Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Aku Harap Tidak Apa-apa


__ADS_3

Sekian lama keduanya terdiam di dalam pesawat, menikmati perjalanan yang sendu. Sepanjang perjalanan, mata Valesha tidak pernah beralih sedikitpun dari lautan awan yang sangat mempesona..


Lautan awan yang entah mengapa makin lama makin berubah menjadi kelam dan kelabut, hingga kemudian terlihatlah dari kejauhan awan gelap di seberang sana nampak sekelebat tersambar petir.


Jlger!


"A?"


Valesha terkejut. Dia jadi sangat ketakutan. Padahal ini masih siang hari, tapi mengapa cuaca sudah jadi seburuk ini?


Sebenarnya ini pergantian cuaca yang sangat aneh. Mengapa kiranya hal tersebut bisa terjadi? Tanda alam? Entahlah.


Namun ketakutan itu membuat Valesha tidak bisa lagi menatap ke luar jendela pesawat. Dia akhirnya harus menoleh dan terpaksa harus menghadap pada wajah suaminya, tentu saja sikapnya itu membuat suaminya jadi mengalihkan perhatian padanya.


"Hum? Kenapa kau?" Tanya Axelo masih agak lumayan dingin.


"Ti-tidak apa-apa," jawab Valesha gelagapan, dia bahkan memejamkan matanya dengan sangat ketakutan.


Menyadari sang istri berada dalam ketakutan dan kecemasan, Axelo malah tersenyum kecil, bahkan hampir tidak terlihat. Baginya raut muka Valesha yang tengah berada dalam ketakutan itu malah terlihat lucu dan menggemaskan.


"Kau takut?" Tanya Axelo pada sang istri.


*Sudah tahu istrimu sedang takut, malah tanya*!


Gerutu Valesha dalam benaknya, entahlah, rasanya memang kesal jika berada di posisinya dia.


Valesha tidak menjawab pertanyaan dari Axelo, entah merasa tidak penting, atau mungkin dia sudah tidak lagi peduli.


Dia hanya terlihat mengerucutkan bibirnya dengan kesal, tak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Lagipula dia juga tidak akan semudah itu minta untuk dilindungi Axelo, bukankah dia harus sedikit jual mahal terhadap pria ini?


Namun agaknya hal itu tidak berlaku pada Axelo. Dia tahu sedang diacuhkan oleh wanita ini, jadi dia tidak mau menunggu jawaban apapun dari Valesha, karena dia tahu, penantian itu hanya akan berakhir pada kekecewaan.


Dia lepas saja jas hitam yang dia kenakan, lalu tanpa berbasa-basi, segera saja dia kenakan jas hitam miliknya itu pada istrinya. Huhh! Meleleh seketika..


"Pakailah ini." Ucap Axelo dengan sangat hangat.


Namun kehangatan yang diberikan oleh Axelo itu malah membuat Valesha tertegun di tempatnya, hanya bisa memandangi wajah pria di depannya itu dengan tatapan mata penuh keraguan, seakan semua ini memang tidak nyata bagi dirinya.


"Kenapa melamun?" Tanya Axelo lagi, membuyarkan lamunan Valesha seketika, "pakai!" Ucap Axelo lagi.


Valesha hanya bisa mengalihkan pemikirannya sendiri, lalu mulai beralih mengenakan jas hitam milik suaminya. Entah apa alasan Axelo memberikan jas hitam ini padanya. Jika pria itu sudah tahu dirinya tengah ketakutan, kenapa malah memberikan jas ini untuk dia kenakan? Agaknya Axelo memang tidak pernah mengerti isi hati manusia.


Namun tak begitu lama pertanyaan itu terlintas di otak Valesh, sebelum akhirnya Axelo mulai meraih tubuhnya, dan kemudian mendekapnya dengan sangat hangat.


"Kemarilah!" Ucap Axelo dengan sangat lembut, bahkan kelembutan itu tidak pernah dia lakukan kepada siapapun, termasuk Sheilin.


Dug dug dug dug


Jantung Valesha bergemuruh tiada beraturan. Sekujur tubuhnya membeku seperti es, namun pada bagian wajahnya sudah mulai merah seperti tomat. Huhh! Agaknya dia mulai terhanyut dalam buaian mesra Axelo.


