Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Istriku Dihukum Kekasihku


__ADS_3

Tes!



Tes!



Tes!


Air mata menitih, saat mimpi buruk tentang masa lalu keluarganya mendadak diputar kembali di dalam otaknya, membuat rasa ngilu itu kembali hadir dan merontokkan lubuk hati terdalamnya.


Ia masih memejamkan kedua matanya, tapi hatinya telah menjerit pedih penuh kesadaran.


Kedua tangannya ingin sekali memberontak, tapi sayang sekali ia tak akan bisa melakukannya. Ia malah terbaring koma di atas ranjang rumah sakit yang menakutkan.


Operasi kemarin berjalan lancar, tapi seperti biasa, setelah operasi dia hanya harus terbaring sakit dan tidak sadarkan diri di atas ranjang pasien.


Ia sudah hapal betul apa yang akan terjadi padanya, mengingat bukan hanya sekali ini dia mendapat luka parah. Dulu sekali, dia juga sempat terkena tembakan, bahkan jauh lebih parah, hingga harus mengalami pergeseran tulang rusuknya, dan beberapa luka pada organ dalam yang lainnya pula.


Jika pada orang lain hal itu akan menjadi akhir dalam hidupnya, maka berbeda dengan dirinya yang masih tetap bertahan hidup sampai sekarang, bukankah dia termasuk pria ajaib?


Dan sekarang luka itu kembali menggores jantungnya, tidak terlalu parah, hanya membuat sedikit goresan saja, tapi rasanya amatlah pedih, sepedih saat luka bernanah yang ditabur oleh garam.


Huhh!


Tidak bisa dibayangkan betapa sakit terasa.


Matanya perlahan mulai terbuka, menatapi langit-langit rumah sakit dan kemudian menatap lampu yang menyala dengan sangat terang.


"Ugh."


Gubrak!


Gubrak!


Gubrak!

__ADS_1


Seketika Sheilin beranjak dari duduknya dan langsung bergegas mendekati kekasihnya.


"Sayang, kamu sudah bangun? Sudah dua hari kamu koma, aku sangat mencemaskan dirimu," ia bahkan sampai menitihkan air mata buayanya di depan Axelo, sesungguhnya dia terlalu berlebihan menanggapi Axelo yang bangun, "wanita itu memang sudah gila! Bisa-bisanya dia menembak kamu, hingga membuat kamu jadi seperti ini, awas saja, aku akan buat dia mendapat hukuman yang lebih berat lagi!" Umpat Sheilin dengan sangat cerewet, dia bahkan lupa kalau kekasihnya baru saja sadar, mungkin saja Axelo masih belum mendengar perkataan darinya secara lengkap.


"Ssshhh!" Benar saja dia masih tidak peduli dengan ucapan Sheilin di sampingnya, "Ashkan!? Dimana kamu!?" Teriaknya tanpa mengarahkan pandangannya ke wajah Sheilin.


"Kenapa sayang? Kenapa kau mencari Ashkan? Dia sedang pulang, aku tahu dia juga sangat mencemaskan dirimu, tapi aku tidak bisa mengganggu anak itu, dia pasti akan langsung marah padaku kalau mencoba menghubungi dirinya." Jawab Sheilin lagi-lagi masih dalam zona banyak bicara.


"Aku ingin ketenangan," ucap Axelo seketika membuat Sheilin terdiam.


"Pergilah dari sini, aku mau sendiri!" Ucap Axelo pada Sheilin masih tidak mau menghadap ke arah wanita itu.


"Apa? Apa yang kau maksud? Apa kau sedang berusaha untuk mengusirku?" Tanya Sheilin agak marah.


"Ya! Pergilah dengan cepat, aku tidak mau ada keributan!"


Mendengar perkataan Axelo barusan, Sheilin jadi semakin marah. Ia yang semakin dibuat kesal dengan penolakan Axelo, dan kali ini dia juga harus mendapat perlakuan seperti ini?


"Apa apaan ini? Jangan begitu sayang, aku juga masih mencemaskan dirimu, biarlah aku di sini untuk merawat kamu, boleh, ya?" Tanya Sheilin dengan sangat memohon.


"Pulanglah! Aku sedang tidak mau diganggu oleh siapapun!" Ucap Axelo dengan keras.


