Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Benarkah Pertemuan ini Tidak Disengaja?


__ADS_3

*Bagaimana aku tidak ingat, dia kan pengusaha terkaya nomor satu di negara Z*.


*Katanya dia juga punya perusahaan yang sangat banyak dan semuanya menempati jajaran sepuluh besar perusahaan dengan pemasukan terbanyak tahun ini*.


*Dia masih lajang*.


*Dan dia punya kehidupan misterius yang tidak banyak orang mengerti*.


*Tentu saja aku tahu*.


*Setelah aku mencari namanya di google*.


"Kenapa kau sendirian di sini?"


Tanya Axelo menghancurkan lamunan asik dalam benak Valesha.


"Tidak, aku hanya sedang menunggu taksi." Jawab Valesha, raut mukanya setengah cuek, namun sangat menggoda.


Dia memang cantik, meskipun dalam penampilan cupunya yang tidak tertandingi itu.


"Menunggu taksi?" tanya Axelo dengan dingin, "jam segini masih mau menunggu taksi? ini sudah hampir malam, naik taksi untuk seorang gadis pun rasanya tidak akan bisa menjamin akan aman, pulang saja bersamaku."


Cih!


Pria tampan dan dingin macam apa ini? bisa-bisanya dengan mudah menawarkan tumpangan pada seorang gadis? apa dia tidak tahu bagaimana cara mendapatkan hati wanita?


Atau dia salah satu pria yang memiliki kekurangan dalam hal tersebut?


Tidak bisa dijelaskan. Tindakan Axelo ini terlalu terburu-buru.


"Ap-apa? pulang bersama Tuan?" tanya Valesha pada Axelo, tentu saja pada saat itu dia benar-benar terkejut tidak bisa menjawab tawaran dari Axelo dengan benar.


"Apa kau meragukan aku?"


"*Tuan, anda terlalu terburu-buru, bukan begitu caranya menaklukkan seorang gadis, dia pasti malah berpikir Anda hendak menculiknya*." Bisik pak bodyguard di belakang Axelo.


Mendengar ucapan bawahannya barusan, sejenak Axelo berpikir. Bukankah selama ini dia tidak terlalu sulit menaklukkan seorang wanita?


Sekalinya dia menjatuhkan uang satu gepok, maka sudah lumer lah para wanita itu di depannya. Mengapa sekarang dia malah seperti sedang menjadi mahasiswa dengan nilai terburuk sepanjang masa, yang tengah disidang di dalam ruangan ujian?


"Hem, bukan begitu, aku tidak bermaksud apapun, jika kau mau pulanglah dengan sopirku, itu pun kalau kau mau, kalau tidak, ya sudah, cari saja taksi anda sendiri."


Pria itu jadi acuh. Agaknya dia punya sikap yang aneh. Sebentar hangat, sebentar lagi dingin. Mungkin perubahan cuaca juga tidak secepat sikap Axelo.


Pria itu mulai melangkah meninggalkan Valesha dengan segudang pemikiran ruwetnya.


*Jika pulang naik taksi, benar juga kata dia, belum tentu ada taksi yang lewat*.


*Menunggu pak sopir membenarkan mobil, pasti akan sangat lama*.


*Jika jalan kaki, itu sangat tidak mungkin, tidak akan pernah terjadi padaku untuk seumur hidup bukan*?


*Aku kan seorang putri pengusaha, mana bisa pulang dari kampus jalan kaki*.


Menjatuhkan popularitas!


Di cap putri pengusaha miskin!


Tidak punya kekuasaan!


*Tidak bisa*!


Penyakit sombong mulai menjalar ke seluruh tubuh, termasuk dan terutama otak!


"Tunggu!"


Dengan mendadak dia mencegat Axelo dari langkah kakinya.


Tanpa berpikir panjang, dia pun segera mendekat dan menghadap ke arah Axelo dengan canggung.


"Umm, tuan.." meremas jari jemarinya dengan sangat gugup.