Dia tak menolak, juga tidak menghalangi Axelo, entah mengapa, padahal dia sendiri tahu pria ini tidak sehangat yang dia bayangkan, hanya saja, dia terlalu terbuai dengan keindahan yang ditawarkan oleh Axelo, hal itu bahkan telah terjadi sejak beberapa tahun silam.


Dia pun berendam dalam pelukan Axelo, bersembunyi dan memejamkan matanya dalam dada Axelo yang bergemuruh semakin gahar, dan agaknya, keringatnya pun mulai bercucuran dengan deras.


Memang selalu seperti ini saat berada di sisi Valesha. Jantungnya tidak bisa berdetak dengan stabil, darahnya berdesir dengan cepat, dan hawa panas pada tubuhnya pun mulai meningkat. Dan itu hanya terjadi pada saat dia bersama dengan Valesha.


Entah apa maunya badan, padahal dia tidak mau terus menerus seperti ini. Dia bahkan berpikir setelah menikah dia pasti akan mampu mengendalikan dirinya pada Valesha, sama halnya seperti saat dia bertahan dari godaan Sheilin itu, tapi, anehnya lagi, dia malah tidak bisa mengendalikan dirinya pada saat bersama Valesha.

__ADS_1


Padahal jika dibandingkan, tentu saja Valesha bukanlah apa-apa. Valesha selalu memuaskan dirinya dengan rasa dingin dan acuh, entah dengan birahi atau tidak, dia memang tidak tahu, tapi dia memang selalu melihat penyesalan dan kesedihan di wajah Valesha setelah memuaskan dirinya.


Berbeda dengan Sheilin yang selalu sangar di atas ranjang, gagah berani saat dia gempur meski untuk semalaman, dan bangun pagi selalu dengan wajah berbunga-bunga. Tentu saja seharusnya permainan menggelora yang disuguhkan oleh Sheilin akan sangat menggodanya, tapi, setelah dia menikmati satu malam bersama Valesha, semuanya terasa berubah.


Bak dimabuk oleh keindahan tubuh Valesha, Axelo bahkan merasa tidak lagi membutuhkan Sheilin untuk menemani malam-malam berikutnya. Karena itulah saat Sheilin kedapatan menjebak Valesh dengan seorang pria, dia jadi punya alasan untuk mengusir wanita itu dari rumahnya.


Singkat cerita, pesawat pun sudah berhasil mendarat di sebuah bandara negara R. Mereka pun tampaknya tak mau membuang lebih banyak waktu lagi. Segera saja mereka bergerak meninggalkan bandara, dan kemudian berniat untuk segera mengunjungi kediaman Tuan Fotham.


Blam!


Pintu mobil segera di tutup, tiga orang telah masuk ke dalam mobil yang telah dipersiapkan. Entah bagaimana Axelo mempersiapkan semuanya dengan sangat cepat. Dia bahkan baru mengetahui kerinduan Valesha terhadap sang ayah pagi tadi, dan dia langsung membawa sang istri datang kemari, tentu saja orang berduit selalu mudah melakukan segala-galanya.


Dan kejutan kepulangannya dari Axelo untuk dirinya itu sungguh membuat benaknya slalu bertanya-tanya, mengapa kiranya Axelo menginginkan hal ini, padahal dia sendiri tahu, Axelo pasti ingin dia tetap di rumahnya, disiksa siang dan malam tidak diperbolehkan untuk berjumpa dengan ayahnya, bukankah penjahat pada umumnya slalu bersikap demikian?


"Kenapa kamu tiba-tiba membawa aku pulang ke rumah ayahku?" Tanya Valesh dengan dingin, dia hanya melirikkan kedua matanya dengan sinis pada suaminya, "ini bukan bagian dari rencana kamu, kan?" Tanya Valesha memang tengah mencurigai perbuatan suaminya.


Mendengar kata-kata Valesha barusan, Axelo jadi terkekeh, tapi kekehannya itu sungguh sangat singkat, juga hampir tidak diketahui oleh siapapun. Agaknya pria kulkas dua puluh pintu ini memang sangat sulit untuk tersenyum.


"Ck! Aku bukan pria yang suka mengambil kesempatan." Jawab Axelo dengan singkat.