"Jahat sekali kau Axelo," ucap Sheilin dengan kesal, ia bahkan sampai membangkitkan tubuhnya karena tersulut emosi yang semakin membara, "aku bahkan melakukan semuanya untuk kamu, aku sudah memberi hukuman pada wanita itu, dan aku pula yang sudah menunggu kamu semalaman di sini, tapi kamu berterima kasih saja tidak!" Ucap wanita itu tak sengaja membongkar kedoknya sendiri.


"Apa?" Dia nampak terkejut, "kau menghukumnya?" Tanya Axelo pada Sheilin merasa penasaran apa yang sedang dimaksud oleh Sheilin.


Wanita di depan Axelo itu hanya nampak gelagapan tak tahu harus menjawab apa. Ia bahkan terdiam untuk beberapa saat, tertegun dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Axelo barusan.


"Apa kau menghukumnya? Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Axelo dengan tajam ke arah Sheilin.


"Axelo, aku hanya tidak mengizinkan para pelayan untuk memberinya makan sebelum kau terbangun dan pulang dari rumah sakit, aku rasa itu sepadan dengan apa yang dia lakukan padamu, aku tidak salah bukan?" Tanya Sheilin pada kekasihnya itu.


Namun sang kekasih agaknya menjadi sangat pemarah. Ia bahkan nampak terbangun dan meraih ponsel miliknya yang berada di atas nakas dan kemudian lekas menghubungi adik kandungnya di seberang.


Bip!


"Apa kau sudah ada di rumah?" tanya Axelo sesaat setelah penggilan darinya berhasil diangkat oleh sang adik.

__ADS_1


"*Ya, aku sudah di rumah, bagaimana kau tahu? apa kau baru saja sadar*?" tanya pria di seberang dengan nada datar, tanpa ekspresi atau penekanan.


"Ya, aku sudah bangun, aku dengar ada seorang wanita yang menghukum istri sahku, apa kau bisa melihat keadaannya lebih dulu?" tanya Axelo pada Ashkan.


"*Dua puluh enam tahun aku hidup denganmu, dan kau masih saja tidak percaya padaku*?!"


*Blam*!!


"*Keluar saja sana! dasar pengacau! kalian sedang menghukum aku, kenapa sekarang mendadak baik? apa kalian sudah sadar dari pemikiran buruk kalian*?!"


Di seberang Ashkan hanya bisa meringis tak bisa menahan kekacauan yang dilakukan oleh wanita gila itu.


"*Hihi.. kau dengar? dia bahkan jauh lebih ganas darimu, aku tidak yakin apa aku bisa menghadapi dirinya, dia terlalu keras kepala*!"


Huhh!


Axelo mengusap dahinya yang tidak terasa lara sama sekali. Dia hanya merasa kasihan pada Ashkan yang harus menghadapi sikap tidak waras yang dilakukan oleh istri sahnya itu.


"Baiklah, bilang padanya dia harus makan, atau aku akan menghukumnya jauh lebih menakutkan!" ucap Axelo sedikit mengancam dan memberi peringatan pada Valesha.


Ia melakukannya, karena dia juga tidak bisa kehilangan gadis itu sebelum waktunya tiba. Sebelum gadis itu hancur ditangannya, bukankah lebih baik jika dia menghancurkan keluarganya melalui Valesha?


Bip!


Panggilan dia akhiri, hingga kemudian dia kembali menatap ke sisi kanannya. Rupanya Sheilin masih berdiri dengan kokoh di tempat yang sama.


"Um? kau masih ada di sini?" tanya Axelo dengan wajah dinginnya.


"Sayang, ada apa denganmu? dulu kau selalu perhatian padaku, kau tidak pernah mengusirku dari sisimu, tapi sekarang, kau malah mengusirku dan secara mendadak mencemaskan wanita itu? apa kau sedang bercanda denganku, Axelo?" tanya Sheilin pada Axelo dengan wajah menyedihkan.


"Seharusnya kau tahu mana yang lebih tinggi kedudukannya antara istri sah dengan kekasih gelap, minimal sadar diri, kalau istri sah selalu mendapat julukan nyonya dibanding kekasih gelap, seharusnya kau paham maksud ucapanku, bukan?"


"Apa?!"


*Apa yang dimaksud oleh Axelo? sial! posisiku sekarang makin terancam! aku harus mencari cara lain untuk tetap berada di sisinya*!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2