Di depannya, pria itu menatap kedua matanya dengan sangat tajam. Setajam silet!


"Boleh aku menumpang untuk pulang?"


Gugup!


Keringat bercucuran dengan deras.


Situasi angara hidup dan mati!


Seperti halnya menunggu nilai hasil ujian keluar!


"Hemm.."


Mendongak dan menatap pria yang agaknya dia terka memiliki ukuran tubuh yang sangat tinggi, pokonya hampir mencapai dua meter. Agaknya memang begitu.


"Naiklah, ingat untuk membersihkan jok mobil setelah keluar dari mobilku!"


Membenarkan kacamata dan kembali melanjutkan jalannya.


"Yes!" sikap kekanak-kanakan mulai keluar.


Penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan mudah adalah penyakit yang merasa dirinya seperti anak kecil meski sebenarnya dia sudah dewasa.


Baiklah, dipercepat saja jalan ceritanya.


Gadis itu dengan segera memasuki mobil milik Tuan Axelo Devandra Wicaksono. Begitulah nama yang dia dengar dan berdasarkan pencariannya di google beberapa saat yang lalu saat dia masih berada di dalam kelas.

__ADS_1


Dia pun dengan sopan terduduk di samping Axelo, dengan jarak yang membentang sangat lebar.


Jarak antara penumpang dan pemilik mobil.


Sepanjang perjalanan, keduanya hanya bisa diam saja. Hanya terdengar sesaat ketika pak sopir menanyakan kemana arah dia pulang. Dan setelah itu, setalah Valesha menjawabnya, keadaan pun menjadi hening kembali.


Rasanya satu jam berada di mobil Axelo, sama halnya seperti seratus tahun hidup di dunia yang dipenuhi oleh keheningan dan juga kesepian yang amat nyata.


Ia pun tak lebih seperti patung yang sengaja di jejer di jok belakang bersama Axelo menjadi pajangan mobil semata.


Sayang, dia tak memiliki harga yang sepadan untuk itu.


"Di situ saja, pak, rumahku ada di sana." Ucap Valesha saat dia sudah mulai memasuki komplek perumahan elitnya.


Dan tak ada jawaban apapun dari mulut pak sopir di depannya, atau mungkin sekedar tersenyum pun tidak. Mereka ini manusia apa vampir berdarah dingin, si?


Valesha pun pada akhirnya kembali terdiam membisu, dengan perasaan nya yang canggung pun juga tidak nyaman.


Huhh!


Rasanya agak menyesal juga terus berdiam di mobil dengan pria ini, ouh, tidak!


Penyesalannya kala itu adalah, mengapa dia tidak berpikir kalau di dalam mobil pria kaya yang tampan dan juga sangat dingin ini pastinya isinya hanya keheningan saja.


Dia pun hanya bisa menggenggam buku-buku di tangannya dengan erat, semoga saja hal itu bisa menyalurkan rasa gugupnya yang tidak bisa terobati.


"Aku belum tahu siapa nama kamu."


Jleger!


Dan setelah sekian lama keduanya terdiam bak patung manekin yang tidak bisa bicara, beberapa saat sebelum mobil milik Axelo sampai di depan rumahnya, pria itu mendadak berkata hal tersebut pada Valesha.


Tentu saja hal itu membuat jantung Valesha benar-benar tidak merasa aman. Apakah kiranya dia sedang bermimpi?


Berdiam diri cukup lama, dan akhirnya dia dianggap juga. Pada akhirnya dia pun merasa dia dihargai di dalam mobil ini. Hahh, lega juga.


"A? namaku?" ia masih tertegun dan gugup.


"Tentu saja, aku bertanya nama kamu, bukan nama anjing tetangga kamu."


Guk! guk!


Sesaat dia membayangkan saat dia berperan sebagai anjing tetangga. Lucu juga.


"Ouh, namaku Valesha, hanya itu saja."


"Kau tidak punya keluarga, ya? tidak punya nama warisan keluarga? atau kau tidak dianggap?"