"Benarkah? Kenapa begitu? Padahal kau bisa saja membunuh ayahku di rumahnya pada saat kita bertemu nanti, bukankah itu yang kau inginkan dari keluarga kami?" Tanya Valesha, dia mengimbuhkan sedikit sindiran halus untuk Axelo.


Kali ini Axelo tidak menampilkan kekehan tampannya. Dia malah menarik garis bibirnya ke bawah, memicingkan matanya, dan kemudian mendorong Valesha hingga wanita itu tumbang tertindih oleh badannya.


"Arkh!"


Tatapan Valesha dan Axelo beradu, dengan lenguhan nafas yang saling menyatu dan saling bertubrukan satu sama lain, dan hal itu jujur saja memang membuat hati Valesh sedikit berguncang.


"Kenapa? Apa kau ingin aku membunuh ayahmu? Barulah kau akan diam, dan tidak terus berbicara mengenai urusanku?" Tanya Axelo pada istrinya, dia terlihat marah kali ini.


Melihat reaksi berlebihan dari suaminya, Valesha menjadi terdiam membisu, tidak mengeluarkan kata-kata, bahkan untuk satu patah sekalipun.


Valesha tertegun, baru kali ini dia melihat Axelo berada dalam kemarahan yang amat sangat. Kemarahan yang ditunjukkan oleh pria ini pada saat malam pertama mereka, pada saat dia berusaha kabur dan menentang Sheilin, bahkan tidak seperti ini, wajahnya, memang terlihat sangat menakutkan.


Melihat istrinya yang tidak lagi bicara dan lebih memilih untuk menjadi patung, Axelo pun tanpa ragu membangkitkan tubuhnya dari kungkungannya, dan kemudian kembali terduduk normal seperti sebelumnya.


Hal itu Valesha gunakan untuk segera bangkit dan kembali terduduk seperti semula, terdiam dan kembali menatap ke arah luar jendela.


Dia mulai merasa dirinya memang bukan jodoh Axelo. Jika sejak awal dia mencintai Axelo dengan segala kekuarangannya, maka berbeda pada saat setelah keduanya menikah, keduanya memiliki jalur pemikiran yang jauh berbeda. Lagi pun, Axelo kini telah berubah menjadi monster yang sangat mengerikan.


Ia jadi merasa sangat sedih, dia teguk saja ludahnya dengan kelu dan terasa pahit. Ia tak menyangka pernikahan yang telah dia idamkan selama bertahun-tahun lamanya, pada akhirnya harus berakhir dengan memilukan.


Citt!


Mobil direm, sekarang keduanya telah tiba di kediaman besar Tuan Fotham. Kediaman yang sangat besar dan juga mewah, dan agaknya rumah mewah ini berharga ratusan milyar.


Blam!


Valesha menutup kembali pintu mobil yang semula dia tumpangi. Dia sendiri bahkan tidak tahu siapa pemilik mobil ini, entah ini benar milik Axelo, atau mungkin Axelo memang hanya menyewanya untuk dikenakan di negara ini untuk beberapa saat.


Dia tidak menyimpulkan senyuman di bibirnya, meski sekarang kedua matanya sudah berkelana menatapi rumahnya dan sang ayah yang sangat besar dan juga megah. Entah mengapa htinya begitu takut, takut kalau-kalau dia pulang hanya akan membawa kesedihan.


"Kau tidak mau masuk?" Tanya Axelo, tentunya masih dengan wajah dinginnya.


Mendengar pertanyaan dari Axelo, seketika Valesha terbangun. Dia menghembuskan nafasnya dengan baik, lalu mencoba untuk menenangkan dirinya.


Fuhhhh!!

__ADS_1


"Aku harap kau tidak datang membawa rencana burukmu itu Axelo!"


Axelo hanya membalas perkataan Valesha dengan senyum smirk khas miliknya. Dia tidak bisa menjawabnya, karena dia memang tidak mampu menjamin semuanya.


Namun agaknya Valesha tidak perduli dengan sikap Axelo tersebut. Dia hanya mengacuhkan pria itu, dan mulailah dia berjalan menuju ke arah pintu utama rumahnya.


Sebelum dia mengetuk pintu, dia kembali menata irama jantungnya, dan juga nafasnya agar tidak terdengar memburu. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja.


