Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Pria Itu


__ADS_3

Dia tampak berjalan dengan manis dan sangat anggun di bandara. Dengan rok mini sebatas paha, yang kemudian dia padu padankan dengan kaus singlet berwarna putih, dengan corak anime di bagian depannya.


Rambutnya sengaja dia kuncir kuda, dengan panjang sampai hampir ke pinggulnya, bibirnya yang berwarna peach dengan sentuhan Kilauan manis semakin membuat penampilan dia terlihat lebih manis.


Dia mengenakan kacamata hitamnya, dengan menenteng tas kecil yang hanya berisikan satu dompet dan satu ponsel miliknya.


Ia makin terlihat anggun manakala berjalan dengan kedua kaki jenjang yang dia miliki, berjalan dengan penuh percaya diri.


Puluhan pasang mata mengarah kepadanya, memberi sorotan kekaguman dan dibuat ternganga kala mendapati sosok Valesha yang melalui barisan jalanan mereka..


Sekarang wanita itu sudah menjadi pusat perhatian, dengan kulitnya yang bening seperti baru selesai dibenamkan di dalam kolam susu, bak Kilauan permata yang menyilaukan setiap mata yang menatapnya.


Namun dia tak tenggelam dengan ribuan tatapan dari orang-orang di sekitarnya. Ia hanya terlihat terus melangkah ke depan, dan fokus pada tujuan awal, mencari dimana kiranya sang sahabat berada.


Lagipula tujuan dia datang kemari bukan hanya untuk sekedar bermain-main, sahabat baiknya itu pasti tengah lelah karena menunggu dia sekian lama.


Itu dugaan awal Valesha, sampai akhirnya dia kemudian mendapati satu sosok yang tak asing lagi di kedua matanya.


Sosok gadis berambut pirang dengan satu kap kopi di atas meja, dan seorang pria muda di depannya.


"Hahh! dasar si centil!"


Gumam Valesha mendapati sosok sahabat baiknya itu malah sedang asik bercengkerama dengan seorang pria muda.


Valesha lekas melepas kacamata hitam yang sedari tadi terpasang di depan kedua matanya, dan kemudian menyelipkannya di kerah kaus putih yang dia kenakan.


Tanpa berbasa-basi lagi, Valesha segera melangkah mendekati gadis yang tengah terduduk di sebuah kursi.


"Aku tahu, aku akan menghubungi kamu lain kali, aku akan menghubungi kalau aku memerlukannya."


Ucap Geshka terdengar samar-samar di telinga awas milik Valesha.


Hum! anak ini, sedang berbicara apa? memerlukan apa?


Tak lama dia menyibukkan diri dengan pertanyaan di dalam benaknya, sampai akhirnya dia mendapati Geshka yang menoleh ke arahnya.


"Hey, Valesh, kau sudah datang rupanya?" tanya Geshka dengan wajah cerianya.

__ADS_1


Gadis itu terlihat bangkit dari kursinya, mengabaikan kopi dan pria muda di sana, dan beralih memeluk Valesha tanpa rasa bersalah.


"Aku rindu kamu, aku juga rindu bau tubuhmu." Ucap Geshka seperti biasa, konyol.


"Dasar kau! aku bahkan sedang merasa cemas karena aku pikir kau menungguku seorang diri dengan kesepian, tapi rupanya kau malah berbincang dengan seorang pria? apa kau sudah melupakan idola kamu itu?" tanya Valesha meledek pada sahabat karibnya.


Dia melirik sedikit ke arah pria yang terduduk di atas kursi, dan kemudian menatapi pria itu dari atas sampai bawah.


Tatapan ledekannya yang semula dia tampakkan di depan wajah Geshka mendadak mulai berubah penuh kecurigaan.


Hum, ada yang aneh dengan pria ini.


Gumamnya dalam hati, berbisik mengenai perasaannya pada sosok pria yang dia tatap dengan kedua matanya.


Pria yang terduduk dengan santai, mengenakan kemeja merah maroon, dengan potongan rambut yang berwarna senada, entah mengapa pria itu kelihatan aneh bagi Valesha.


Ah! Tak tahu lah, mungkin hanya perasaan Valesha saja.


Segera saja Valesha membuang jauh-jauh perasaan di dalam hatinya tentang pria tersebut, dan mulai kembali pada sang sahabat baik.


