Valesha, Penyesalan Terdalam

Valesha, Penyesalan Terdalam
#Kedatangan Malaikat Penolong


__ADS_3

Brak!


Mendadak pintu kamar terbuka dengan lebar, menampilkan sosok pria tinggi tegap dengan jas hitam sepanjang lutut yang dia kenakan, jangan lupakan pula sepatunya yang hitam mengkilat itu.


Dia berjalan diiringi oleh sang adik kandungnya, berjalan dengan gagah berani, meskipun rasa sakit akibat operasi itu masih ada, tapi dia bukanlah pria lemah yang akan kalah hanya karena rasa sakit yang dia derita.


"Axelo?" Panggil Sheilin dengan tatapannya yang tajam, seakan dia benar-benar tidak percaya kalau sang kekasih benar-benar ada di sini.


Baru sekitar sejam yang lalu dia tinggalkan rumah sakit, itu pun karena dia tahu Nyonya Armei sedang mendatangi rumah Axelo hanya untuk memberi Valesha pelajaran akan semua perbuatannya, mengapa sekarang pria itu mendadak hadir di tengah-tengah mereka? Dengan kaki yang sudah waras dan kembali seperti semula juga?


Tak hanya Sheilin yang merasa terkejut dengan kehadiran Axelo, agaknya Armei dan beberapa anak buahnya di sana pun dia buat terkejut. Mengapa anak ini secepat itu pulihnya?


"Axelo? Kau sudah pulang?" Tanya Armei dengan lembut, dia benar-benar wanita buaya, yang bisa beralih muka dalam secepat kilat.


Axelo tidak menggubris kekasihnya atau pun ibundanya, yang dia lihat dengan tatapan fokusnya hanyalah Valesha yang terkulai lemas dengan rambut yang masih terjangkau oleh salah satu anak buah Nyonya Armei. Dia tak peduli pada siapapun, ia hanya terus berjalan mendekat, dan kemudian berhenti di depan sang ibunda.


"Lepaskan dia ibu." Ucapnya pada mulanya terdengar lirih.


Sang ibu yang dibuat terkejut pun terdiam di tempatnya, tak tahu harus bicara apa. Agaknya ucapan yang keluar dari mulut sang anak benar-benar menimpa hatinya sampai remuk.


"Menyingkirlah, biar aku saja yang melepaskan dia." Ucap Axelo sambil berjalan mendekat ke arah Valesha.


Namun belum sampai juga dia pada sang istri, sang ibu buru-buru mencegat langkah kakinya, menghadangnya dan memberi dia peringatan pada anaknya itu.

__ADS_1


"Jangan lakukan apapun, biarkan ibu juga melampiaskannya pada anak itu, ibu ingin melampiaskan dendam ayah kamu." Ucap Nyonya Armei sembari menatap kedua mata anaknya.


"Dia ayahku, tapi dia bukan suami kamu, dan aku bisa memastikannya kalau kau juga pernah berkhianat bersama pria lain, kau tidak punya hak apapun di sini, jadi menyingkirlah, biar aku bisa menggapai istriku." Ucap Axelo tatapannya pada sang ibu entah mengapa menjadi sangat tajam.


"Axelo, jaga bicara kamu!" Ucap Armei kembali menghadang Axelo.


"Urusan kita aku selesaikan nanti," ucap Axelo sambil menatap anak buah Armei yang menjambak rambut Valesha, membuat pria bertubuh kekar itu sedikit merasa ketakutan, dia bahkan mengeluarkan keringat dinginnya di hadapan Axelo dan semua orang.


"Aku akan mengurus bajing sialan ini!"


Bukkk!


"Arkh!"


Dengan segera Axelo pun mengangkat tubuh mungil istrinya, dan kemudian membawa wanita itu menuju ke arah kamarnya, meninggalkan Nyonya Armei dan Ashkan beserta Sheilin di sana dengan tertegun.


Blam!


Pintu dia banting, lalu sekarang di kamar Axelo, hanya ada dirinya dan Valesha di sana. Wajah Valesha yang berdarah-darah, dengan air mata yang masih ada di pipinya.


Axelo membaringkan istrinya di atas kasur, lalu kemudian menatap Valesha dengan sangat dekat, juga sangat hangat.


Cup!

__ADS_1


Plak!


Satu kecupan mendarat di kening Valesha, tapi langsung saja disahut dengan satu tamparan keras oleh Valesha di pipi pria itu, membuat Axelo hanya bisa memalingkan wajahnya menjauh dari tatapan Valesha.


"Kenapa kau datang? Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja di tangan ibu kamu? Apa kamu belum puas melihat ayahku yang lumpuh, dan aku yang tersiksa di rumah kamu ini? Dasar iblis!"


Hap!


Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Valesha barusan membuat Axelo tidak bisa menahannya, kecuali menyatukan bibir keduanya, lalu perlahan menghisap darah yang terus keluar dari bibir Valesha itu dengan penuh kenikmatan.


Ia bak vampir yang kehausan, dan agaknya, darah yang mengucur di bibir sang istri telah menggoyahkan imannya.


Namun istrinya bukanlah wanita bodoh. Dia tak bisa terbuai dalam kehangatan palsu yang ditawarkan oleh Axelo padanya. Dia tahu perlakuan lembut dari seorang Axelo hanyalah palsu.


Wanita itu menggigit bibir Axelo, demi untuk menyingkirkan pria itu dari bibirnya. Ia melihat sendiri Axelo yang mundur, kemudian terlihat pula bibir suaminya yang juga berdarah akibat gigitan darinya yang sangat keras.


Jujur saja dia merasa kasihan, bukan dia bermaksud untuk menyakiti, karena dia sendiri tahu, Axelo bukanlah seorang pria yang mudah terluka, tapi kali ini, apa dia benar-benar sangat kejam?


Bangunlah dia dari tidurnya, lalu duduklah dia dengan tegak menghadap sang suami, tentunya dengan perasaan kacau yang tidak bisa dia mengerti sama sekali.


"Apa itu sakit?" Tanya Valesha pada suaminya, dengan nada judes dan dingin.


Meski begitu, tampak jelas pada wajahnya yang juga cemas dan peduli. Hanya saja, dia berusaha untuk menyembunyikan perasaan cemasnya itu sebisa mungkin, mungkinkah dia bisa menyembunyikannya tanpa diketahui oleh Axelo? entahlah, Axelo selalu bisa mencari celah pada setiap hal yang disembunyikan oleh lawan bicaranya, rasanya itu benar-benar sangat menyulitkan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2