*Tidak apa-apa, semuanya pasti akan baik-baik saja, Valesha*!


Ucapnya dalam benaknya, menenangkan dirinya sendiri.


Tok! tok! tok!


Dan setelah dia berhasil menata dirinya sendiri, akhirnya dia pun bisa mengetuk pintu di depannya dengan tenang.


Sementara pria yang sejak tadi bersamanya kini terlihat masih berdiri di sisi mobil, menyalakan rokoknya, dan kemudian menghisapnya dengan penuh kenikmatan, seakan dia tak punya beban apapun pada waktu itu.


Dia kemudian mengetuk pintu mobilnya, dan seketika kaca mobil bagian supir pun perlahan mulai terbuka, menampilkan satu sosok pria dengan kacamata hitamnya tampak mencoba bersiap untuk mendengarkan perkataan dari Axelo.


"Ya, Tuan?" tanya pria itu dengan lirih.


"Kau sudah siapkan semuanya?" tanya Axelo pada sopirnya itu. Rupanya dia memang tidak main-main mempersiapkan semuanya meski dalam waktu yang cukup singkat.


"Semuanya sudah siap, Tuan! sesuai dengan perkataan Tuan sebelumnya," jawab pria itu dengan datar.


"Baiklah, aku akan segera mengabari kalau sudah berhasil." Ucap Axelo sambil membuang puntung rokoknya yang bahkan masih terlihat panjang dan lumayan sangat disayangkan.


"Baik!"


Axelo tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi. Dia pun segera menyusul sang istri di depan pintu masuk kediaman Fotham, dan kemudian merangkulnya dengan mesra..


Merangkul.


Valesha sedikit terkejut, dan dia pun hanya bisa tertegun di tempat ia berdiri.


"Um?"


"Berusahalah untuk tidak gugup, kau kan memang istriku, istri kesayangan Tuan Axelo Devandra Wicaksono." Ucap Axelo sedikit menyertakan nada penekanan, dan hal itu telah berhasil membuat bulu kuduk Valesha seketika mulai terasa meremang.


Namun wanita itu hanya diam saja. Tidak menoleh, apalagi berbicara satu atau dua patah kata untuk sekedar menyahut ucapan pria itu. Ucapan seorang pria yang tidak penting baginya. Ya, tidak penting.


Cklek!


Mendadak pintu terbuka dengan lebar, memunculkan sosok pria yang terlihat menebarkan senyuman di bibirnya meski kedua kakinya telah lumpuh, dan dia bahkan harus terduduk diam di atas kursi roda.


"Selamat datang anakku dan menantuku, selamat datang." Ucap Tuan Wishnu Fotham dengan rasa bahagianya.


Dia bahkan membuka lebar-lebar kedua tangannya, seakan menyiratkan pada Valesha dan Axelo kalau kedatangan mereka berdua benar-benar disambut hangat oleh Wishnu Fotham.


Valesh tidak membalas senyuman sang ayah. Dia hanya lekas tergerak, memeluk sang ayah, dan kemudian mendiamkan wajahnya dalam pelukan ayahnya itu, "ayah, apa kau baik-baik saja?" tanya Valesha langsung pada sang ayah, agaknya dia tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya pada ayahnya itu.


"Apa yang sedang kau katakan? tentu saja aku sangat baik, lihatlah, aku bahkan merasa sangat segar," jawab Wishnu dengan senyum lebarnya. Dia terlihat lebih ceria dibanding hari biasanya, ya, itu sekitar satu bulan yang lalu.


*Ayah, kau terlihat berbeda, aku tidak pernah melihat kamu yang sebahagia ini, apa yang sebenarnya tengah kau sembunyikan dariku*?


Valesha pun merasakan keanehan pada ayahnya itu, tapi entahlah, agaknya dia juga tidak akan mampu menanyakannya untuk sekarang ini. Lebih baik jangan mengacaukan kebahagiaan ayahnya ini, dia harus menjaga ayahnya dengan sangat baik.

__ADS_1


Ia pun melepas pelukan ayahnya, dan kembali berdiri di samping Axelo.


"Selamat siang ayah mertua!" sapa Axelo dengan senyuman yang sedikit terlukis di bibirnya, namun senyuman itu, lebih terlihat menakutkan.


__ADS_2