valesha hanya bisa berdecak kesal. Agaknya dia lupa kalau sebelumnya dia juga cerewet saat diobati lukanya oleh Ashkan.

__ADS_1


"Ck, kau ini! manja sekali! salah sendiri kenapa tadi tidak melawan Axelo, sudah tahu dia bisa saja membunuh kamu, kamu malah diam saja dia pukuli! siapa yang bodoh kalau begitu!"


Wanita itu terlihat mengomel dengan puasnya, sembari mengoles obat merah di luka dekat bibir Ashkan. Agaknya dia begitu kesal karena Ashkan memilih untuk diam saja saat diserang oleh Axelo, atau mungkin, dia kesal karena Axelo yang tidak mau mengalah dari adiknya sendiri, entahlah, tidak tahu juga.


"Kau ini! aku tidak pernah melawan dia, entah bagaimana dia marahnya padaku, tapi aku tetap berusaha untuk mengalah." Ucap Ashkan mendadak raut mukanya lesu dan juga sendu.


Valesha menatap pria muda yang sekarang menjadi adik iparnya itu. Dia menangkap sebuah kesedihan yang mendalam di wajah Ashkan, entah pria itu sedang mengingat momen seperti apa, yang pasti, dia terlihat begitu muram.


A? dia sedih? apa dia mengingat satu hal dalam seumur hidupnya?


"Apa yang terjadi?" tanya Valesha pada Ashkan, dengan wajah polosnya.


Hahh!


Ashkan hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, tidak tahu bagaimana cara dia menjawab pertanyaan rumit yang Valesha berikan kepadanya.


"Aku berhutang nyawa pada kakakku, aku juga berhutang hidup pada kakak, karena itulah aku tidak pernah berani menyakiti kakakku." Ucap Ashkan sembari menunduk, agaknya dia benar-benar sedang memikirkan satu hal penting di dalam hidupnya.


Hutang? apa yang sedang dia bicarakan ini? rahasia apa lagi yang belum pernah aku dengar dari keluarga kecil ini?


"Hutang? kau bilang hutang nyawa pada Axelo?" tanya Valesha sembari menuntut jawaban dari Ashkan.


Namun Ashkan hanya bisa memalingkan wajahnya menjauh dari Valesha. Agaknya ini bukan waktu yang tepat untuk dia bicarakan dengan Valesha, bahkan dengan kakaknya pun dia masih belum siap.


Ia pun hanya acuh saja, mengalihkan pandangan matanya, dan kemudian lekas pergi dari sana, meninggalkan Valesha seorang diri di ruang tengah.


Wanita itu kini dilanda kebingungan, entah berapa ribu rahasia yang tidak dia ketahui dari hubungan rumit kehidupan Axelo dan orang-orang di sekitarnya.


"Luka bakar di kaki kamu cukup serius, jangan berpikir untuk memasak lagi, aku akan pesan makanan lewat ponselku, diam saja dan jangan beraktivitas terlalu berlebihan." Ucap Ashkan sembari melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Valesha semakin jauh.


Namun Valesha hanya bisa terdiam membisu.


Padahal luka dia jauh lebih parah dariku, tapi dia masih bisa mengkhawatirkan aku, bagaimana dengan keadaan suamiku sendiri?


Sementara dia sendiri masih belum bisa mengungkap dendam apa yang tersembunyi di masa lalu antara Axelo dengan keluarganya, agaknya kalau hanya untuk kematian ayah Axelo, seharusnya tidak akan berbuntut panjang seperti ini, atau dia memang terlalu menganggap semuanya mudah.


Ia lekas bangkit dari posisi duduknya, mengemas semua isi kotak pertolongan pertama yang semula dia gunakan untuk mengobati luka Ashkan.


Dia mengemas semua sampah yang berserakan di dalam ruang tengah itu, meski pikirannya masih semrawut tidak tahu harus mulai dari mana untuk menebaknya.


Sudah hampir satu tahun aku mengenal Axelo, tapi aku sama sekali tidak paham dengan semua yang ada pada dirinya.


Entah orang-orang di sisinya, atau mungkin hati kecilnya, dendam dan semua rahasia di masa lalunya, dia terlalu banyak menyimpan rahasia.


Ia terlihat berpikir keras mengenai semua yang masih menjadi pertanyaan dalam benaknya semenjak dia menikah dengan Axelo.


Tidak tahu harus bagaimana dia melalui semua ini, tapi memang benar, rahasia tentang Axelo dan semua masalah Axelo di masa lalu, semuanya terlalu rumit, tidak bisa dia tebak.


Atau memang dia yang terlalu bodoh?


Bzzz Bzzzz


Mendadak ponselnya berdering. Ponsel yang sejak tadi dia letakkan di dalam saku bajunya pun akhirnya dia keluarkan, ingin lihat saja siapa yang saat itu menghubungi dirinya.


Oh, rupanya ini dari Geshka, sahabat yang mungkin dulu pernah lebih dekat dibanding dengan orang lain semasa kuliah dulu.


Ia tersenyum, lalu mengangkat panggilan dari gadis di seberang sana.


"Hallo, sedang luang kah, waktu kamu? sejak tadi pagi selalu menghubungi aku, apa kau tidak sedang casting film?" tanya Valesha sedikit meledek kepada sahabat nya itu.


"Valesh, aku menghubungi kamu karena aku baru saja melihat kabar mengejutkan di ponselku." Ucap Geshka dari seberang, agaknya dia benar-benar cemas soal berita yang baru saja dia dapatkan.


"Um? cemas kenapa?" tanya Valesha lagi, dia terlihat tengah mengelap meja, padahal di rumah itu ada pelayan, entah dia lupa atau bagaimana, dia bahkan tidak meminta bantuan pelayan.


"Aku lihat foto kemesraan tentang Victor dan seorang wanita yang diketahui bernama Sheilin, menurut artikel yang aku baca, katanya Sheilin itu mantan kekasihnya Axelo, suami kamu itu!"


Ucap Geshka sejenak memang membuat Valesha tertegun.


Sheilin? apa aku ketinggalan berita?


"Aku tahu tentang dia, tapi apa masalahnya dengan kamu?" tanya Valesha mencoba mengalihkan perbincangan antara dirinya dengan Geshka, menurut Valesha membicarakan soal Sheilin dan suaminya sekarang pada Geshka bukan satu pilihan yang tepat dan bijak.


"Nyonya, kenapa nyonya malah membersihkan rumah? bisa mati aku kalau tuan sampai tahu!" ucap Wellin terkejut dan ketakutan memergoki Valesha yang tengah bersikap seperti pelayan.


Sontak Valesha berhenti, dia tersenyum pada Wellin yang terlihat ketakutan sembari membereskan ruang tengah, melanjutkan pekerjaan yang dia lakukan sebelumnya.


"Berita itu pasti akan berpengaruh pada film yang akan aku bintangi."


Apa malam tadi, saat Axelo mencegah aku bermain ponsel, ada hubungannya juga dengan berita ini?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2