Panas dan dingin mulai terasa. Hawa yang sangat jelas membakar seisi mobil, dan jika dibiarkan maka akan membuat mobil itu meledak.


"Aku hanya bercanda, tidak perlu marah." Ucap Axelo mendadak mendinginkan suasana di hati Valesha.


"Itu rumahmu, kan? turunlah, dan jangan lupa usap jok mobilnya."


Isbhhh!!


Geram mulai kembali melanda, dengan tingkat kemarahan yang begitu tinggi, sampah mencapai langit ketujuh.


*Sabar! dia memberi anda tumpangan mobil, Valesha, bukankah itu saja sudah sangat bagus*.


Mencoba menenangkan diri dengan baik. Kecantikan dan aura yang baik adalah bekal utama menjadi seorang putri.


"Haha.. iya, cepat sekali, ya, tuan, tidak terasa sudah sampai saja, terima kasih atas tumpangannya." Dia tak lupa melebarkan garis senyuman di bibirnya, sangat lebar seperti lapangan golf.


*Aku jelas terpaksa masuk ke dalam mobilmu ini, padahal kau sendiri yang menawarkannya padaku! dasar kau*!!


Valesha pun mulai terlihat turun dari mobil, dan kemudian sesuai dengan perkataan Axelo barusan, dia segera membersihkan jok tempat duduknya menjadi sangat bersih.


"Aku sangat pandai bersih-bersih, jadi tidak perlu khawatir, aku akan membersihkan jok mobil anda sampai mengkilat."


Membersihkan dengan sapu tangan miliknya, dan kemudian memastikan kalau jok bekas tempat duduknya benar-benar kembali bersih mengkilat dengan sangat sempurna.


Sling!


Dan akhirnya setelah usaha keras dia membersihkan jok mobil Axelo, menjadi pelayan dadakan Tuan **Axelo Devandra Wicaksono**, ia pun akhirnya mampu menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik.


Sangat baik.


*Ingin sekali aku pukul kepalanya dengan tongkat warisan nenek moyangku, akan aku pastikan kepalanya benjol sampai berdarah-darah*.


"Sudah cukup, pulang saja ke rumahmu," Ical Axelo, dia bahkan tidak melirik ke arah Valesha satu inci pun.


Dingin sekali pria ini, seperti es di benua Antartika yang tidak akan meleleh dengan mudahnya.


Tapi untung saja sekarang dia sudah mengusir Valesha. Bukankah ini satu pertanda yang sangat bagus?


"Baiklah, tuan, terima kasih atas tumpangannya, saya berhutang budi pada anda, terima kasih, sampai jumpa lagi.."


Dia berulang kali menundukkan kepalanya memberi hormat dan ucapan terima kasih pada sosok Axelo. Dia juga tidak lupa untuk mengimbuhkan senyuman manisnya yang sangat khas itu.


Dan setelah drama pertemuan pertamanya dengan Axelo, sekarang dia pun pulang ke rumahnya dengan perasaan yang sangat kacau.


Sementara di dalam mobil, tampak Axelo yang memutuskan untuk tidak langsung pergi meninggalkan komplek perumahan Valesha.


Dia tampak sejenak menatapi bangunan megah milik keluarga Fotham dari dalam mobilnya, dan kemudian menatapnya dengan sangat tajam.


*Jadi ini rumahmu, Tuan Wishnu Fotham*.


Dan setelah dia bergumam beberapa saat, akhirnya dia memerintahkan pada pak sopir di jok kemudi depan untuk kembali melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


"Jalan pak."


"Baik, tuan."


Mobil pun langsung melesat pergi menjauh dari komplek tersebut, hilang dan lenyap pada akhirnya tenggelam oleh kegelapan malam nan menakutkan.


Sementara gadis itu sudah pulang juga ke dalam rumahnya. Ia kemudian masuk ke dalam rumah, berniat untuk menenangkan dirinya.


Fuhh!