"Hei, jangan mencoba untuk menggoda dia, kau sudah punya suami, kaya pula, jangan mencoba untuk bermain api dengan pria lain, asal kau tahu saja, aku mendadak lupa dengan Victor setelah bertemu dengan pria ini." Bisik Geshka tepat di telinga kiri Valesha, membuat Valesha seketika tertawa terbahak-bahak.


Buahahahaha..


Geshka hanya terdiam membisu disertai rasa bingung saat dia melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Valesha padanya justru diluar ekspektasi nya.


"Kenapa kamu malah tertawa? apa aku sedang melucu?" tanya Geshka, tentu saja dengan wajah polosnya yang semakin membuat dirinya bertambah menggemaskan.


"Huahahahaha.."


Valesha tak bisa berhenti tertawa, hanya terus tertawa dan mengabaikan pertanyaan dari sahabat karibnya itu, hingga kemudian ketawanya yang terlampaui puas itu mulai mendapat perhatian dari seseorang.


"Kau ini! apa kau tidak merasa malu tertawa sampai seperti itu di depan umum?" tanya Geshka mulai merasa kesal pada satu orang gila ini.


Entah orang ini yang gila, atau dirinya yang gila, dia bahkan tak tahu siapa yang gila.


Tampak seorang pria mulai memicingkan kedua matanya, melirik ke arah Valesha dengan tatapan mautnya, dan mulai memperhatikan wajah Valesha yang apa adanya dengan sikap yang normal.

__ADS_1


Entah mengapa dia bahkan menyiratkan senyuman. Apa mungkin dia juga menaruh kekaguman dengan sosok yang satu ini?


Hemm, dia cantik sekali, baru kali ini aku melihat gadis cantik yang tidak malu memperlihatkan ketawa puasnya di hadapan umum, biasanya yang aku lihat hanyalah sok anggun dan manis, benar-benar apa adanya.


"Kau ini! lagi dan lagi buat aku ketawa sampai tidak bisa berhenti.. ha.. ha.. ha.."


Dia benar-benar tidak bisa berhenti tertawa. Padahal jika kembali mengutip perkataan yang Geshka katakan sebelum terjadinya tragedi ketawa tidak mau berhenti dari Valesha, tentu saja kata-kata Geshka itu tak cukup untuk mengocok perut seseorang.


Entah mengapa Valesha bahkan tidak bisa berhenti tertawa hanya karena mendengar perkataan tersebut.


"Aku malu punya sahabat seperti kamu." Gumam Geshka sembari menepuk jidatnya.


"Ehem."


Namun suara tawa terbahak-bahak yang terjadi pada Valesha secara mendadak berhenti terdengar, saat seseorang terdengar mengeluarkan suara beratnya, hingga membuat Valesha dan Geshka seketika menoleh ke arah suara tersebut.


Keduanya sempat tertegun, sampai akhirnya Geshka menyadari pria muda tadi tengah berdiri di sampingnya dan tersenyum pula ke arah mereka berdua, ouh, lebih tepatnya ke arah Valesha.


"Hallo, nona, kita belum sempat berkenalan." Ucap pria teman baru Geshka itu pada Valesha sembari tersenyum seribu arti.


Namun Valesha masih saja terdiam membisu. Dia tak bergerak dari tempat berdirinya, atau pun mengalihkan pandangan matanya ke arah yang lain. Dia benar-benar mematung mendapati pria ini tersenyum kepada dirinya.


Bukan karena tampan, bukan juga karena keramah tamahannya, Valesha justru tertegun karena pria ini tanpa rasa malu mendekatinya, seolah tak punya lagi yang namanya harga diri.


"Jangan bengong, namaku Deiv, boleh tahu siapa nama kamu?"


Dia bahkan menanyakan nama pada Valesha tanpa peduli wajah Valesha yang masih saja memasang raut muka ketidaksukaannya.


"Kau bengong lagi, ck, aku hanya bertanya namamu, apa kau akan gugup hanya karena aku tanya siapa nama kamu?" tanya pria yang mengaku namanya sebagai Deiv itu.


Plak!


Namun mendadak seseorang menepis uluran tangan Deiv, dan kemudian merengkuh tubuh Valesha dengan cepat.


Semua orang terkejut, tak terkecuali Valesha.


"Dia bukan gugup, dia tahu dimana letak harga dirinya."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2