
Vroooooommmmmm
Ia tampak melajukan mobil dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke tempat dimana seharusnya dia dan Axelo berhasil menyekap Sheilin dan membuat berantakan kubu lawan.
Tapi wajahnya nampak murka. Kebodohan yang semula tidak pernah dia harapkan ada rupanya sekarang hadir dan malah membuat dirinya menyalahi diri sendiri.
Ya, begitu bodohnya dia yang sampai tidak tahu dan tidak pula menyadari kalau semua ini, mungkin saja adalah jebakan. Lalu, apakah dia harus juga merasa peduli? bukankah ini semua juga Axelo yang menginginkannya? dia bahkan hanya mengikuti permainan sang kakak, tapi rupanya, dia hanya bisa mengeluh akan jebakan yang sama sekali tidak dia atau pun kakaknya sadari.
"Sial! bagaimana ini bisa terjadi? kenapa aku dan kakak sangat bodoh, sampai tidak menyadari betapa mudahnya mereka menjebak kami dalam permainan kami sendiri?"
Gumam Ashkan sambil terus menyetir mobil, berusaha untuk mendekat ke arah dimana gedung kosong itu berada. Sejengkal lagi dia memang akan tiba di gedung kosong tersebut.
Citttt
Sesampainya dia di sana, tampak Oaklard yang menyalakan lampu flash ponselnya, memberitahu dimana letaknya berada.
Ashkan pun bergegas menghampiri Oaklard, dan kemudian merengkuh tubuh Oaklard dengan hati-hati.
__ADS_1
"Tuan, terima kasih sudah datang," ucap Oaklard sambil menahan rasa sakit di dadanya.
Darah mengucur pada sekujur tubuhnya, membuat jas hitam pekat yang dia kenakan pada saat itu nampak basah oleh darah yang terus mengalir dari beberapa luka di tubuhnya.
"Kau terluka terlalu parah, apa dia menembak kamu? atau dia menyayatkan pisau ke tubuh kamu?" tanya Ashkan sambil mencoba membangkitkan Oaklard dengan sangat hati-hati.
"Dua-duanya, luka sayat, juga luka tembak, keduanya," ucap Oaklard dengan lemah.
Uhukk!!
Tak lama berselang, dia kemudian batuk, dan setelah itu, terlihat darah mulai keluar dari area mulutnya.
"Kau sangat lemah, bagaimana kita bisa ke rumah sakit kalau hanya berdua? apa tidak ada yang lain yang selamat selain kamu?" tanya Ashkan pada Oaklard.
"Hahh.. ti-tidak, tidak ada, Tuan."
Jawab Oaklard terbata-bata. Sepertinya dia benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Baiklah, aku mohon bertahanlah, aku akan menjamin keselamatan untukmu!"
Diangkat tubuh Oaklard oleh Ashkan, dan kemudian dititah saja kedua pasang kaki Oaklard yang lemah, berjalan dengan terseok-seok menuju ke arah dimana Ashkan memarkirkan mobil.
Sepanjang langkah kaki keduanya, bahkan terlihat darah Oaklard berceceran membuat noda di sepanjang jalan yang mereka lalui sampai ke dalam mobil.
Hingga akhirnya sekarang terlihat Oaklard dimasukkan ke dalam mobil oleh Ashkan, dan setelah itu, Ashkan pun lekas duduk di jok depan.
Vroooooommmmmm
Beberapa saat setelah itu, mobil pun tampak melaju dengan sangat kencang kembali menuju ke arah rumah sakit.
Sekarang bahkan tragedi jauh lebih mengerikan dari apa yang dibayangkan oleh Axelo dan Ashkan.
Rencana yang pada mulanya mereka pikir akan berbuah keberhasilan dan kesuksesan, nyatanya pada akhirnya hanya menjadi tragedi yang mengerikan dan juga sangatlah menakutkan.
Lalu mengapa semua ini bisa terjadi? padahal Axelo dan Ashkan telah merencanakan semua ini cukup matang? tapi kenapa mereka malah hanya mendapat sialnya saja? apa sebelum rencana ini dijalankan, Sheilin dan rombongannya sudah tahu dan mencoba untuk memanfaatkan rencana ini sebagai jebakan?
__ADS_1
Entahlah, semuanya terlalu rumit untuk ditelisik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...