Namun baru saja dia menghembuskan nafasnya dengan sangat berat dan juga penat, ia langsung dikejutkan oleh bentakan dari sang ayah yang terdengar bahkan sampai ke ujung timur dan barat rumahnya.


"Bagaimana kau bisa tidak menjemputnya?? dasar tidak berguna! ambil uang pesangon mu nanti!!! aku tidak mau tahu!! cari dia sampai dapat!!!!!"


Valesha langsung masuk ke dalam ruang tengah, dan kemudian mendapati sang ayah yang tengah dicoba untuk ditenangkan oleh beberapa bawahannya sendiri. Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya ayahnya tengah dalam keadaan marah besar.


"Tenanglah tuan, nona pasti tidak apa-apa."


"Ayah? apa ayah sedang mencemaskan aku?" tanya Valesha dengan polosnya, dia bahkan tidak tahu seisi rumah hampir lenyap oleh kemarahan Wishnu Fotham.


Tapi dia dengan percaya dirinya malah menampakan hidungnya tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Valesha?"


Mendengar suara putrinya yang sudah sampai di rumah, ia pun dengan sigap menoleh ke arah Valesha.


"Valesha, kemana lagi kau? pulang dengan siapa kau kali ini? naik taksi lagi?" sang ayah menghujani dirinya dengan segelintir pertanyaan yang amat melelahkan.


Tak cukup sampai disitu saja, sesaat setelah Valesha pulang dari kampusnya, beberapa pelayan langsung membawakan air hangat untuk merendam kedua kakinya, melepas sepatu Valesha, dan mengambil semua barang-barang yang Valesha bawa, termasuk buku-buku di tangannya.


Sebenarnya sikap mereka terlalu berlebihan bagi Valesha.


"Sudah ayah katakan untuk membawa bodyguard kemana pun kamu pergi, kalau begini terus, kamu tidak dijamin selamat." Tampak sang ayah yang amat risau melihat ke arah putrinya.


Meski dia sudah berada di atas kursi roda selama beberapa tahun lamanya, tapi dia tetap tampak sehat dan baik-baik saja. Dia bahkan terlihat sangat gagah meski dalam keadaan lumpuh.


"Ayah, ayah ini sebenarnya terlalu berlebihan, Valesha tidak apa-apa kalau setiap hari harus naik taksi atau pergi tanpa kawalan, bukankah selama ini memang tidak ada yang tahu identitas Valesha sebagai anak ayah?" jawab Valesha dengan sangat cerdas.


Gadis itu melepas kacamatanya. Dia merendam juga kedua kakinya di dalam air hangat yang diambilkan oleh para pelayan untuknya.


Dia menggerai rambutnya yang semula dikuncir dan ditata rapi, dan sekarang, dia benar-benar terlihat sangat manis. Dua kepribadian yang sangat berbeda dalam tubuh yang sama.


Saat itu Valesha memang tidak tahu mengapa sang ayah selalu mencemaskan dirinya, bahkan berpikir dunia luar tidak sebaik yang dia kira.


Wishnu Fotham selalu memberikan pengamanan ketat untuk Valesha, sampai akhirnya Valesha tidak nyaman akan hal tersebut.


Dia tidak memiliki pemikiran apapun saat itu, hanya sekedar mungkin sang ayah tidak mau dirinya terluka di luar sana, hanya itu saja.


Ia bahkan tidak tahu kalau kata ayahnya memang benar, dunia luar tidak sebaik yang dia kira.


Karena itulah dia memilih untuk menyembunyikan identitasnya sebagai putri semata wayang keluarga Fotham. Teman sekampusnya pun tidak ada yang tahu kalau dia adalah seorang putri dari keluarga kaya. Sejujurnya kacamata dan penampilan buruknya itu hanya sebuah pengalihan identitas semata.


Ia kini terlihat lebih cantik, dengan rambut yang digerai dengan sangat indah, dia bahkan lebih pantas menjadi seorang putri dongeng seperti pada umumnya.


"Baiklah, kau memang selalu benar dalam melakukan apapun, tapi, Nak, satu hal yang harus selalu kamu ingat, tidak semua orang diluar sana benar-benar memperlakukan kamu dengan baik, jangan salah artikan kebaikan orang terhadap dirimu, sejauh ini orang baik hanya menginginkan sesuatu, selain itu tidak."


"Ayah, jangan cemas, aku percaya pada ayah, tapi aku juga tidak mau mencampakkan kebaikan mereka semua, aku baru saja berhutang budi pada seorang pria yang mengantar aku pulang sampai ke rumah, bukankah itu artinya aku harus membalas kebaikannya?" tanya Valesha dengan sangat polos.


"Apa kau bilang? kau pulang di antar oleh seorang pria?" tanya sang ayah, mendadak rumah kembali terguncang.


Agaknya dia tidak tahu kalau sebelumnya Valesha diantar oleh seorang pria tampan dari kelas atas. Dan mungkin saja, pria itu jatuh cinta di kemudian hari pada Valesha.


"Ayah, jangan berlebihan, itu lumrah bagi seorang gadis, jika ayah tidak mau aku melajang sampai usia tiga puluh tahun, maka ayah harus merelakan putrimu ini untuk memiliki kekasih." Ucap Valesha dia bahkan menantang sang ayah untuk debat presiden.


"Valesha, jangan macam-macam kamu, kalau kamu benar kenal dengan laki-laki baik, maka bawa saja ke rumah, biar ayah yang menilai kebaikan pria itu, jika dia tidak sesuai dengan karakter yang ayah mau, maka siap-siap saja tidak akan mendapat apapun." Ucap sang ayah.


"Ayah, aku hanya berkata candaan, mengapa ayah selalu membawanya ke jalur serius? sudahlah, aku sudah lelah, aku mau makan dan setelah itu tidur dengan nyenyak, bisakah ayah juga tidur?"


Gadis itu mulai berdiri dan meninggalkan satu wadah besar air hangat yang semula dia gunakan untuk merendam kakinya.


Dia kemudian mengeringkannya dengan lap bersih yang juga sudah disediakan oleh para pelayannya. Ouh, lebih tepatnya, pada pelayannya yang membantu dia untuk mengeringkannya.


"Hahh, ya, ayah akan segera tidur, kau makan saja dulu, lagi pula petang baru saja berlalu," jawab sang ayah.


"Baiklah, dah, ayah."


Gadis itu pun segera meninggalkan sang ayah di lantai satu, dan mulai berjalan menaiki anak tangga yang mengarah kepada lantai dua tempat dimana kamarnya berada.


Ia terlihat menapakkan kaki-kaki jenjangnya di sana, menapaki satu demi satu anak tangga sampai akhirnya tibalah dia di lantai dua.


Dalam langkah kakinya yang bergantian itu, entah mengapa dia masih terbayang sosok Axelo yang sangat masuk ke dalam pria ideal baginya.


Pria yang dingin namun sangat tampan. Biasanya pria seperti itu menyimpan banyak perhatian yang tidak pernah ditumpahkan untuk wanita manapun, bukankah memiliki pria semacam itu adalah sebuah keuntungan tersendiri?


Aish! akhirnya ia mengagumi sosok Axelo juga. Tidak tahu malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.


Atau jangan-jangan, dia akan memimpikan sosok Axelo nanti malam. Tidak tahu juga.


*Yang jelas aku tidak mau duluan jatuh cinta, aish! apa-apaan kau ini, Valesh, dasar tidak waras, pertemuan kalian bukan karena disengaja, jadi lebih baik untuk tidak memikirkan apapun tentang dia*.


Benarkah yang ada dalam pemikiran Valesha itu?


Tak tak tak!


Suara ketukan jari-jari di atas meja kayu.


Di dalam ruangan yang gelap dan hanya mengandalkan cahaya rembulan yang menembus ke dalam ruang kamarnya.


"Heng! akhirnya ketemu juga, lihat saja nanti, akan jadi apa kau di sisiku!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2